Cryptoharian – Perusahaan kripto Crypto.com mengumumkan akan memangkas sekitar 12 persen tenaga kerjanya sebagai bagian dari perubahan strategi menuju integrasi kecerdasan buatan (AI) secara menyeluruh.
CEO Crypto.com, Kris Marszalek, menyampaikan keputusan tersebut melalui unggahan di platform X pada 19 Maret. Ia menegaskan bahwa adopsi AI bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bagi perusahaan yang ingin bertahan.
“Perusahaan yang bergerak lambat akan tertinggal,” ungkap Marszalek.
Ia menambahkan, perusahaan yang mampu menggabungkan alat AI terbaik dengan tim berkinerja tinggi akan mencapai efisiensi dan skala yang sebelumnya sulit dicapai.
Sebagai bagian dari langkah ini, Crypto.com akan mengurangi karyawan, terutama pada posisi yang dinilai tidak lagi relevan dengan arah baru perusahaan.
Meski demikian, Marszalek tidak mengungkapkan jumlah pasti karyawan yang terdampak maupun total tenaga kerja perusahaan saat ini. Ia hanya menyebut bahwa karyawan yang terkena PHK telah diberi pemberitahuan dan dukungan untuk proses transisi.
Baca Juga: Perusahaan Ini Rumahkan 25 Persen Karyawan Gegara Lesunya Pasar Kripto
Langkah ini juga mengikuti akuisisi domain AI.com oleh Crypto.com pada Februari lalu dengan nilai sekitar US$ 70 juta. Domain tersebut disebut akan menjadi dasar untuk pengembangan agen AI otonom di masa depan.
Keputusan Crypto.com mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi, di mana perusahaan mulai mengurangi tenaga kerja seiring meningkatnya penggunaaan AI.
Sebelumnya, perusahaan pembayaran Block, yang mengelola platform seperti Cash App dan Square, juga melakukan PHK terhadap lebih dari 4.000 karyawan.
CEO dari perusahaan Block, Jack Dorsey, saat itu menyatakan bahwa masa depan perusahaan akan bergantung pada tim yang lebih kecil namun didukung teknologi AI.
“Kombinasi antara AI dan struktur organisasi yang lebih ramping akan mengubah cara perusahaan dibangun dan dijalankan,” ujarnya.
Namun salah satu yang menarik, setelah melakukan PHK besar-besaran, Block dilaporkan kembali merekrut sebagian karyawan yang sebelumnya diberhentikan.
Beberapa mantan karyawan mengungkapkan melalui media sosial bahwa mereka menerima tawaran untuk kembali bekerja. Salah satu di antaranya bahkan menyebut bahwa PHK yang dialaminya terjadi karena kesalahan administratif.


