Anthony Scaramucci memperingatkan bahwa keputusan politik Presiden Trump sendiri secara efektif telah “membunuh” CLARITY Act. Mantan direktur komunikasi Gedung Putih itu, yang pernah menjadi asisten Presiden sebelum dipecat hanya setelah 11 hari selama masa jabatan pertama Trump, memprediksi pasar aset kripto akan bergerak fluktuatif sampai akhir masa pemerintahan ini.
Kritik dari Scaramucci memiliki bobot karena pengalamannya langsung di dalam Gedung Putih era Trump. Ia menggambarkan masa jabatannya yang singkat sebagai masa yang penuh perbedaan mendasar tentang bagaimana cara Presiden menjalankan tugasnya.
Mantan direktur komunikasi Gedung Putih ini memaparkan argumen tiga lapis mengapa regulasi kripto kini macet. Pandangan regulasi bernada bearish dari Scaramucci muncul saat Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$66.000, turun lebih dari 45% dari all-time high Oktober 2025 yang melebihi US$126.000.
Dalam wawancara bersama BeInCrypto, Scaramucci berpendapat bahwa Trump yang meluncurkan meme coin sebelum pelantikannya dan mendapat sekitar US$600 hingga US$700 juta telah menciptakan lapisan pertama resistensi politik.
Bahkan Demokrat yang awalnya bersimpati ke kripto kini tidak mau memberikan kemenangan legislatif untuk Presiden. Scaramucci menggambarkan keuntungan besar dari meme coin ini telah meninggalkan “rasa pahit” di antara lawan Trump di Kongres.
Lapis kedua, menurut Scaramucci, berkaitan dengan sikap Trump terhadap Greenland. Ancaman Presiden terhadap wilayah kedaulatan sekutu NATO itu membuat banyak legislator yang seharusnya bisa mendukung regulasi bipartisan jadi menarik diri.
Lapis ketiga yang paling sering diremehkan adalah kampanye militer AS di Iran. Scaramucci menyoroti permintaan anggaran pertahanan senilai US$200 miliar sebagai bukti bahwa perang ini telah menyedot perhatian politik. Ia menerangkan bahwa konflik ini diluncurkan secara sepihak tanpa pemberitahuan kepada Kongres.
Subscribe ke kanal YouTube kami untuk menyimak wawancara dan perspektif ahli langsung dari para pemimpin serta jurnalis
Scaramucci menegaskan bahwa mengumpulkan 60 suara di Senat untuk lolos dari filibuster hampir mustahil di situasi politik saat ini. CLARITY Act memang telah lolos di DPR pada Juli 2025 dengan hasil voting bipartisan 294 lawan 134, tapi versi Senat-nya masih mandek akibat perdebatan masalah yield stablecoin serta gesekan politik yang lebih luas.
Ia memperingatkan bahwa jika kesempatan sebelum Pemilu Paruh Waktu November 2026 terlewatkan, regulasi aset kripto yang berarti bisa tertunda selama bertahun-tahun. Tanpa CLARITY Act, terang Scaramucci, token layer-1 seperti Solana, Avalanche, dan TON akan tetap terkunci.
Kebuntuan regulasi ini juga menjadi penjelasan bagi aksi jual besar-besaran pada digital asset treasury (DAT). Scaramucci memaparkan bahwa sebagian besar perusahaan DAT mengalami tekanan besar, membuat sektor ini mengalami bear market menurutnya.
Meski outlook regulasinya bernada bearish, Scaramucci tetap bullish untuk Bitcoin dalam jangka panjang. Ia memperkirakan Bitcoin akan “bergerak naik fluktuatif”, tapi menyampaikan bahwa potensi tokenisasi penuh dari jaringan layer-1 tidak akan bisa terwujud tanpa kemajuan legislasi.
Scaramucci juga membandingkan strategi akumulasi Bitcoin MicroStrategy seperti momen awal iPhone oleh Apple, dengan pendapat bahwa ketidakpastian ini pada akhirnya akan berganti menjadi hal lumrah di mana-mana. Ia tetap meyakini Bitcoin akan mencapai US$1 juta per koin dalam jangka panjang, didorong oleh transfer kekayaan lintas generasi dari investor lama yang skeptis ke generasi muda yang memandang Bitcoin dengan cara berbeda.
Saat ini, pasar masih menunggu. Jika CLARITY Act lolos, Scaramucci memperkirakan reli besar-besaran. Jika gagal, maka pasar akan tetap volatil seperti yang telah terjadi sepanjang 2026 ini.
