Minat Tether yang terus meningkat terhadap emas fisik menjadikan penerbit stablecoin terbesar di dunia ini sebagai kekuatan baru yang cukup berarti di pasar emas batangan.
Tapi, apakah Tether cukup kuat untuk mengubah harga emas sendirian?
CEO Paolo Ardoino mengungkapkan bahwa Tether berencana meningkatkan alokasi emas menjadi 10–15% dari portofolio investasinya, naik dari sebelumnya yang mendekati 7%.
Jika langkah ini benar-benar terwujud, emas akan menjadi aset cadangan inti bersama US Treasuries dan Bitcoin. Dengan peredaran USDT sekarang sekitar US$186 miliar, pergeseran ini berarti pembelian emas tambahan hingga beberapa miliar dolar. Asalkan pertumbuhan portofolio dan laba yang ditahan tetap berlanjut.
Secara praktik, Tether mungkin sudah mendekati batas bawah dari target tersebut. Pengungkapan dan laporan terbaru menunjukkan perusahaan ini memegang sekitar 130–140 ton emas fisik. Jumlah ini bernilai sekitar US$23–24 miliar.
Ini menjadikan emas sekitar 12–13% dari keseluruhan kepemilikannya setelah satu tahun pembelian besar-besaran dan harga di atas US$5.000 per ounce.
Ardoino menegaskan bahwa Tether saat ini membeli satu hingga dua ton emas per minggu dan pembelian ini akan berlanjut setidaknya dalam beberapa bulan ke depan.
Dari sisi mekanisme pasar, dampak langsungnya terutama pada sisi permintaan. Pasokan emas dikenal sangat tidak elastis dalam jangka pendek.
Produksi tambang global berkisar sekitar 3.500–3.600 ton per tahun, dengan emas daur ulang menambah sekitar 1.200–1.500 ton. Jumlah produksi tersebut tidak bisa langsung bertambah secara signifikan ketika permintaan meningkat drastis hanya dalam hitungan minggu atau bulan.
Pembelian Tether pun mengambil dari stok emas yang sudah ada di atas permukaan tanah, diperoleh melalui pasar over-the-counter dan pengolah emas di Swiss, bukan lewat exchange futures.
Dengan laju pembelian tahunan 50–100 ton, permintaan Tether mewakili sekitar 1–2% dari pasokan global per tahun. Ini terlalu kecil untuk menguasai pasar, tapi cukup besar untuk memberikan dampak di batas tertentu.
Efek jangka pendeknya adalah likuiditas fisik menjadi semakin ketat. Sebab Tether mengumpulkan emas yang benar-benar bisa diambil dan menyimpannya, bukan hanya membeli kontrak, sehingga jumlah emas yang mudah diperdagangkan oleh dealer dan kustodian ikut berkurang.
Ketika permintaan tinggi juga datang dari bank sentral atau ETF, kondisi ini bisa mempersempit selisih harga jual dan beli (spread) serta membuat harga lebih sensitif terhadap pembeli tambahan.
Soal harga, pengaruh Tether lebih tepat disebut mendukung, bukan memicu lonjakan tajam. Pembelian satu hingga dua ton per minggu hanyalah sebagian kecil dari volume perdagangan global harian, terutama di pasar futures.
Namun, pembelian ini bersifat rutin, berdasarkan neraca keuangan, dan bersifat kumulatif, sehingga turut memperkuat batas bawah harga emas.
Sendirian, arus pembelian sebesar ini bisa mendorong kenaikan harga emas sebesar 1–3% dalam waktu singkat. Ini terutama berlaku saat dolar melemah, yield riil menurun, atau risiko geopolitik meningkat.
Saluran ekspektasi juga tak kalah penting. Ardoino berulang kali menyebut emas sebagai aset cadangan bergaya bank sentral, istilah yang terasa pas ketika institusi resmi juga sedang membeli emas secara agresif.
Dalam beberapa tahun terakhir, bank sentral menambah lebih dari 1.000 ton emas setiap tahunnya. Kemunculan Tether sebagai pembeli besar dan transparan memperkuat narasi emas sebagai lindung nilai utama terhadap pelemahan mata uang dan risiko politik.
Dampak sinyal seperti ini bisa menarik investor lain, sehingga pergerakan harga menjadi lebih besar dari hanya sekadar pembelian langsung Tether.
Meski begitu, ada batasan. Bahkan di batas atas targetnya, akumulasi emas Tether tidak mengubah kurva pasokan emas jangka panjang, juga tidak sebanding dengan total pembelian gabungan dari negara dan ETF.
Meskipun begitu, faktor ekonomi makro seperti kebijakan The Fed, kekuatan dolar, dan sentimen risiko global masih jadi faktor penentu utama.
Intinya, langkah Tether untuk membeli emas menciptakan lantai permintaan baru yang struktural di pasar. Dalam jangka pendek, langkah ini memperketat ketersediaan emas fisik dan menopang harga di batas tertentu.
Tetapi, langkah ini bersifat penstabil, bukan pemicu gejolak, karena memperkuat tren bullish yang sudah ada dan bukan memicu lonjakan harga emas sendirian.
Pada waktu publikasi, emas diperdagangkan di harga US$5.549, naik hampir 30% sepanjang tahun ini.
