Diskusi soal aset kripto sering kali berfokus pada harga token, market cap, dan performa jangka pendek. Tapi jika kita menghapus token dari persamaan, apa sebenarnya yang masih punya nilai?
Dalam sebuah wawancara dengan BeInCrypto, Ryan Chow, CEO sekaligus co-founder Solv Protocol, menyampaikan bahwa jika token sudah tidak lagi penting mulai besok, maka orang-orang akan langsung kembali memperhatikan hal-hal yang fundamental. Ia pun membagikan 3 protokol kripto yang menurutnya tetap akan relevan di 2026, bahkan jika token sudah tidak ada lagi.
Aset kripto sering kali dikenal karena tokennya dan pergerakan harganya yang sangat volatil. Banyak obrolan di industri ini berputar di sekitar spekulasi harga.
Koin top berikutnya bakal melakukan apa, kapan altcoin season akan dimulai, atau token mana yang bisa jadi pemenang 100x berikutnya? Narasi-narasi seperti ini yang terus muncul di berita, media sosial, dan mempengaruhi sentimen pasar.
Walaupun harga selalu jadi pembicaraan utama, sebenarnya apa yang harga perlihatkan mengenai apakah sebuah proyek memang berjalan, digunakan, atau benar-benar memberi nilai nyata?
Chow menuturkan bahwa harga memang bisa memberikan informasi, terutama kalau harga tersebut didukung oleh penggunaan dan pendapatan yang terus-menerus. Tapi, kebanyakan harga ini hanya jadi “indikator yang tertinggal dan penuh kebisingan.”
Menurutnya, ujian nyata baru akan muncul saat harganya benar-benar ditopang penggunaan dan pendapatan yang konsisten, serta sudah menjadi infrastruktur tempat orang membangun dan institusi bisa percaya—tanpa harus melihat grafik harga di pasar.
Menurut Chow, pergerakan harga sering kali lebih dulu dari fundamental, atau bahkan sama sekali tidak terkait. Token bisa reli hanya karena ekspektasi, sedangkan protokol yang pelan-pelan dapat adopsi malah kadang tidak menunjukkan reaksi harga secara langsung.
Ia menambahkan bahwa kemajuan nyata sebuah proyek justru lebih baik diukur dari kekuatan infrastrukturnya, keamanan operasional, dan kemampuannya meraih kepercayaan lembaga/institusi. Chow menjelaskan kalau token dihapus:
Tapi kalau token beserta aktivitas tradingnya menghilang, apakah pengguna juga akan meninggalkannya? Chow memperkirakan bahwa tanpa peluang cuan dari menyimpan atau memperdagangkan token, hampir seluruh aktivitas spekulatif akan langsung lenyap.
Ini termasuk trading momentum, airdrop, farming poin, likuiditas oportunis, dan juga governance.
Ia juga menegaskan bahwa skenario seperti itu akan benar-benar mengubah prioritas pengembang. Menurut Chow, performa token selama ini mengarahkan para builder untuk fokus ke hasil jangka pendek, bukan membangun infrastruktur untuk jangka panjang.
Saat ini, struktur ekosistem lebih mudah memberikan imbalan pada yang paling gampang dipasarkan, seperti narasi baru, insentif, program poin, dan TVL jangka pendek. Padahal hal yang paling sulit untuk dikembangkan ialah keamanan, kontrol risiko, keandalan, serta model ekonomi satuan yang jelas.
Chow pun berpendapat bahwa dunia kripto tetap akan bertahan meski tanpa adanya token.
Ia mencontohkan beberapa model bisnis yang memang sudah berjalan secara berkelanjutan. Contohnya adalah skema biaya berbasis pemakaian untuk settlement, eksekusi, minting, dan routing, serta primitive keuangan seperti protokol pinjaman. Kata dia,
Chow juga menyoroti bahwa bahkan saat pasar sedang volatil, permintaan untuk leverage, lindung nilai, dan likuiditas tetap ada, sehingga sistem-sistem seperti itu terus menghasilkan pendapatan.
Selain itu, Chow menambah bahwa infrastruktur yang memang dibangun untuk institusi menjadi salah satu sektor yang paling tangguh di industri ini. Layanan seperti custody, kepatuhan, pelaporan, dan pembayaran biasanya dibayar dengan fiat atau stablecoin, serta diadopsi untuk memangkas risiko operasional maupun regulasi. Dalam kondisi pasar yang lemah, tuturnya, layanan-layanan ini justru sering tetap menjadi jembatan utama antara keuangan tradisional dan dunia kripto.
Pada akhirnya, Chow menegaskan bahwa sistem apa pun yang mampu secara konsisten menyelesaikan masalah dunia nyata dan terintegrasi dalam alur kerja perusahaan bisa bertahan, terlepas dari kinerja token atau siklus pasar.
Pertanyaannya sekarang adalah protokol kripto mana yang masih benar-benar penting di tahun 2026 jika token benar-benar dihilangkan. Chow menyampaikan kepada BeInCrypto bahwa jawabannya terletak pada mengidentifikasi proyek yang telah membangun infrastruktur ekonomi nyata yang menyelesaikan masalah sebenarnya. Ia menyoroti 3 protokol berikut:
Pertama, Chow menunjukkan Chainlink. Ia menguraikan bahwa protokol ini akan tetap esensial karena memberikan infrastruktur data penting yang menjadi dasar ekosistem kripto.
Protokol decentralized finance sangat bergantung pada price feed yang akurat dan aman agar dapat berfungsi dengan baik. Tanpa oracle yang andal, aktivitas dasar seperti likuidasi, settlement derivatif, dan penentuan harga aset menjadi tidak aman.
Ia menegaskan bahwa Chainlink telah menjadi standar de facto untuk layanan oracle, memproses transaksi dengan nilai miliaran dolar. Chow menekankan bahwa bahkan tanpa token LINK, protokol akan tetap membayar layanan ini dengan stablecoin atau Ethereum (ETH).
Kedua, Chow menyoroti Canton Network. Ia menuturkan bahwa relevansi protokol ini didorong oleh permintaan institusional terhadap privasi yang dipadukan dengan kepatuhan regulasi.
Menurut Chow, Canton menyediakan layer settlement yang diatur dimana posisi yang didukung BTC bisa berpindah tanpa membuka informasi pihak bertransaksi maupun strategi perusahaan yang sensitif. Ia mengungkapkan nilai protokol ini tetap jelas, yakni koordinasi institusional dan settlement yang didanai pemanfaatan perusahaan serta biaya validator maupun layanan.
Ketiga, Chow menerangkan bahwa Circle akan tetap berpengaruh di dunia kripto tanpa token. USDC, terangnya, telah menjadi infrastruktur utama untuk pembayaran aset kripto, manajemen kas, dan settlement lintas negara.
Bagi bank dan perusahaan yang mencari dolar digital yang terpercaya sekaligus teregulasi, USDC sudah muncul sebagai opsi settlement yang dapat diandalkan. Tanpa native token yang harus dikelola atau didistribusikan, Chow menggambarkan Circle sebagai layanan keuangan modern yang memperoleh pendapatan dari spread deposito.
Seiring meningkatnya permintaan dolar digital instan, bisa diprogram dan berpindah ke seluruh dunia kapan saja, ia berpandangan Circle bisa saja terus berkembang di dunia tanpa ketergantungan token selama tetap mampu memecahkan persoalan finansial nyata.
Secara keseluruhan, komentar Chow memberi kerangka alternatif dalam menilai nilai suatu proyek kripto yang tidak terlalu menitikberatkan pada harga token, melainkan pada pemanfaatan, infrastruktur, dan keandalan operasional.
Pandangannya mengisyaratkan bahwa, bila tanpa insentif berbasis token, proyek dengan adopsi berkelanjutan, model pendapatan yang jelas, serta relevansi institusional lebih berpeluang untuk bertahan dalam jangka waktu panjang.

