Cryptoharian – Sebuah laporan prospektif dari Rusia memasukkan potensi kejatuhan pasar kripto sebagai salah satu peristiwa black swan yang dapat mengguncang ekonomi dunia tahun ini. Para penyusun laporan menilai, bila skenario itu terjadi, dampaknya berpotensi menyerupai krisis utang zona euro, dimana akan terjadi penekanan pasar lain, meningkatnya ketidakpastian dan memicu gelombang risk-off secara luas.
Penilaian tersebut datang dari Roscongress Foundation, lembaga pengembangan yang dikenal sebagai penyelenggara sejumlah forum ekonomi besar Rusia, termasuk St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF).
Dalam dokumen bertajuk “Key Events 2026. Geoeconomics. Forecast. Main Risks”, Recongress menyebut crash kripto sebagai kandidat black swan yang saat ini dinilai tidak paling mungkin, tetapi tetap layak masuk daftar resiko karena meningkatnya keterkaitan aset digital dengan sistem keuangan.
Dalam komentarnya, Roscongress menilai bahwa integrasi Bitcoin yang makin luas, terutama melalui arus masuk investor institusional, membuat pasar kripto tidak lagi berdiri terpisah. Karena itu, jika terjadi kejatuhan besar, tekanan dapat merambat dan menjadi lebih sulit diredam oleh regulator maupun otoritas moneter.
Meski demikian, lembaga itu juga mencatat bahwa proyeksi untuk Bitcoin, sebagai kripto terbesar, masih menunjukkan kecenderungan bullish dengan dukungan dari meningkatnya partisipasi institusional, dan kemungkinan suku bunga yang lebih rendah.
Selain skenario crash kripto, laporan Roscongress juga menempatkan beberapa kejadian geopolitik dan keuangan lain sebagai kandidat “black swan”. Di antaranya mencakup potensi krisis utang negara di kawasan euro, eskalasi besar terkait Taiwan, hingga risiko “tanker war” yang dapat mengganggu rantai pasok dan perdagangan global.
Baca Juga: Investor Siap-Siap, 72 Jam ke Depan Pasar Kripto Diselimuti Agenda Panas
Roscongress menekankan bahwa meski sebagian skenario tersebut dianggap kecil kemungkinannya dalam waktu dekat, konsekuensinya akan signifikan bila benar-benar terjadi.
Untuk Eropa, laporan itu menyoroti bahwa kegagalan kebijakan stimulus di Jerman, ditambah kebuntuan politik di Prancis dapat mendorong arus modal keluar dari Uni Eropa dan menaikkan premi resiko, terutama ketika beban utang publik sudah menjadi sumber kekhawatiran tersendiri di benua tersebut.
Roscongress juga mengangkat satu isu kebijakan dari Amerika Serikat dengan mengutip studi sebelumnya, yakni upaya untuk menarik investor baru ke pasar surat utang pemerintah melalui GENIUS Act, yang disebut mewajibkan penerbit stablecoin dolar menahan obligasi pemerintah Amerika sebagai cadangan.
Menurut Roscongress, strategi macam itu berangkat dari gagasan bahwa sebagian investor yang biasanya menghindari Treasury karena kekhawatiran kontrol pemerintah, justru lebih bersedia masuk lewat instrumen kripto.
Di bagian penutup, para analis Rusia tersebut memperkirakan ekonomi dunia pada 2026 cenderung mengalami turbulensi yang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Kendati demikian, mereka juga tetap mengakui bahwa laju pertumbuhan global kemungkinan berada di antara yang paling rendah sejak krisis finansial 2008 lalu. Dalam kerangka itu, pasar kripto dinilai semakin relevan, lantara bukan hanya sebagai aset spekulatif, namun juga sebagai variabel yang dapat memperbesar atau mempercepat guncangan saat resiko sistemik muncul.

