Sebuah analisis oleh Coinglass yang membandingkan data decentralized exchange perpetual (perp DEX) telah memicu perdebatan sengit dan, dalam prosesnya, menyoroti perpecahan di sektor derivatif aset kripto.
Studi tersebut mengungkap adanya perbedaan mencolok dalam volume perdagangan, open interest, dan likuidasi di Hyperliquid, Aster, serta Lighter. Pengguna pun bertanya-tanya, apa yang benar-benar bisa disebut aktivitas perdagangan asli di platform-platform tersebut.
Coinglass mendapat kecaman setelah menerbitkan perbandingan sejumlah perp DEX, mempertanyakan apakah volume perdagangan yang dilaporkan di beberapa bagian sektor ini benar-benar mencerminkan aktivitas pasar yang asli.
Snapshot selama 24 jam yang membandingkan Hyperliquid, Aster, dan Lighter menunjukkan bahwa:
Menurut Coinglass, perbedaan seperti ini bisa jadi penting. Di pasar perpetual futures, volume trading yang tinggi akibat posisi leverage biasanya berkorelasi dengan dinamika open interest dan aktivitas likuidasi saat harga bergerak.
Perusahaan tersebut menyarankan bahwa, dibanding permintaan hedging organik, kombinasi volume yang dilaporkan tinggi namun angka likuidasi relatif rendah bisa mengindikasikan:
Berdasarkan itu, Coinglass menyimpulkan bahwa Hyperliquid menunjukkan konsistensi internal yang lebih kuat di berbagai metrik utama.
Sementara itu, kualitas volume dari sejumlah pesaing perlu validasi lebih lanjut dengan indikator seperti funding rate, biaya, kedalaman order book, dan jumlah trader aktif.
Namun, para pengkritik berpendapat bahwa mengambil kesimpulan dari snapshot satu hari bisa menyesatkan. Secara spesifik, mereka memberikan penjelasan alternatif untuk data tersebut, termasuk posisi whale, perbedaan algoritma antara platform, serta variasi struktur pasar yang dapat mempengaruhi pola likuidasi tanpa harus bermakna volume yang digelembungkan.
Sejumlah pihak lain mempertanyakan apakah angka total likuidasi saja cukup dapat diandalkan untuk mengukur kondisi pasar, karena likuidasi tinggi juga bisa jadi mencerminkan penggunaan leverage yang agresif atau kondisi trading yang volatil.
Sementara itu, Coinglass menolak tuduhan bahwa analisis mereka hanya bersifat spekulatif atau menebar FUD (fear, uncertainty, and doubt). Mereka menegaskan bahwa kesimpulan yang diambil sepenuhnya berdasarkan data yang dapat diakses publik.
Dalam respons lainnya, Coinglass menegaskan bahwa perbedaan pendapat sebaiknya dijawab dengan bukti yang lebih kuat, bukan tuduhan semata.
Perusahaan itu juga berpandangan bahwa platform dengan batas leverage lebih tinggi memang secara struktur akan lebih rentan terhadap likuidasi paksa. Pandangan ini menggeser diskusi dari sekadar angka-angka menuju desain exchange dan pengelolaan risiko.
Kontroversi ini muncul di tengah gelombang perdebatan yang lebih luas tentang Hyperliquid dan pasar perp DEX.
Sebelumnya, Kyle Samani, co-founder dari Multicoin Capital, secara terbuka mengkritik Hyperliquid dan menyoroti soal transparansi, tata kelola, serta elemen closed-source pada platform tersebut.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari para trader dan pendukung platform, di mana banyak dari mereka menolak kritik tersebut serta mempertanyakan motifnya.
Arthur Hayes, co-founder BitMEX, semakin memanaskan perseteruan dengan mengajukan taruhan amal senilai US$100.000, menantang Samani untuk memilih altcoin besar apa pun dengan kapitalisasi pasar di atas US$1 miliar agar bersaing dengan token HYPE milik Hyperliquid dalam hal performa selama beberapa bulan.
Perselisihan ini menyoroti permasalahan yang lebih dalam di pasar derivatif aset kripto: belum adanya metrik standar untuk menilai aktivitas di berbagai DEX.
Volume perdagangan telah lama menjadi indikator utama kesuksesan. namun, dengan semakin maraknya program insentif, kampanye airdrop, dan strategi liquidity-mining, penafsiran angka-angka tersebut semakin rumit.
Seiring kemunculan platform perp DEX baru dan persaingan yang semakin sengit, berbagai metrik seperti open interest, pola likuidasi, tingkat leverage, dan kedalaman order-book kini menjadi faktor utama dalam menilai integritas pasar.
Insiden Coinglass ini mencerminkan bagaimana data sendiri kini menjadi ajang perebutan kekuasaan di tengah sektor yang digerakkan oleh angka dan narasi. Oleh karena itu, perdebatan tentang makna sebenarnya dari angka-angka tersebut sepertinya akan semakin memanas seiring pertumbuhan pasar perpetual futures yang terus berlanjut.


