Kesepakatan terbaru FC Barcelona dengan perusahaan kripto dari Samoa telah menarik banyak perhatian, terutama karena mitranya, Zero-Knowledge Proof (ZKP), tidak memiliki jejak publik. Di tengah situasi keuangan klub yang masih tertekan, langkah ini tampak aneh bagi beberapa penggemar, terutama karena ZKP sebelumnya telah mengadakan lelang token tanpa memberikan informasi detail tentang struktur atau operasi tim.
Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan publik tentang strategi digital klub untuk tahun-tahun mendatang, meskipun Barca sendiri mengonfirmasi bahwa mereka tidak terlibat dalam penerbitan token apa pun.
Saat nama ZKP muncul sebagai mitra teknologi blockchain, respons dari pendukung FC Barcelona semakin intensif. Selain itu, komentar di saluran komunitas mengungkapkan campuran antusiasme dan kehati-hatian, karena perusahaan beroperasi dari Samoa, yurisdiksi yang sering dipilih oleh startup kripto dengan sedikit kehadiran global.
Barcelona, di sisi lain, berusaha meredakan kekhawatiran dengan menyatakan bahwa kemitraan tersebut terbatas pada teknologi dan bukan penjualan token. Namun, beberapa pengamat terus mempertanyakan proses pemilihan mitra, terutama karena klub sekaliber Barcelona biasanya sangat selektif ketika berurusan dengan aset digital.
Selain itu, perhatian publik semakin bertambah ketika beberapa pihak menyoroti beban utang FC Barcelona yang besar. Hal ini menyebabkan keputusan untuk menerima sponsor dari perusahaan yang kurang dikenal dipandang sebagai strategi yang didorong oleh finansial. Meskipun klub belum menyatakan hal ini, situasi tersebut telah memicu diskusi yang semakin berkembang.
Melihat klub sepak bola lain, sebelumnya kami melaporkan bahwa Tether telah mengakuisisi 10,7% saham di Juventus untuk mendapatkan keterlibatan yang lebih besar dalam keputusan strategis klub. Selain itu, kami juga menyoroti dorongan Tether agar Juventus dan Exor memberikan kursi dewan kepadanya, meskipun respons sejauh ini kurang dari yang diharapkan.


