Pembiayaan startup selama ini mengikuti pola yang sudah lama dikenal: mengumpulkan modal, berkembang pesat, melakukan keluar melalui akuisisi atau IPO, lalu memberikan imbalan kepada para pemegang saham awal di garis finis. Selama bertahun-tahun, likuiditas dianggap sebagai sesuatu yang hanya terjadi pada akhir perjalanan.
Namun, anggapan tersebut kini mulai berubah. Di seluruh ekosistem startup global, likuiditas sekunder kini semakin diterima dan terstruktur sebagai bagian dari lanskap pendanaan. Alih-alih menunggu hingga satu dekade untuk mencapai momen likuiditas, para pendiri, karyawan, dan investor awal kini semakin sering menemukan cara untuk memperoleh sebagian likuiditas saat perusahaan masih dalam tahap privat.
Perubahan ini tidak terdengar heboh atau dramatis. Perubahan ini berlangsung secara perlahan, deal demi deal, putaran demi putaran. Namun, perubahan ini sedang membentuk kembali cara kerja ekuitas startup, cara mengelola risiko, serta cara mendanai pembangunan perusahaan jangka panjang.
Likuiditas sekunder merujuk pada penjualan saham yang sudah dimiliki dalam sebuah perusahaan privat, alih-alih penerbitan saham baru. Secara sederhana, likuiditas sekunder memungkinkan seseorang yang sudah memiliki kepemilikan ekuitas—seperti karyawan, pendiri, atau investor awal—untuk menjual sebagian sahamnya kepada pembeli lain.
Tren ini berkembang karena satu alasan utama: startup kini lebih lama tetap berstatus privat.
Perusahaan-perusahaan yang dulu mungkin akan go public dalam enam atau tujuh tahun kini tetap berstatus privat hingga sepuluh hingga lima belas tahun. Nilai valuasi meningkat, pasar berkembang, dan pendanaan tahap akhir menjadi alternatif bagi jadwal IPO. Namun, semakin lama sebuah perusahaan tetap privat, semakin lama pula para pemegang saham harus menunggu untuk merealisasikan hasil finansial mereka.
Penundaan ini menimbulkan tekanan.
Karyawan yang memiliki porsi ekuitas yang signifikan mungkin ingin merasakan likuiditas yang dapat mengubah hidup tanpa harus meninggalkan perusahaan. Investor awal mungkin ingin mengembalikan modal ke dalam dana mereka. Pendiri pun mungkin ingin memiliki sedikit keamanan finansial setelah bertahun-tahun membangun perusahaan.
Di sinilah sekunder pendiri mulai menjadi lebih relevan dalam putaran pendanaan modern. Likuiditas sekunder bukanlah pengganti keluar; likuiditas sekunder justru melengkapi perjalanan panjang menuju keluar.
Berbeda dengan pendanaan primer, di mana perusahaan mengumpulkan dana dengan menerbitkan saham baru, transaksi sekunder melibatkan penjualan saham yang sudah ada dari satu pemegang ke pemegang lain.
Beberapa struktur umum yang sering digunakan antara lain:
Perusahaan sendiri sering kali memfasilitasi transaksi ini, dengan menetapkan batasan dan memastikan kontrol atas cap table. Sebagian besar transaksi sekunder memerlukan persetujuan dewan direksi dan diatur dengan ketat.
Ada beberapa faktor pasar yang mendorong likuiditas sekunder menjadi arus utama.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, startup kini mengumpulkan banyak putaran pendanaan tahap akhir tanpa harus go public. Kebutuhan akan likuiditas tidak berhenti hanya karena IPO tertunda.
Opsi sekunder memberikan ruang untuk bernapas.
Komponen ekuitas paling efektif ketika para karyawan percaya bahwa ekuitas tersebut dapat dikonversi menjadi hasil nyata. Jika likuiditas selalu menjadi janji yang jauh, maka ekuitas menjadi kurang bermotivasi.
Memungkinkan likuiditas parsial dapat meningkatkan retensi dan moral karyawan, terutama di pasar rekrutmen yang sangat kompetitif.
Dana ventura beroperasi berdasarkan jadwal. Sebuah dana mungkin perlu mengembalikan modal kepada para mitra terbatas bahkan ketika sebuah perusahaan masih privat.
Penjualan sekunder memungkinkan investor untuk mengelola eksposur tanpa harus sepenuhnya keluar.
Pasar privat kini semakin dalam. Terdapat lebih banyak pembeli institusional, lebih banyak transaksi yang terstruktur, dan lebih banyak data yang tersedia.
Kematangan ini membuat likuiditas sekunder lebih mudah dilaksanakan secara bertanggung jawab.
Likuiditas sekunder mungkin terdengar seperti sekadar catatan finansial, namun sebenarnya memiliki dampak operasional yang nyata.
Membangun sebuah perusahaan selama satu dekade tanpa adanya likuiditas bisa sangat melelahkan secara mental dan finansial. Bahkan likuiditas yang sederhana dapat mengurangi stres pribadi dan memungkinkan para pendiri fokus pada eksekusi daripada sekadar bertahan hidup.
Para karyawan lebih cenderung menghargai ekuitas ketika mereka melihat adanya jalur nyata menuju likuiditas. Jendela likuiditas sekunder membuktikan keberlanjutan struktur kompensasi.
Transaksi sekunder dapat membantu mengkonsolidasikan kepemilikan awal yang terfragmentasi atau menghadirkan investor yang berkomitmen jangka panjang.
Ketika para pemegang saham dapat merasakan sebagian imbalan selama pertumbuhan, bukan hanya pada saat keluar, hal ini menciptakan ekosistem yang lebih berkelanjutan.
Sikap investor terhadap likuiditas sekunder telah berubah secara signifikan dalam satu dekade terakhir. Dahulu, penjualan saham sekunder sering dianggap sebagai tanda merah, yang dikaitkan dengan ketidakpastian atau kurangnya kepercayaan terhadap masa depan perusahaan. Namun kini, ketika startup semakin lama tetap privat dan siklus pendanaan semakin panjang, banyak investor ternama melihat transaksi sekunder yang terkontrol sebagai bagian yang praktis dan matang dari pendanaan tahap akhir.
Sebagian besar investor mendukung transaksi sekunder ketika bisnis menunjukkan fundamental yang kuat, penjualan tetap terbatas dalam skala, dan sang pendiri terus menunjukkan komitmen jangka panjang. Mereka juga melihat nilai ketika likuiditas membantu meningkatkan retensi karyawan atau stabilitas secara keseluruhan, serta ketika pembeli yang masuk adalah pihak yang terpercaya dan selaras dengan tujuan perusahaan. Akibatnya, likuiditas sekunder kini semakin dianggap sebagai fitur normal pada perusahaan privat yang mapan, bukan lagi sebagai suatu pengecualian yang tak biasa.
Likuiditas sekunder secara diam-diam sedang membentuk kembali insentif di seluruh dunia startup.
Namun, likuiditas sekunder juga membutuhkan disiplin.
Perusahaan yang paling sehat memperlakukan likuiditas sekunder sebagai mekanisme yang terkontrol, digunakan secara hati-hati, selaras dengan tujuan jangka panjang, dan diatur dengan transparansi.
Startup kini tidak lagi beroperasi hanya berdasarkan satu momen garis finis. Likuiditas kini menjadi sebuah kontinum, bukan lagi sebuah jurang yang tiba-tiba.
Likuiditas sekunder bukanlah sebuah revolusi yang mencuri perhatian, namun perubahan yang signifikan.
Seiring dengan semakin lama startup tetap privat, para pemegang saham ekuitas membutuhkan cara baru untuk mengelola risiko, imbalan, dan waktu. Transaksi sekunder menawarkan jalan tengah itu, memungkinkan hasil parsial tanpa mengganggu ambisi jangka panjang.
Dunia startup sedang beradaptasi dengan realitas yang lebih matang: membangun perusahaan yang hebat membutuhkan waktu, dan likuiditas seharusnya bukan lagi sebuah peristiwa all-or-nothing di akhir perjalanan.
Likuiditas sekunder tidak mengubah tujuan pembangunan perusahaan. Yang berubah adalah cara orang bertahan dan tetap termotivasi sepanjang perjalanan.
Dan perubahan yang tenang ini mungkin akan menentukan era berikutnya dalam pendanaan startup.
/

