Penyedia internet satelit milik SpaceX, Starlink, telah memberitahukan kepada pelanggannya di Kenya bahwa layanan mereka berisiko terputus jika gagal memberikan identitas mereka pada bulan Mei.
Menurut pemberitahuan yang dikirim kepada pengguna, penyedia layanan internet tersebut menyatakan bahwa persyaratan ini mengikuti arahan dari pemerintah Kenya.
Beberapa hari lalu, pihak berwenang mengeluarkan tuntutan kepada Starlink untuk menyediakan kartu identitas nasional (ID), alamat pos, dan nomor telepon pelanggannya guna mengatasi kejahatan siber di tengah kekhawatiran pengawasan dan privasi.
Starlink mencatat bahwa pelanggan diharapkan mengunjungi pengecer resminya di Kenya dan menunjukkan dokumen identitas yang sah yang dikeluarkan pemerintah. Selain itu, pelanggan diharapkan memberikan detail akun Starlink mereka selama proses verifikasi.
Perusahaan juga menginformasikan kepada pelanggan bahwa mereka hanya memerlukan ponsel dengan aplikasi Starlink yang terpasang untuk memfasilitasi konfirmasi akun mereka. Pelanggan diharapkan menyelesaikan verifikasi sebelum 30 April 2026, atau berisiko layanan mereka terganggu.
Per September 2025, Starlink telah mencatat 19.460 pengguna aktif di Kenya, menandai jumlah pelanggan tertinggi penyedia satelit ini sejak memasuki pasar Kenya pada tahun 2023.
Baca Juga: Starlink meluncurkan layanan internet di Senegal, pasar Afrika ke-26.
Perkembangan ini terjadi di tengah langkah Kenya untuk memantau dan mengintegrasikan layanan internet satelit yang berkembang ke dalam sistem regulasinya. Ini juga lebih selaras dengan kerangka pendaftaran telekomunikasi Kenya yang lebih luas.
Operator jaringan seluler dan penyedia layanan internet di negara Afrika Timur ini sudah beroperasi di bawah persyaratan Know Your Customer (KYC) yang ketat yang diberlakukan oleh Communications Authority of Kenya (CA). Pendaftaran kartu SIM dan verifikasi identitas telah diwajibkan untuk keamanan dan pencegahan penipuan.
Dengan menghubungkan akun pengguna Starlink dengan identitas fisik yang terverifikasi di dalam negeri, regulator Kenya dapat memastikan bahwa konektivitas satelit mematuhi standar akuntabilitas dan transparansi yang sama dengan layanan internet lainnya.
Kehadiran Starlink di pasar Kenya telah dipandang sebagai tambahan besar untuk konektivitas dan sebagai cara untuk menjembatani kesenjangan digital. Kebangkitan perusahaan ini di Kenya telah memposisikannya sebagai alternatif dari Safaricom, Airtel, dan penyedia jaringan lainnya.
Perusahaan satelit ini juga menikmati independensi yang menjadi poin penjualan terkuatnya, terutama di wilayah yang kurang terlayani di mana pilihan konektivitas terbatas. Namun, perusahaan ini dipandang beroperasi di luar pengawasan telekomunikasi tradisional, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang sabotase keamanan selama keadaan darurat nasional.
Dengan sistem verifikasi wajib, semua pengguna kini dimasukkan dengan tegas ke dalam struktur kepatuhan domestik. Ini juga membuat operasi Starlink lebih tepat berada dalam lingkungan regulasi formal negara tersebut.
Di negara di mana infrastruktur telekomunikasi diatur dengan ketat, catatan identitas yang terverifikasi diperlukan untuk keamanan infrastruktur digitalnya. Langkah-langkah seperti itu juga ditujukan untuk mengatasi masalah seperti privasi, hak digital, dan keseimbangan antara keamanan dan akses terbuka.
Postingan Starlink to disconnect Kenyan users who fail to provide verification details by May pertama kali muncul di Technext.

