Ekonomi Zimbabwe terus menemukan stabilitas dalam sumber mata uang asing yang semakin penting: diasporanya.
Remitansi dari warga Zimbabwe yang tinggal di luar negeri meningkat sekitar 14% secara tahunan menjadi sekitar US$2,45 miliar pada tahun 2025, menurut estimasi resmi, dengan arus masuk terbesar berasal dari Inggris dan Afrika Selatan. Angka-angka tersebut memperkuat tren struktural yang mulai diperlakukan lebih serius oleh para pembuat kebijakan dan investor: pendapatan migran bukan lagi cerita sampingan. Ini adalah modal yang relevan secara makroekonomi.
Bagi Zimbabwe, remitansi kini sejajar dengan ekspor dan penerimaan pertambangan sebagai salah satu sumber mata uang keras yang paling dapat diandalkan negara ini.
Sekilas, remitansi tampak bersifat pribadi — biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari, dukungan sewa. Namun secara agregat mereka berperilaku seperti dana stabilisasi.
Arus masuk ini mendukung impor, memperkuat likuiditas dalam sistem perbankan dan mengurangi tekanan pada nilai tukar. Di pasar di mana ketersediaan mata uang asing dapat berubah dengan cepat, transfer diaspora yang dapat diprediksi membantu mengurangi volatilitas.
Secara praktis, setiap dolar yang dikirim pulang mengurangi tekanan pada sistem keuangan yang lebih luas.
Bagi pengecer dan UKM, ini penting. Rumah tangga yang menerima dana membelanjakan secara lokal, mendukung perdagangan informal, layanan dan usaha kecil. Konsumsi tersebut mengalir ke penerimaan pajak dan modal kerja di seluruh ekonomi.
Pertumbuhannya bukan hanya demografis — tetapi juga teknologis.
Uang seluler, koridor fintech dan platform transfer berbiaya rendah telah membuat transfer uang migran pulang menjadi lebih cepat dan lebih murah. Dompet digital dan pembayaran instan menggantikan model transfer uang tradisional yang dulu mengandalkan agen tunai dan biaya lebih tinggi.
Pergeseran ini berarti lebih banyak uang mencapai rumah tangga daripada perantara, sekaligus membuat arus lebih mudah dilacak dan diintegrasikan ke dalam sistem formal.
Bagi bank dan fintech, remitansi berkembang menjadi produk gerbang: begitu pelanggan menerima dana secara digital, mereka lebih cenderung mengadopsi layanan tabungan, kredit dan asuransi.
Bagi investor yang menilai prospek makro Zimbabwe, kisah remitansi menambahkan lapisan ketangguhan.
Tidak seperti ekspor komoditas, transfer diaspora kurang terpapar pada fluktuasi harga global. Tidak seperti pembiayaan utang, mereka tidak meningkatkan kewajiban. Dan tidak seperti arus portofolio, mereka jarang keluar secara tiba-tiba.
Mereka berperilaku lebih seperti modal ekuitas yang stabil daripada pendanaan spekulatif.
Keandalan tersebut memberikan ruang bernapas bagi para pembuat kebijakan untuk mengelola likuiditas dan menstabilkan lingkungan mata uang — variabel kunci untuk memulihkan kepercayaan bisnis.
Implikasinya jelas: remitansi tidak boleh lagi diperlakukan hanya sebagai bantuan sosial. Mereka adalah bagian dari arsitektur keuangan negara.
Mendorong saluran formal, menurunkan biaya transfer dan menghubungkan penerima dengan layanan perbankan dapat melipatgandakan dampaknya. Jika diintegrasikan dengan tepat, modal diaspora dapat mendukung ekspansi kredit, pertumbuhan UKM dan inklusi keuangan yang lebih luas.
Diaspora Zimbabwe melakukan lebih dari sekadar mendukung keluarga. Mereka diam-diam mendukung ekonomi.
Seiring bertambahnya volume remitansi, arus ini menjadi salah satu penstabil paling andal negara ini — pengingat bahwa, di banyak pasar Afrika, orang-orang di luar negeri sama berpengaruhnya secara ekonomi dengan investor di lapangan.
Postingan Remitansi Zimbabwe Naik 14%, Memperkuat Stabilitas Valas pertama kali muncul di FurtherAfrica.


