CEBU, Filipina – Perjalanan telah berubah secara signifikan pasca-pandemi, dengan para wisatawan kini lebih mengutamakan kualitas pengalaman daripada kuantitas.
Itulah yang ingin diatasi oleh para pejabat pariwisata dan para pengusaha di Asia Tenggara dalam ASEAN Travel Exchange yang berlangsung dari 28 hingga 30 Januari di Kota Lapu-Lapu.
TRAVEX, sebuah proyek unggulan tahunan dari ASEAN Tourism Forum (ATF), merupakan sebuah platform bagi para pemasok pariwisata dari seluruh Asia Tenggara dan pembeli internasional untuk terhubung, bertukar ide, serta menjajaki kerja sama melalui pertemuan yang telah dijadwalkan sebelumnya.
“Kawasan ini sedang mengalami pola permintaan yang beragam, yang dibentuk oleh pergeseran preferensi para pelancong dan segmentasi pasar. Yang mulai terbentuk adalah bentuk pertumbuhan yang lebih selektif, di mana para pelancong, perantara, dan destinasi semakin bijak dalam menentukan di mana, bagaimana, dan mengapa mereka melakukan perjalanan,” demikian disebutkan oleh penyelenggara Filipina dalam sebuah pernyataan pers.
“Perubahan tersebut menuntut para pemasok pariwisata untuk mempersiapkan diri dengan lebih matang; kini mereka diharapkan tidak hanya datang ke meja perdagangan dengan stok produk, tetapi juga dengan pemahaman yang jelas mengenai posisi pasar mereka, praktik keberlanjutan, disiplin harga, serta kemampuan untuk menyediakan kualitas yang konsisten. Keunggulan kompetitif kini semakin bergantung pada kesinambungan, bukan sekadar kelimpahan,” tambah mereka.
Provinsi Cebu menjadi tuan rumah ATF dari 28 hingga 30 Januari, bersamaan dengan Pertemuan Para Menteri Luar Negeri ASEAN di NuStar Resort, Kota Cebu, pada 29 Januari. Kedua acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan pertama yang diselenggarakan Filipina sepanjang tahun ini, ketika negara tersebut memegang jabatan ketua blok regional tersebut pada tahun 2026.
Christa Escudero, spesialis pertumbuhan dan pengembangan komunitas Rappler, melaporkan. – Rappler.com
/

