Perkembangan baru dalam konflik Iran telah memicu ketakutan di pasar aset kripto dan saham. Pergeseran ini membuat Bitcoin kehilangan keunggulannya atas saham yang sebelumnya sempat tercipta.
Korelasi antara Bitcoin dan saham kembali muncul pada bulan Maret. Perubahan ini memunculkan spekulasi baru di kalangan analis.
Selama paruh pertama bulan Maret, ketika konflik AS–Israel–Iran terjadi, Bitcoin mencatat kinerja jauh lebih baik dibandingkan emas dan saham. Performa ini memicu spekulasi adanya rotasi modal besar-besaran yang sedang berlangsung.
namun, pada minggu terakhir Maret, indikator sentimen menunjukkan kedua pasar telah masuk ke wilayah fear ekstrem. Crypto Fear & Greed Index telah kembali ke “fear ekstrem.” Indeks serupa di pasar saham juga menurun tajam.
Alphractal, platform data on-chain kripto, menilai ini sebagai sinyal langka dan memperingatkan investor agar tetap waspada. Konvergensi seperti ini sering jadi tanda adanya tekanan pasar yang lebih luas.
Berdasarkan The Kobeissi Letter, survei AAII menunjukkan bahwa 52,0% investor ritel memiliki pandangan bearish untuk enam bulan ke depan. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Mei 2025.
Perubahan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Ultimatum 48 jam Donald Trump soal Selat Hormuz masih terus berjalan. Di saat yang sama, ekspektasi pemangkasan suku bunga telah lenyap di seluruh dunia. Kini, pasar bahkan memasukkan kemungkinan kecil The Fed menaikkan suku bunga dalam perhitungan mereka.
Analis Tony Severino (CMT) mengungkapkan bahwa data historis menunjukkan sebuah pola. Ketika korelasi antara Bitcoin dan S&P 500 turun hingga -0,5 kemudian berbalik naik tajam, biasanya hal itu jadi sinyal bahwa pasar saham akan jatuh. Setelah itu, biasanya Bitcoin juga mengalami penurunan dalam.
Korelasi tersebut kini sudah bergerak di atas nol dan berubah menjadi positif. Pergeseran ini menandakan kedua aset kemungkinan besar akan bergerak sejalan dalam beberapa pekan ke depan. Bila dikombinasikan dengan sentimen negatif, pergerakan naik yang terjadi bisa jadi hanya “dead cat bounce.”
Perkembangan terbaru ini bisa membuat analis dan investor harus meninjau kembali narasi sebelumnya. Bitcoin mungkin tidak berfungsi sebagai aset safe haven saat perang seperti yang diharapkan sebelumnya.
Analisis jangka pendek terakhir dari BeInCrypto memperkirakan Bitcoin bisa turun ke US$65.000 jika level US$68.000 jebol.

