Cryptoharian – Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam dalam 24 jam terakhir dan sempat menyentuh area US$ 60.000 di tengah tekanan jual yang semakin cepat. RitCryptoharian – Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam dalam 24 jam terakhir dan sempat menyentuh area US$ 60.000 di tengah tekanan jual yang semakin cepat. Rit

Harga Bitcoin Terpukul Tajam, Data On-chain Ungkap Lonjakan Jual Rugi

2026/02/07 15:19
durasi baca 4 menit

Cryptoharian – Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam dalam 24 jam terakhir dan sempat menyentuh area US$ 60.000 di tengah tekanan jual yang semakin cepat. Ritmenya mengingatkan sebagian pelaku pasar pada fase-fase krisis besar sebelumnya. Meski kemudian memantul dan pulih ke sekitar US$ 69.800 pada saat penulisan, struktur kerusakannya sudah terlanjur memaksa pasar bertanya apakah sebenarnya yang jadi pemicu.

Di media sosial, jawaban datang lebih cepat daripada data. Platform X dipenuhi teori, mulai dari rumor fund Hong Kong yang meledak, stres pendanaan yen, hingga kekhawatiran soal keamanan kriptografi.

Masalahnya, narasi-narasi seperti itu sulit diverifikasi saat kejadian masih berlangsung, dan sejauh ini tidak ada bukti publik yang cukup kuat untuk menjelaskan besarnya pergerakan hanya dengan satu ‘smoking gun’. Pola seperti ini sebenarnya jamak di kripto, ketika harga jatuh cepat, terjadi kekosongan penjelasan, lalu internet berlomba mengisinya.

Jika ditarik ke indikator yang lebih terstruktur, gambaran yang muncul terlihat jauh lebih ‘teknis’ dan kurang dramatis, namun justru lebih masuk akal. Tekanan paling jelas datang dari kombinasi arus keluar ETF spot Bitcoin di Amerika, likuidasi leverage yang memicu efek domino, serta pergerakan koin dari pemegang besar menuju bursa pada saat likuiditas menipis. Begitu satu level kunci patah, pasar tidak bergerak karena keyakinan, tetapi karena sistem menutup resiko secara otomatis.

Salah satu titik beratnya ada pada ETF. Setelah pasar terbiasa dengan kehadiran pembeli besar yang relatif ‘tidak sensitif harga’, periode arus keluar berkepanjangan mengubah wajah permintaan.

Ketika outflow terjadi terus-menerus, pantulan jadi lebih mudah patah dan kedalaman order book cepat menipis di momen genting. Di kondisi seperti itu, penurunan yang awalnya terasa ‘wajar’ bisa berubah menjadi jatuh bebas saat stop dan margin call mulai beruntun.

Dari sisi derivatif, ketika harga menembus area-area support, mesin likuidasi mengambil alih. Likuidasi leverage membuat aksi jual menjadi mekanis, yakni posisi paksa ditutup, bukan diputuskan. Di pasar yang likuiditasnya menipis, arus paksa seperti ini bisa mendominasi price discovery, membuat pergerakan terlihat seolah ada ‘informasi rahasia’, padahal sering kali hanya efek dari resiko yang ditutup serentak.

Baca Juga: Aksi Beli Tren Bullish, Harga Uang Kripto Ethereum Melonjak 11%

Data on-chain memperkuat kesan kapitulasi. Metrik kerugian terealisasi melonjak, menandakan banyak koin benar-benar dijual dalam kondisi rugi. Pada saat yang sama, indikator yang memantau aktivitas pemegang besar menunjukkan porsi deposit besar ke bursa meningkat.

Ini bukan bukti otomatis bahwa semua koin langsung dijual, deposit bisa berarti banyak hal, termasuk kebutuhan kolateral atau lindung nilai, tetapi terjadi di tengah kepanikan dan likuidasi, sinyal ‘potensi suplai’ saja sudah cukup menekan psikologi pasar.

Ketika harga spot terjun, jarak Bitcoin terhadap ‘patokan’ on-chain juga melebar. Sejumlah model biaya rata-rata dan nilai wajar on-chain berada jauh di atas harga pasar pada puncak penurunan, menggambarkan seberapa dalam harga jatuh dibanding basis biaya kelompok investor tertentu.

Dalam bahasa sederhana, banyak kelompok pembeli, termasuk yang masuk lewat jalur institusional, kembali berada dalam posisi tidak nyaman sehingga dorongan untuk ‘menambah’ tidak otomatis muncul.

Di atas semua itu, faktor makro ikut memperketat ruang gerak. Bitcoin semakin sering diperlakukan sebagai aset risk-on yang sensitif likuiditas, sehingga saat pasar global masuk mode defensif, kripto ikut terseret. Bahkan ketika aset lain seperti komoditas juga bergejolak, itu memberi sinyal bahwa yang terjadi bukan drama khusus kripto semata, melainkan deleveraging lintas aset yang membuat uang tunai dan likuiditas menjadi raja.

Hasil akhirnya adalah pergerakan yang tampak seperti “black swan” di grafik, tetapi perilakunya lebih mirip kecelakaan di sistem perpipaan pasar, dimana arus keluar melemahkan bid, level patah memicu likuidasi, lalu data on-chain menunjukkan tekanan realisasi rugi dan aktivitas pemegang besar saat volatilitas memuncak.

Rebound bisa terjadi, dan sering terjadi, tetapi pasar biasanya baru benar-benar tenang ketika mesin leverage selesai dibersihkan dan permintaan kembali konsisten, bukan sekadar pantulan dari kondisi oversold.

Penafian: Artikel yang diterbitkan ulang di situs web ini bersumber dari platform publik dan disediakan hanya sebagai informasi. Artikel tersebut belum tentu mencerminkan pandangan MEXC. Seluruh hak cipta tetap dimiliki oleh penulis aslinya. Jika Anda meyakini bahwa ada konten yang melanggar hak pihak ketiga, silakan hubungi [email protected] agar konten tersebut dihapus. MEXC tidak menjamin keakuratan, kelengkapan, atau keaktualan konten dan tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan. Konten tersebut bukan merupakan saran keuangan, hukum, atau profesional lainnya, juga tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi atau dukungan oleh MEXC.