Sekarang Februari 2026. Dua tahun lalu, industri masih tergila-gila dengan mantra memasukkan satu miliar pengguna baru. Seruan ini menggema di setiap ruang konferensi mulai dari Dubai hingga Tokyo. Hari ini, setelah debu mereda dari penerapan GENIUS Act di Amerika Serikat dan kerangka Markets in Crypto-Assets (MiCA) Uni Eropa yang sudah berjalan penuh, pertanyaannya sudah berubah. Kita tidak lagi bertanya apakah adopsi massal akan terjadi, atau bahkan kapan. Sekarang, kita bertanya kenapa ini tidak terasa seperti revolusi cyberpunk yang dulu kita bayangkan.
Untuk memahami paradoks ini—di mana aset kripto sudah menjadi bagian di sistem keuangan namun bagi orang awam masih terasa asing—BeInCrypto berbincang dengan sejumlah pemimpin industri yang sedang membangun jembatan antara keduanya: Fernando Lillo Aranda (Zoomex), Vivien Lin (BingX), Griffin Ardern (BloFin), Dorian Vincileoni (Kraken), Federico Variola (Phemex), dan Michael Ivanov (Arcanum Foundation).
Keputusan bersama mereka? Teknologinya sudah siap. Regulasi juga (sebagian besar) sudah dibuat. Hambatan terakhir kini bukan lagi soal kode, tapi budaya.
Selama lebih dari satu dekade, penghalang utama untuk masuk ke dunia kripto adalah faktor rasa takut. Kripto terkenal sangat tidak memaafkan. Kekuatan terbesar dari industri ini, yaitu kedaulatan penuh, juga menjadi kelemahan terbesarnya. Kalau kamu kehilangan seed phrase 24 kata, maka tabungan hidupmu ikut hilang. Kalau kamu salah kirim ke alamat hex, danamu lenyap tanpa jejak. Di tahun 2026, kita harus bertanya, apakah era satu kesalahan berakibat fatal benar-benar sudah berakhir?
Dorian Vincileoni, Head of Regional Growth dari Kraken, memberikan penilaian jujur yang menembus gempuran promosi pemasaran. Meskipun teknologi sudah semakin maju, inti filosofi kripto—tanggung jawab penuh individu—tetap menjadi hambatan psikologis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kode.
Vincileoni mengakui:
Meski begitu, Vincileoni menyoroti terjadinya perubahan paradigma besar di industri ini. Kini kita tidak lagi terpaku pada pilihan biner antara centralized exchange atau self-custody yang berbahaya. Sekarang, kita telah memasuki era Smart Accounts.
“Antarmuka yang semakin baik, abstraksi akun, dan perlindungan yang makin cerdas menurunkan risiko human error,” terang Vincileoni.
Evolusi teknologi ini paling terlihat dengan kehadiran standar ERC-4337 dan regulasi serupa di berbagai chain. Michael Ivanov, CEO Arcanum Foundation, menekankan bahwa proses masuk ke dunia kripto masih perlu dibuka lebih mudah, dan para pengguna butuh alat khusus agar tidak kehilangan aset mereka sendiri.
“Saat ini kita masih punya perjalanan panjang untuk menyederhanakan proses masuk ke dunia kripto,” sorot Ivanov.
Pernyataan Ivanov ini penting. Di 2026, UX idaman bukan cuma wallet yang lebih cantik, namun lebih kepada “jaring pengaman”. Industri kripto akhirnya mengakui bahwa orang biasa hanya ingin menikmati keunggulan blockchain—cepat, transparan, dan menjangkau dunia—tanpa perlu paham komputer sampai tingkat ahli sekadar agar uangnya aman.
Kalau tahun 2021 identik dengan ledakan NFT (yang seringkali tidak rasional), dan 2024 adalah tahunnya exchange-traded fund (ETF) Bitcoin, maka tahun 2026 lebih berfokus pada sesuatu yang jauh lebih fungsional: Konvergensi. Pencarian aplikasi native kripto yang diharapkan bisa mengubah dunia, kini sudah banyak ditinggalkan demi memperbaiki sistem keuangan eksisting jadi sepuluh kali lebih baik.
Fernando Lillo Aranda, Direktur Marketing di Zoomex, menyatakan bahwa industri terlalu lama mencari killer app yang hidup sepenuhnya di dalam gelembung Web3. Padahal, terobosan nyata justru terjadi ketika Web3 mulai merembes ke dunia nyata.
“Untuk sampai ke titik tersebut, pertama-tama kita harus memahami kenapa adopsi massal belum benar-benar terjadi,” papar Lillo Aranda.
Lillo Aranda menyoroti bahwa centralized exchange (CEX) sekarang bukan sebatas platform trading; kini mereka menjadi antarmuka keuangan utama bagi generasi digital.
Aranda menambahkan:
Bagaimana bentuknya dalam praktik? Ini bukan soal media sosial terdesentralisasi atau tata kelola on-chain untuk masyarakat umum.
Lillo Aranda menerangkan:
Michael Ivanov melihat killer app sebagai tombak bercabang banyak, dengan alat berbeda untuk demografi yang berbeda pula. Bagi generasi muda digital, titik masuknya bukan layanan perbankan, melainkan hiburan.
“Sekilas memang tidak ada killer app tunggal yang menonjol, namun untuk beberapa audiens tertentu, itu bisa berupa game MMO baru yang terintegrasi Web3,” Ivanov mengusulkan.
Produk paling sukses dalam sejarah aset kripto bukan Bitcoin, melainkan stablecoin. Pada tahun 2025, volume transaksi stablecoin sudah melampaui jaringan kartu kredit besar di beberapa koridor utama. Hal ini membuat banyak orang bertanya-tanya: apakah kita mendekati “Akhir Fiat” untuk belanja sehari-hari?
Vivien Lin, Chief Product Officer di BingX, melihat dunia di mana batas-batas mulai kabur, namun mengingatkan supaya tidak berharap pada revolusi yang terjadi secara tiba-tiba. Transisinya berjalan dengan diam-diam.
“Kita memang bergerak ke arah itu, namun prosesnya akan perlahan, bukan secara mutlak,” ujar Lin.
Meski begitu, Lin menyisipkan sentuhan realisme pada narasi hiper-bitcoinisasi.
Dengan kata lain, di tahun 2026, pengguna mungkin membayar dengan dolar digital, dan mereka tidak selalu peduli apakah itu CBDC, stablecoin dari bank, atau stablecoin terdesentralisasi seperti LUSD, asalkan transaksi berjalan lancar.
Griffin Ardern dari BloFin menawarkan sudut pandang ekonomi makro yang lebih hati-hati. Ia berpendapat bahwa stabilitas kredit negara adalah faktor utama yang menentukan adopsi stablecoin.
“Hal ini kecil kemungkinan terjadi dalam waktu dekat,” terang Ardern soal perubahan total dari fiat ke stablecoin.
Ardern menyampaikan bahwa impian bebas fiat ini sangat dipengaruhi faktor geografis.
Ia juga menyoroti hambatan dari sisi merchant:
Terlepas dari berbagai tantangan ini, bagi para power user dan digital nomad, transisi sudah terjadi sepenuhnya. Michael Ivanov adalah bukti nyata dari realitas tersebut. “The future is here,” ucapnya.
Jika teknologi sudah kokoh, produknya bermanfaat, dan regulasi memberikan kerangka hukum, kenapa kita belum melihat adopsi mencapai 100%? Jawabannya, menurut para ahli kami, ada di Boss terakhir industri ini—persepsi publik.
Federico Variola, CEO Phemex, yakin bahwa saat ini menambah lebih banyak teknologi tidak akan menyelesaikan masalah. Industri ini sudah tidak lagi dibatasi infrastruktur, tetapi oleh reputasinya.
“Adopsi massal lebih dekat dari dugaan banyak orang,” papar Variola.
Variola mengungkapkan bahwa bekas luka era 2022—2023 masih membayangi kesadaran kolektif komunitas.
Sentimen ini digaungkan oleh Mike Williams (Toobit), yang menekankan bahwa industri ini harus beralih dari menjual mimpi menuju pemberian edukasi. Kepercayaan di tahun 2026 dibangun lewat transparansi dan pemahaman, bukan dengan dukungan pesohor atau hype pergerakan harga.
Michael Ivanov merangkum kompleksitas hambatan ini:
Saat kita menelusuri lanskap tahun 2026, wawasan dari Zoomex, BingX, BloFin, Kraken, Phemex, dan Arcanum menggambarkan industri yang akhirnya matang, meninggalkan masa remaja yang penuh spekulasi dan pemberontakan. Kita sudah berhenti mencoba menghancurkan bank dan mulai menjalani tugas berat: memperbarui sistem keuangan global.
Killer App pada masa ini bukanlah satu platform, melainkan Pengalaman Tanpa Hambatan. Misalnya, kartu debit aset kripto yang memberi yield secara real-time (Zoomex). Sebuah game MMO di mana pedang legendarismu adalah aset likuid (Arcanum). Atau pembayaran lintas negara yang selesai dalam hitungan detik dan biaya hanya sebagian kecil sen tanpa pengguna harus melihat blockchain explorer sama sekali (BingX).
Adopsi massal tidak terlihat seperti revolusi yang dipimpin oleh orang-orang yang melambaikan private key di jalanan. Adopsi massal terlihat sebagai migrasi yang tenang dan efisien menuju alat yang lebih baik. Ini terlihat seperti kenyamanan. Seperti yang Variola sampaikan dengan tepat, alatnya sudah siap. Dunia hanya perlu memutuskan untuk mempercayainya.
Transisi menuju dunia berbasis Web3 sedang berlangsung, selangkah demi selangkah melalui transaksi yang tak terlihat. Pada akhir tahun 2026, pertanyaannya bukan lagi kapan aset kripto akan digunakan dalam kehidupan sehari-hari? Jawabannya cukup: Lihatlah sekeliling, itu sudah terjadi.
Ucapan terima kasih khusus untuk Fernando Lillo Aranda, Vivien Lin, Griffin Ardern, Dorian Vincileoni, Federico Variola, dan Michael Ivanov atas kontribusi mereka dalam laporan ini.

