Harga minyak melonjak menembus US$100 per barel karena konflik Iran dan gangguan di Selat Hormuz mengubah arus energi global. Untuk sementara, lonjakan itu sudah sedikit mereda, dengan Brent Crude menyentuh angka US$97 pada waktu publikasi. Tapi, kini perbincangan soal harga minyak tidak lagi sebatas pasar komoditas saja. Saham-saham AS pun ikut bereaksi atas volatilitas harga minyak ini.
Tidak semua saham bereaksi dengan cara yang sama terhadap minyak. Tim analis BeInCrypto menemukan tiga saham AS yang memiliki posisi berbeda di perdagangan minyak, di mana masing-masing memiliki pengaturan teknikal yang unik dan bisa menentukan pergerakan selanjutnya.
Harga saham ExxonMobil menjadi salah satu yang paling diuntungkan dari reli minyak tahun 2026. Saham ini diperdagangkan di kisaran US$161, hampir menyentuh all-time high di US$162. Reli ini bukan hanya karena harga minyak. Produksi Exxon terkonsentrasi di Permian Basin dan Guyana, yang keduanya berada di Belahan Barat, sehingga Exxon tetap diuntungkan dari kenaikan harga global tanpa harus terkena risiko pasokan dari gangguan di Selat Hormuz.
Ingin mendapat insight seperti ini? Daftarkan diri Anda untuk menerima Newsletter Harian Kripto dari Editor Harsh Notariya di sini.
Kargo perdana Golden Pass LNG yang tiba di kuartal pertama 2026 menambah sumber pendapatan dengan margin tinggi tepat saat pasokan energi global sedang sangat ketat.
Analis BeInCrypto sebelumnya mengidentifikasi pola bull flag pada grafik harian. Sinyal breakout itu terkonfirmasi pada 12 Maret seiring naiknya harga minyak yang menjadi katalis.
Sejak itu, XOM terus bergerak menuju resistance pertama di sekitar US$163. Jika level itu berhasil ditembus, target Fibonacci 0,618 di US$173 akan menjadi fokus selanjutnya, lalu ada US$180 dan US$189. Saat ini, saham XOM berada di atas empat garis Exponential Moving Average (EMA) kunci untuk 20, 50, 100, dan 200 hari, yang semuanya membantu mengidentifikasi arah tren harga.
Koreksi yang lebih dalam akan menemukan support di sekitar EMA 20 hari pada US$154. Jika harga minyak mengalami koreksi, US$147 terbukti menjadi support struktural kuat sepanjang tahun 2026.
Jika ExxonMobil diuntungkan dari kenaikan harga minyak, harga saham Delta Air Lines justru berada di sisi berlawanan. Bahan bakar jet adalah biaya operasional terbesar maskapai ini, dan ketika harga minyak melonjak setelah konflik Iran pecah, saham DAL turun dari level tertinggi Februari di kisaran US$76 ke level terendah sekitar US$55 di awal Maret, atau koreksi sekitar 27%.
Meski begitu, pemulihannya juga sangat agresif. Sejak level terendah di bulan Maret, DAL reli sekitar 20% dan berhasil menembus kembali ke atas keempat EMA kunci (20, 50, 100, dan 200 hari) pada grafik harian. Terakhir kali DAL bergerak di atas semua EMA tersebut adalah pada 2 Februari, dan sahamnya sempat naik sekitar 12%. Skenario seperti itu kini kembali terjadi, dan hanya garis EMA 50 hari di atas US$65 yang belum sepenuhnya ditembus bersih.
Fibonacci retracement dari puncak US$76 ke dasar US$55 menempatkan level 0,5 di US$65, yang sedang diuji DAL saat ini. DAL kehilangan zona US$65 dalam sesi terakhir meski sempat menguat intraday, sehingga itu menjadi resistance terdekat yang perlu direbut kembali. Jika mampu melewati US$65, level Fibonacci 0,618 di US$68 akan jadi rintangan utama berikutnya.
Jika mampu menembus di atas US$68, maka jalur terbuka menuju US$71 dan berpotensi retest puncak Februari di US$76. Jika turun, zona US$63 dan US$60 menjadi support. Jika konflik Iran mereda dan harga minyak menurun, DAL kemungkinan menjadi salah satu saham utama yang langsung diuntungkan, mengingat korelasi terbalik langsung dengan harga minyak mentah.
Harga saham Devon Energy menjadi yang paling agresif dari ketiganya, reli sekitar 45% sejak awal Januari. Terdapat dua katalis utama di balik pergerakan ini.
Kenaikan harga minyak memang menjadi pendorong utama, tapi Devon juga punya katalis merger yang tidak dimiliki dua saham lainnya. Aksi akuisisi Coterra Energy, yang diperkirakan rampung pada kuartal kedua 2026, akan membentuk perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas terbesar yang berfokus di daratan AS. Kesepakatan ini membidik sinergi sebelum pajak senilai US$1 miliar per tahun, dan setelah merger, dividen diproyeksikan naik sekitar 31%.
Chart harian menunjukkan DVN sedang berkonsolidasi di dalam pola yang nampaknya seperti flag setelah reli 45%, mirip dengan bull flag yang sudah berhasil breakout oleh ExxonMobil. Level support utama berada di US$46. Jika level ini bertahan dan harga berhasil breakout dari garis tren atas di dekat US$49, target pergerakan terukur berada di sekitar US$59, yang berarti potensi reli sekitar 20% dari zona breakout tersebut.
Resistance jangka menengah ada di US$51 dan US$54. Proyeksi jangka panjang menunjukkan potensi ke US$67 jika harga minyak tetap tinggi dan proses merger selesai sesuai jadwal. Di sisi bawah, jika harga turun di bawah US$46, struktur flag akan melemah. Setelah itu, US$43 dan US$41 menjadi area support berikutnya, di mana koreksi harga minyak akibat meredanya ketegangan bisa mendorong harga saham menuju area tersebut. .
Bahkan jika meredanya ketegangan memicu koreksi minyak, katalis merger Coterra pada kuartal 2 bisa menjadi lantai support bagi Devon, sesuatu yang tidak dimiliki oleh saham-saham yang hanya bergantung pada harga minyak.


