Cryptoharian – Otoritas Korea Selatan membuka penyelidikan setelah Bitcoin (BTC) sitaan senilai kisaran 70 miliar won (sekitar Rp 810 miliar) dilaporkan hilang dari aset yang disimpan negara. Kasus ini terungkap usai Kantor Kejaksaan Distrik Gwangju menemukan adanya kekurangan aset keuangan hasil penyitaan.
Berdasarkan laporan dari media lokal, Bitcoin tersebut diduga raib setelah kata sandi bocor ke pihak luar. Seorang pejabat kejaksaan menyebut dugaan awal mengarah pada serangan phising, yang terjadi ketika seorang pekerja di instansi terkait mengakses situs palsu. Dalam skema seperti ini, pelaku biasanya menyamar sebagai layanan resmi untuk menipu korban agar memberikan kredensial atau akses dompet kripto.
Meski phising bukanlah hal baru di dunia kripto, insiden ini menyoroti satu titik rawan, yakni bagaimana lembaga penegak hukum menyimpan aset digital bernilai besar. Seiring adopsi kripto meningkat, makin banyak lembaga di berbagai negara menyita dan menahan token hasil kejahatan. Namun, metode kustodi yang digunakan sering kali tidak dipublikasikan, sehingga sulit menilai standar keamanan yang dipakai.
Pihak kejaksaan disebut menolak merinci kapan Bitcoin itu disita dan berapa jumlah tepatnya yang hilang, dengan alasan penyelidikan masih berjalan.
“Kami sedang menyelidiki untuk melacak keadaan dan keberadaan barang sitaan. Kami belum bisa mengonfirmasi detil spesifiknya,” kata seorang pejabat penuntutan kepada salah satu media lokal.
Baca Juga: Satu Lagi Koin Meme Gugur 80 Persen, Pengembang Diduga Jadi Biang Kerok
Kasus di Gwangju ini muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap kejahatan finansial berbasis kripto. Di Korea Selatan sendiri, otoritas bear cukai dilaporkan baru saja membongkar jaringan besar pencucian uang kripto awal pekan ini.
Secara global, nilai sitaan kripto yang ditahan lembaga negara juga terus membesar. Coinbase misalnya, pernah menyebut membantu Secret Service Amerika menyita US$ 225 juta aset kripto yang diduga terkait dengan penipuan, sementara di Inggris sempat mengemuka wacana untuk menahan Bitcoin sitaan bernilai miliaran dolar alih-alih mengembalikannya sebagai kompensasi korban.
Bagi pasar, peristiwa seperti ini biasanya tidak mengubah harga secara langsung. Namun dari sisi kebijakan dan kepercayaan, dampaknya bisa lebih panjang, yakni insiden kehilangan aset sitaan berpotensi memicu dorongan agar lembaga negara menerapkan prosedur kustodi yang lebih ketat, audit yang lebih transparan dan pengamanan berlapis untuk akses dompet.
