Menteri Perdagangan Howard Lutnick mengumumkan langkah tersebut dalam pertemuan kabinet Gedung Putih. Tujuan utamanya adalah membuat data pemerintah lebih aman dan transparan, dimulai dengan angka PDB sebelum diperluas ke lembaga lain. Keputusan ini menyelaraskan AS dengan contoh global seperti Estonia, Uni Eropa, Singapura, Australia, dan California, yang telah mengadopsi blockchain dalam administrasi publik. Namun, meskipun blockchain memastikan distribusi yang tahan manipulasi, teknologi ini tidak menjamin keakuratan data itu sendiri.
Blockchain untuk Menampung Data AS
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengumumkan selama pertemuan kabinet Gedung Putih bahwa Departemen Perdagangan akan mulai mempublikasikan statistik ekonomi, termasuk data produk domestik bruto (PDB), di blockchain. Lutnick menggambarkan inisiatif tersebut sebagai langkah menuju perluasan distribusi data berbasis blockchain di seluruh lembaga federal, dan memberi tahu Presiden Donald Trump dan pejabat lainnya bahwa langkah tersebut mencerminkan citra Trump sebagai "presiden kripto." Dia menambahkan bahwa peluncuran akan dimulai dengan angka PDB sebelum berpotensi diperluas ke departemen lain setelah detail implementasi diselesaikan.
Langkah ini menempatkan Amerika Serikat di samping daftar pemerintah yang semakin banyak mengadopsi blockchain untuk administrasi publik. Estonia mempelopori pendekatan ini pada 2016 dengan mengintegrasikan blockchain KSI Guardtime ke dalam sistem e-Health mereka. Kemudian mereka memperluas penggunaannya ke jaringan ID digital mereka.
Di Eropa, European Blockchain Services Infrastructure (EBSI) diluncurkan pada 2018, dengan negara-negara anggota yang mengelola node validator untuk layanan publik lintas batas. Singapura dan Australia menguji sistem blockchain untuk dokumen perdagangan pada 2021, sementara California mendigitalkan 42 juta sertifikat mobil pada blockchain Avalanche yang diizinkan pada 2024.
Pengumuman ini juga muncul di tengah ketegangan politik mengenai data ekonomi. Trump sering mempertanyakan keandalan statistik resmi, dan bahkan menolak perkiraan PDB dan laporan pekerjaan sebagai bias atau tidak akurat. Awal bulan ini, dia memecat Komisaris Biro Statistik Tenaga Kerja Erika McEntarfer setelah laporan pekerjaan menunjukkan pertumbuhan yang mengecewakan dan revisi menurun, dan menuduhnya mempublikasikan data yang "dimanipulasi".
Meskipun blockchain menawarkan keuntungan bagi pemerintah seperti pencatatan yang tahan manipulasi, identitas digital yang aman, dan berbagi data yang transparan, para ahli tetap memperingatkan bahwa teknologi ini hanya mengamankan bagaimana data disimpan dan didistribusikan—teknologi ini tidak dapat mengatasi keakuratan angka-angka yang mendasarinya. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah statistik yang didukung blockchain akan benar-benar meningkatkan kepercayaan publik terhadap data pemerintah atau hanya mengalihkan perdebatan ke bagaimana angka-angka itu sendiri dihasilkan.
Sumber: https://coinpaper.com/10736/us-chooses-blockchain-for-economic-reporting


