Harga Solana berhasil pulih tajam setelah sebelumnya mengalami penurunan besar dalam channel turun. Setelah sempat mendekati bagian bawah struktur tersebut, SOL menemukan support kuat di sekitar US$67 pada awal Februari dan naik kembali lebih dari 30%. Lonjakan harga ini didorong oleh aksi beli saat harga turun, sepertinya dilakukan oleh para pelaku pasar yang paling optimistis.
Sekilas, rebound ini memang terlihat meyakinkan. Tapi, harga SOL masih terjebak di bawah resistance utama, dan data on-chain masih menunjukkan keyakinan yang beragam. Saat ini pasar menghadapi ujian penting: apakah pembeli mampu mengubah rebound ini menjadi pemulihan harga yang berkelanjutan, atau tekanan jual akan kembali dan membawa harga turun lebih dalam lagi.
Rebound Solana mulai terjadi sebelum harga menyentuh dasar channel turunnya. Sebaliknya, pembeli masuk lebih awal di zona US$67, yang berfungsi sebagai area support internal saat harga masih menurun.
Pada 6 Februari, SOL membentuk ekor bawah panjang pada candle harian di sekitar US$67. Ekor bawah panjang menandakan bahwa pembeli berhasil menahan tekanan jual dan menolak harga lebih rendah. Candle seperti ini sering muncul saat permintaan mendadak menguat ketika terjadi kepanikan.
Perilaku tersebut juga didukung oleh Money Flow Index (MFI). MFI menggabungkan data harga dan volume untuk mengukur apakah uang mengalir masuk atau keluar dari sebuah aset. Ketika harga turun tapi MFI naik, biasanya menandakan akumulasi saat harga turun (dip).
Ingin mendapat insight token lain seperti ini? Daftar Newsletter Crypto Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.
Antara 18 Desember dan 6 Februari, harga Solana turun, namun MFI justru naik. Divergensi bullish ini menandakan modal secara konsisten masuk ke pasar meski tren harga menurun. Sederhananya, pembeli tetap aktif walaupun harga terus turun.
Pertahanan dini di area US$67 inilah yang mencegah Solana langsung jatuh ke batas bawah channel. Ini pula yang menjadi dasar rebound 30%. Tapi, aksi beli saat harga turun saja belum cukup untuk membentuk tren yang tahan lama. Untuk benar-benar memahami apakah support ini kuat, kita perlu melihat siapa yang bertahan setelah rebound terjadi.
Setelah fase dip, fokus beralih ke investor jangka panjang.
Untuk itu, kita menyoroti Hodler Net Position Change (30 hari). Metrik ini memantau apakah wallet yang menyimpan SOL lebih dari 155 hari sedang menambah kepemilikan atau justru melepasnya. Para investor inilah yang biasanya menopang tren jangka panjang.
Pada 6 Februari, holder jangka panjang menambah sekitar 1,88 juta SOL. Pada 8 Februari, angkanya naik jadi sekitar 1,97 juta SOL. Ini berarti kenaikan sekitar 5% dalam akumulasi bersih.
Ini memperlihatkan bahwa holder berkeyakinan mulai kembali setelah koreksi, sejalan dengan aksi beli saat harga turun. Ini menjadi sinyal konstruktif, sebab pemulihan yang bertahan lama jarang terjadi tanpa keterlibatan mereka.
namun, laju akumulasi masih lambat. Pada fase pemulihan kuat, akumulasi jangka panjang biasanya lebih cepat. Di sini, aksi beli berlangsung hati-hati dan bertahap. Ini mengindikasikan bahwa para investor masih menguji rebound, bukan langsung all-in.
Karena keyakinan jangka panjang masih terbentuk, rebound ini tetap rentan. Maka, perilaku trader jangka pendek jadi semakin penting.
Klaster Holder 1-Hari hingga 1-Minggu, yang mewakili wallet sangat reaktif, mulai menjual saat terjadi rebound. Pada 7 Februari, kelompok ini memegang sekitar 8,32% supply SOL. Hingga 9 Februari, porsinya turun drastis jadi sekitar 5,40%. Turun sekitar 35% hanya dalam dua hari, seperti yang tergambar di data HODL Waves.
Metrik ini memisahkan wallet SOL berdasarkan lama koin disimpan.
Meskipun banyak yang menjual, harga SOL tetap mempertahankan sebagian besar kenaikannya. Ini menandakan pembeli saat harga turun, mungkin dari investor jangka panjang, mampu menyerap aksi jual tersebut. Itu menjadi sinyal positif. Namun, masih ada risiko lain yang tampak pada metrik Short-Term Holder NUPL, yang mengukur apakah pembeli baru-baru ini masih untung atau sudah rugi.
Pada 6 Februari, NUPL jatuh ke sekitar -0,95, menandakan kerugian ekstrem dan kepanikan. Setelah rebound, posisinya membaik ke sekitar -0,70, berarti naik sekitar 26%.
Kerugian sudah mulai mereda, namun para holder jangka pendek masih berada di zona rugi cukup dalam. Secara historis, pemulihan awal NUPL sering memunculkan dasar yang tidak stabil. Kerugian sudah mulai membaik terlalu cepat. Jika harga tidak segera naik lebih tinggi, holder jangka pendek yang tersisa mungkin akan menjual lagi agar terhindar dari penurunan lebih dalam. Hal ini bisa memicu tekanan baru di pasar. Ini membuat fokus kembali ke grafik harga.
Semua sinyal teknikal maupun on-chain sekarang berkumpul di area yang sama.
Sejak terjadi rebound, Solana terjebak di rentang sekitar US$80 hingga US$96. Rentang ini menunjukkan keraguan baik dari pembeli maupun penjual.
Selama harga tetap di atas US$80, rebound masih berlangsung, meski potensi aksi jual jangka pendek tetap ada. tapi kalau US$80 jebol, zona berikutnya ada di kisaran US$67–US$64. Jika area itu hilang, jalur menuju US$41 akan terbuka lagi, yang berarti turun sekitar 50% dari level saat ini dan sesuai dengan proyeksi channel yang lebih lebar.
Inilah risiko struktural yang masih menggantung di pasar.
Di sisi atas, US$96 tetap menjadi level paling penting, ujian kunci. Level ini sebelumnya berfungsi sebagai support kuat sebelum breakdown awal Februari dan sekarang menjadi resistance utama.
Breakout di atas US$96 secara konsisten akan memberi sinyal kepercayaan diri baru. dari situ, Solana bisa membidik US$116 dan bahkan US$148. Tanpa berhasil kembali ke level ini, reli kemungkinan besar akan terhambat. Saat ini, harga masih berada di bawah batas itu.
Pembelian jangka panjang berlangsung hati-hati. Kerugian jangka pendek sudah mulai menurun, namun terlalu cepat. Sampai US$96 dapat diambil alih dengan partisipasi yang kuat, rebound ini masih belum ada konfirmasi.

