Korea Bank (KBank) sedang mempercepat strategi aset digitalnya melalui pendaftaran merek dagang dompet stablecoin yang baru, kemitraan strategis, serta rencana IPO yang akan datang.
KBank, salah satu neobank terbesar di Korea Selatan dan mitra perbankan tunggal Upbit, telah mengajukan 13 permohonan merek dagang baru untuk dompet stablecoin. Pengajuan ini muncul ketika bank tersebut bersiap untuk upaya IPO ketiga, yang kini dijadwalkan pada bulan Mac 2026. Langkah ini menandakan komitmen KBank yang semakin mendalam dalam bidang aset digital, seiring dengan dukungan regulasi yang semakin kuat bagi inovasi kripto di negara tersebut.
Pendaftaran merek dagang yang terdaftar di Korea Intellectual Property Rights Information Service (KIPRIS) mencakup nama-nama seperti KSC Wallet, KSTA Wallet, Kstable Wallet, dan Kbank SC Wallet. Pendaftaran ini bukan sekadar strategi branding; namun juga mencakup berbagai layanan dan perangkat lunak yang berkaitan dengan:
Media lokal melaporkan bahwa platform dompet ini akan menjadi multifungsi, menawarkan alat pengiriman uang, pembayaran, dan penyelesaian transaksi baik untuk konsumen maupun institusi.
Fokus pada aset digital ini merupakan pilar utama dalam dokumen IPO KBank yang baru saja diajukan. Bank tersebut mengonfirmasi bahwa dana hasil penawaran umum akan digunakan untuk memperluas kehadiran KBank dalam ekosistem kripto dan stablecoin.
Upaya IPO KBank pada bulan Mac 2026 akan menjadi percobaan ketiga, setelah gagal pada tahun 2023 dan 2024. Kali ini, strategi aset digital dapat menjadi narasi yang menarik bagi para investor. Menurut laporan News1, bank tersebut berkomitmen untuk membangun infrastruktur keuangan yang sepenuhnya berbasis kripto sebagai bagian dari roadmap pasca-IPO.
Ambisi KBank tidak hanya terbatas pada Korea Selatan. Baru-baru ini, KBank menandatangani kesepakatan dengan Kasikornbank dari Thailand, BPMG, dan Orbix Technology untuk bersama-sama mengembangkan sistem keuangan berbasis stablecoin bagi para pelancong dan pekerja migran antara kedua negara. Inisiatif ini akan memungkinkan transaksi lintas batas dengan biaya rendah, dengan fokus pada segmen yang selama ini kurang terlayani secara optimal.
Langkah ini juga menyusul akuisisi Satang Pro (kini Orbix) oleh Kasikornbank serta pengajuan merek dagang KBank sendiri untuk ekosistem dompet. Pergerakan ini mencerminkan tren yang semakin berkembang dalam sektor TradFi di Asia Tenggara, yakni semakin banyak lembaga keuangan yang berupaya mengendalikan lebih banyak elemen dalam rantai infrastruktur blockchain.
Semenjak bermitra secara eksklusif dengan Upbit pada tahun 2020, jumlah pengguna KBank melonjak dari kurang dari 3 juta menjadi hampir 15 juta. Bank ini menyediakan rekening terverifikasi dengan identitas asli bagi para pengguna Upbit, sehingga memperkuat peran sentral KBank dalam ekonomi kripto Korea Selatan.
Keterikatan tersebut tetap menjadi faktor penting, karena hubungan Upbit–KBank memberikan akses langsung kepada jutaan pengguna kripto aktif. Dengan stablecoin yang kian menjadi andalan dalam penyelesaian transaksi kripto dan keuangan lintas batas, KBank memiliki posisi unik untuk terus berkembang dan berskala besar.
Saat semakin banyak bank tradisional mulai menerbitkan stablecoin dan membuat dompet digital yang sesuai regulasi, fragmentasi likuiditas mulai muncul sebagai masalah utama. Institusi-institusi membangun sistem privat yang sulit berinteraksi dengan ekosistem DeFi publik.
Masuklah LiquidChain ($LIQUID), sebuah protokol Layer 3 yang dirancang untuk menyatukan likuiditas yang terfragmentasi di antara Bitcoin, Ethereum, dan Solana. Meski tidak secara langsung berhubungan dengan KBank, protokol ini mewakili jenis infrastruktur lintas rantai yang dapat mengatasi tantangan interoperabilitas yang dihadapi bank-bank seperti KBank.
LiquidChain menawarkan:
Saat KBank dan bank-bank lain mulai menghadirkan stablecoin dunia nyata ke dalam blockchain, platform seperti LiquidChain dapat menjadi solusi penting untuk memastikan pengalaman pengguna yang lancar dan efisiensi modal yang optimal.
Saya mengamati strategi KBank dengan saksama karena bank ini adalah contoh nyata seberapa cepat sektor TradFi bergerak menuju infrastruktur yang sepenuhnya berbasis kripto. Mengajukan 13 merek dagang bukan sekadar urusan administrasi; ini adalah isyarat bahwa bank tersebut melihat stablecoin dan layanan dompet sebagai mesin pertumbuhan berikutnya. Dari pengalaman saya, pemain yang paling sukses adalah mereka yang mampu menggabungkan kepatuhan regulasi dengan inovasi teknologi, dan KBank tampaknya berhasil memenuhi kedua kriteria tersebut.
Tambahkan pula kerja sama dengan Upbit dan inisiatif lintas batas bersama Kasikornbank, dan Anda akan melihat sebuah blueprint nyata untuk generasi perbankan berikutnya di Asia. Apakah KBank dapat meraih sukses dalam upaya IPO kali ini bergantung pada sentimen pasar, namun roadmap teknologinya jelas dirancang untuk relevansi jangka panjang.
Artikel “KBank Siapkan Dompet Stablecoin Jelang IPO pada Bulan Mac 2026” pertama kali muncul di CoinLaw.


