Intercontinental Exchange, perusahaan Fortune 500 yang menaungi New York Stock Exchange, menyalurkan data forex dan logam real-time ke dalam infrastruktur Chainlink dalam kemitraan yang dapat membantu menjembatani kesenjangan triliunan dolar antara Wall Street dan keuangan terdesentralisasi.
Dalam siaran pers tertanggal 11 Agustus, platform oracle blockchain Chainlink mengumumkan kolaborasi dengan Intercontinental Exchange untuk mengintegrasikan harga forex dan logam mulia berkualitas tinggi dari Consolidated Feed ICE ke dalam jaringan Data Streams-nya.
Kesepakatan tersebut, yang berlaku segera, akan menjadikan data pasar agregat ICE, yang bersumber dari lebih dari 300 bursa global, sebagai input utama untuk tarif turunan Chainlink, yang digunakan oleh lebih dari 2.000 aplikasi terdesentralisasi dan pemain institusional, kata perusahaan tersebut.
Kemitraan Chainlink-ICE mengatasi salah satu tantangan paling persisten dalam keuangan terdesentralisasi: kurangnya penetapan harga tingkat institusional untuk aset dunia nyata. Dengan memasukkan feed forex dan logam mulia ICE ke dalam Chainlink Data Streams, kolaborasi ini membawa standar keandalan Wall Street ke dalam lingkungan blockchain.
Waktunya bertepatan dengan meningkatnya permintaan akan aset tokenisasi. Menurut Standard Chartered, aset dunia nyata yang ditokenisasi bisa tumbuh menjadi pasar senilai $30,1 triliun pada tahun 2034.
Namun, angka-angka tersebut menceritakan kisah yang menarik: sementara stablecoin telah melonjak menjadi $260 miliar, aset dunia nyata yang ditokenisasi hanya mencapai $25,75 miliar, menurut data RWA.xyz. Ketidakseimbangan ini mencerminkan sikap hati-hati keuangan tradisional: institusi tidak akan sepenuhnya berkomitmen sampai infrastruktur blockchain memenuhi standar mereka yang ketat.
Fernando Vazquez dari Chainlink Labs membingkai perkembangan ini sebagai titik balik potensial, menyebutnya sebagai "momen penting" yang akhirnya dapat meyakinkan pasar mainstream untuk mentransisikan aset ke dalam rantai.


