Futures Brent diperdagangkan mendekati US$113 setelah melonjak lebih dari 46% sepanjang tahun ini, didorong oleh perang Iran yang mengganggu pelayaran di Selat Hormuz. Namun, open interest turun sekitar 50% sejak akhir Februari, sehingga memunculkan pertanyaan siapa sebenarnya yang mendorong reli ini. Harga minyak mentah WTI juga sempat melewati US$100, menandakan bahwa premi perang kini meluas ke acuan global dan Amerika Serikat.
Indeks Dolar AS (DXY) berada di sekitar 99,84, memanfaatkan kenaikan harga minyak karena yield yang meningkat menarik modal ke aset berdenominasi dolar. Yield Treasury 10 tahun telah naik sekitar 45 basis poin sejak perang dimulai pada 28 Februari, mencapai 4,40%. Tekanan di pasar obligasi ini secara perlahan menjadi cerita utama yang layak diperhatikan.
Futures Brent di ICE Europe menunjukan adanya ketidakselarasan yang mencolok. Walaupun harga minyak naik dari sekitar US$65 di akhir Januari menjadi US$113 saat ini, open interest justru turun dari sekitar 770.000 kontrak pada akhir Februari menjadi 380.000 kontrak. Itu berarti penurunan hampir 50%.
Harga yang naik dengan open interest yang turun merupakan peringatan klasik di pasar Futures. Pola seperti ini biasanya berarti reli didorong oleh trader yang menutup posisi short, bukan oleh pembeli baru yang masuk ke posisi long. Short squeeze dapat mendorong harga naik tinggi, tetapi biasanya cepat lelah begitu posisi short sudah habis tersapu.
Risiko geopolitik akibat penutupan Selat Hormuz memang menghadirkan guncangan pasokan riil yang dapat menyingkirkan mekanisme pasar normal. Namun, fondasi reli ini sebenarnya lebih rapuh dari yang tertera di grafik harga saja. Apakah tren ini tetap sehat atau justru menjadi rapuh, indikator berikut akan membantu menilainya.
Oil Equity Confirmation Index (OECI) buatan BeInCrypto, sebuah Z-score yang mengukur perbedaan antara return Brent crude dan return saham energi minyak (XLE), memberikan kerangka penilaian kesehatan tren. Di atas +2, harga minyak bergerak lebih cepat dibanding saham energi yang artinya pergerakan didorong rasa takut dan hanya sementara. Dekat angka nol, minyak dan saham saling sejajar menandakan tren sehat. Di bawah -2, saham mengungguli minyak yang berarti pasar memperkirakan penguatan harga di masa depan.
Saat ini, OECI berada pada level 0,44, menempatkan harga minyak di zona sehat. Ketika indeks ini menyentuh angka 3,23 dan 2,89 di awal bulan, harga Brent mencapai puncaknya di kisaran US$119 pada 9 Maret sebelum terkoreksi. Sebaliknya, ketika OECI jatuh mendekati -2,75, harga kembali naik dari garis tren bawah channel. Pembacaan saat ini mengisyaratkan reli ini masih punya ruang untuk berlanjut tanpa risiko overheat.
Memperkuat sentimen bullish, selisih BRN1 minus BRN2, yaitu perbedaan kontrak Brent bulan depan dengan bulan kedua, kini ada di US$4,55. Artinya, pembeli rela membayar lebih mahal untuk pengiriman langsung. Fakta ini menegaskan bahwa urgensi permintaan minyak fisik belum mengendur walau harga sempat terkoreksi.
Rasio put-call pada ETF BNO, yang menjadi proksi eksposur Brent yang tercatat di AS, memperkuat bias arah harga. Per 20 Maret, rasio volume ada di 0,15 dan rasio open interest di 0,36. Trader opsi menempatkan posisi untuk kenaikan harga, bukan untuk mengantisipasi pembalikan arah.
Namun, faktor ekonomi makro memperkenalkan risiko lain bagi harga minyak. Yield Treasury 10 tahun menjadi batasan nyata. Dengan posisi di 4,40% dan terus naik, yield mendekati kisaran 4,50% hingga 4,60% yang sempat menyebabkan jeda tarif pada April 2025 lalu.
Jika pasar obligasi terus menguat, tekanan terhadap aset berisiko dan kebijakan pemerintah bisa secara tidak langsung membatasi potensi kenaikan harga minyak.
Grafik harian menunjukkan Brent bergerak di dalam channel naik yang sudah terbentuk sejak awal Februari. Zona US$119 hingga US$120 telah menjadi resistance pada 9 Maret dan 19 Maret. Jika harga berhasil breakout di atas US$120, maka ada peluang menuju US$131, walaupun hal ini mungkin membutuhkan eskalasi lebih lanjut pada situasi di Selat Hormuz. Selain itu, tekanan di pasar obligasi juga perlu mereda.
Skenario yang lebih mungkin, dengan melihat pembacaan OECI yang sehat, kondisi backwardation yang masih bertahan, dan posisi opsi yang bullish, adalah pergerakan harga dalam kisaran US$106 hingga US$120. Jika harga jatuh di bawah US$106, maka ada peluang harga menguji US$100.
OECI sebesar 0,44, backwardation di atas US$3,63, dan rasio put-call di bawah 0,36 semuanya mendukung tren naik. Namun, open interest yang turun setengahnya dan yield obligasi 10-tahun yang mendekati zona bahaya membuat reli harga minyak berjalan dengan partisipasi yang lebih sedikit daripada yang terlihat di grafik.
Saat ini, level US$106 pada trendline bawah menjadi penentu antara channel naik yang sehat dan koreksi yang bisa menguji US$100 hingga bahkan US$92.


