Sebuah sekop (/ˈtraʊ.əl/), dalam genggaman seorang arkeolog, ibarat sahabat setia — sebuah alat kecil namun sangat berpengaruh yang mengungkap rahasia kuno, satu demi satu gerakan yang tepat dan terukur. Sekop ini layaknya Sherlock Holmes di lokasi penggalian, menyingkap petunjuk-petunjuk masa lalu dengan setiap sapuan yang lembut dan penuh perhitungan.
Seri televisi yang berlatar belakang Hawaii mungkin bukan tempat yang terduga untuk menemukan ide yang mencerminkan masa lalu Kota Zamboanga, namun Chief of War justru mengisyaratkan sesuatu yang tampak akrab. Meski framing fiksi dalam serial tersebut dirancang dengan sedikit imajinasi, namun gagasan yang disampaikan sejalan dengan kondisi nyata yang ada di Kota Zamboanga.
Seperti yang tersirat dalam serial tersebut, Kota Zamboanga telah lama menjadi pusat pertemuan. Bukan pusat dalam arti sinematik, seperti kerajaan yang tiba-tiba bangkit dalam semalam, melainkan pusat yang berkembang secara perlahan dan berkelanjutan, di mana tempat-tempat yang menjadi jalur lintas membentuk sejarah. Jauh sebelum Zamboanga menjadi titik pada peta modern, kota ini sudah berfungsi sebagai persimpangan bagi orang-orang, barang-barang, bahasa, dan gagasan. Letaknya yang berada di tepi Laut Sulu dan Laut Celebes menjadikannya bagian dari rute maritim yang menghubungkan Mindanao, Kepulauan Sulu, Kalimantan, serta wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Melalui perairannya, perdagangan bergerak maju-mundur; begitu juga para pelaut, keluarga, cerita, keterampilan, dan makanan.
Kehidupan masa lalu yang berlapis-lapis inilah yang menjelaskan mengapa Zamboanga sulit didefinisikan hanya dengan narasi sederhana. Chavacano, sebuah kreol berbasis bahasa Spanyol, berkembang melalui kontak berkelanjutan antara penutur bahasa Spanyol, penduduk lokal, dan para migran. Bahasa ini terbentuk sebagai bahasa bersama untuk interaksi sehari-hari, bukan sebagai bentuk yang direncanakan atau dipaksakan. Komunitas-komunitas di Zamboanga terbentuk berdasarkan pergerakan, bukan pembatasan. Keberadaan kota ini tidak pernah didasarkan pada status sebagai pusat yang menarik segala sesuatu ke dalamnya, melainkan sebagai tempat di mana berbagai hubungan bertemu dan terus berlanjut. Dalam hal ini, fiksi dalam serial tersebut sebenarnya cukup dekat dengan kenyataan.
Sejarah itu masih hidup dalam bahasa Chavacano. Bahasa ini berkembang di sekitar Fort Pilar, tempat pasukan Spanyol menempatkan prajurit dan merelokasi penduduk Kristen dari Visayas dan beberapa daerah di Luzon untuk mendukung garnisun dan kota. Interaksi sehari-hari antara penutur bahasa Spanyol, suku Lumad dan Muslim, para pedagang, serta para migran, melahirkan sebuah bahasa yang dapat digunakan untuk berkomunikasi di tengah perbedaan. Chavacano lahir dari penggunaan sehari-hari. Bahasa ini mencerminkan bagaimana Zamboanga menyerap berbagai pengaruh dari luar dan mengubahnya menjadi sesuatu yang khas bagi daerah tersebut. Bahasa ini menggambarkan pola yang menjadi ciri khas kota: pertukaran tanpa menghapus identitas, serta keberlanjutan tanpa isolasi. Zamboanga tidak menjadi pusat karena menutup diri; justru karena tetap terbuka.
Keterbukaan yang sama kini berada di bawah tekanan ketika kota ini berhadapan dengan perubahan iklim. Zamboanga terletak di pesisir yang terbentuk oleh monsun, perubahan permukaan laut, dan aktivitas tektonik. Komunitas nelayan memantau perubahan stok ikan. Desa-desa pesisir berjuang melawan erosi dan banjir. Kawasan perkotaan menghadapi tantangan panas, pasokan air, dan tekanan pada infrastruktur. Semua ini bukan isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Perubahan-perubahan ini memengaruhi akses pangan dan kehidupan sehari-hari.
Perubahan iklim sering kali masuk ke dalam diskusi publik melalui model-model dan proyeksi. Alat-alat tersebut memengaruhi kebijakan dan perencanaan. Namun, di tempat-tempat seperti Kota Zamboanga, pengetahuan tentang iklim telah lama menjadi bagian dari praktik komunitas. Para nelayan memahami arus dan angin. Petani menyesuaikan siklus penanaman. Para tetua mengenang badai-badai dan tahun-tahun kemarau yang pernah terjadi. Pengetahuan ini tidak berseberangan dengan ilmu pengetahuan; justru saling melengkapi. Tantangannya bukanlah memilih antara pengetahuan komunitas dan penelitian akademis, melainkan menciptakan ruang di mana kedua dunia tersebut dapat saling berbicara.
Dalam hal ini, konferensi akademis memiliki nilai yang nyata. Baru-baru ini, kami menyelenggarakan sebuah konferensi di Zamboanga, yang diselenggarakan oleh Western Mindanao State University. Pertemuan di kota ini, sama seperti dalam sejarahnya, menekankan satu hal penting: kolaborasi dan keterlibatan yang bermakna, terutama dalam upaya adaptasi iklim, tumbuh dari hubungan yang erat. Kolaborasi ini membutuhkan rasa saling percaya dan waktu yang cukup. Konferensi dan lokakarya akan lebih efektif jika tidak sekadar datang, mengumpulkan data, lalu pergi; melainkan menciptakan jalur untuk keterlibatan berkelanjutan antara komunitas dan dunia akademis.
Oleh karena itu, kami berterima kasih kepada Ma. Carla Althea Ochotorena dan Western Mindanao State University atas penyelenggaraan Program untuk Asia Tenggara Awal Modern (PEMSEA). WMSU menyediakan venue yang memfasilitasi dialog mengenai prioritas lokal dan kondisi kehidupan sehari-hari. Universitas-universitas di pusat-pusat regional memiliki peran yang melampaui fungsi pengajaran; mereka menghubungkan mahasiswa, para sarjana, pemerintah daerah, dan komunitas dengan cara-cara yang sering kali tidak dapat dilakukan oleh institusi nasional.
Pertemuan ini terwujud berkat kolaborasi. Kami berterima kasih kepada lembaga-lembaga yang turut mensponsori acara ini atas kerja sama dan komitmen mereka terhadap pekerjaan tersebut, termasuk Zamboanga Peninsula Polytechnic State University, Zamboanga State College of Marine Science and Technology, Basilan State College, Sulu State College, Tawi-Tawi Regional Agriculture College, dan Agusan del Sur State College of Agriculture and Technology. Kami juga berterima kasih kepada Department of Science and Technology Region IX atas dukungannya.
Konferensi ini merupakan lanjutan dari kerja panjang PEMSEA, yang sebagian besar terwujud berkat dukungan berkelanjutan dari Henry Luce Foundation. Dukungan tersebut memungkinkan PEMSEA untuk mengumpulkan berbagai institusi, menyoroti prioritas regional, dan mengembangkan kerangka kerja yang integratif dan interdisipliner untuk memahami perubahan lingkungan di Asia Tenggara selama 1.000 tahun terakhir, dengan menggabungkan pengetahuan komunitas dan penelitian akademis dalam dialog yang berkelanjutan.
Salah satu bagian penting dari pertemuan ini adalah penghargaan kepada Ka Aman Nuño dari Barangay Taluksangay. Karya beliau mencerminkan tahun-tahun pengabdian yang berlandaskan pada praktik komunitas. Penghargaan seperti ini menandakan perubahan dalam cara kita menilai pengetahuan. Penghargaan ini menegaskan bahwa para pemimpin komunitas bukan sekadar informan atau penerima manfaat, melainkan mitra dan co-produser wawasan. Ketika universitas secara terbuka mengakui peran mereka, maka syarat-syarat keterlibatan pun berubah.
Kemitraan semacam ini tidak terbentuk begitu saja. Butuh usaha dan kesabaran. Di Zamboanga, upaya tersebut sebagian besar difasilitasi oleh Melanie Lear. Menjembatani prioritas komunitas dan kerangka kerja akademis bukan sekadar urusan administratif. Ini melibatkan pendengaran, penerjemahan, dan negosiasi. Hal ini menuntut kita untuk tahu kapan harus mundur dan kapan harus maju. Hasilnya bukanlah formula yang sempurna, melainkan sebuah hubungan kerja yang memungkinkan penelitian untuk merespons kondisi kehidupan sehari-hari, bukan sekadar mengimpor agenda dari luar.
Sebagai seorang arkeolog, saya sering berpendapat bahwa masa lalu memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat beradaptasi, atau gagal beradaptasi, terhadap perubahan lingkungan. Sejarah Zamboanga sebagai pusat pertemuan mengajarkan kita satu pelajaran: fleksibilitas dan pengetahuan bersama telah lama mendukung keberlanjutan. Perubahan iklim meningkatkan taruhan, namun perubahan tersebut tidak menghapus sejarah yang telah ada.
Ke depan, kita memerlukan kolaborasi lintas sektor dan skala. Kebijakan nasional menentukan arah. Kerangka kerja internasional memengaruhi prioritas. Pada saat yang sama, praktik di tingkat barangay dan sejarah lokal menjadi panduan bagi keputusan sehari-hari. Universitas seperti Western Mindanao State University berada dalam posisi yang sangat baik untuk menyatukan semua elemen tersebut, ketika mereka bekerja sama dengan komunitas bukan sebagai lokasi penelitian, melainkan sebagai mitra.
Pengalaman Zamboanga mengajarkan kita bahwa pekerjaan iklim bukan hanya soal risiko. Lebih dari itu, pekerjaan iklim adalah tentang hubungan. Masa lalu kota ini menunjukkan bagaimana hubungan membentuk kelangsungan hidup dan keberlanjutan. Kondisi saat ini menunjukkan bagaimana hubungan-hubungan tersebut dapat menjadi landasan bagi respons iklim yang dibentuk berdasarkan realitas lokal. Mempertahankan kemitraan ini—bukan sebagai acara sekali pakai, melainkan sebagai komitmen berkelanjutan antara komunitas dan dunia akademis—adalah kunci untuk membuat masa depan iklim menjadi lebih layak huni. – Rappler.com
Stephen B. Acabado adalah profesor antropologi di University of California-Los Angeles. Ia memimpin Proyek Arkeologi Ifugao dan Bicol, program penelitian yang melibatkan para pemangku kepentingan komunitas. Ia tumbuh di Tinambac, Camarines Sur. Ikuti dia di Bluesky @stephenacabado.bsky.social
/

