Menurut seorang penulis di The Atlantic, keputusan Presiden Donald Trump untuk menutup Kennedy Center selama dua tahun sebenarnya merupakan pengakuan diam-diam atas kegagalan yang dipicu oleh kesalahan yang sudah biasa terjadi. Setelah mengambil alih institusi seni ikonik tersebut meski tidak pernah menyaksikan satu pun pertunjukan di sana, Trump berkeras bahwa penilaian pribadinya akan mampu menghidupkannya kembali. Namun, justru langkah itu memicu pengunduran diri para staf, penarikan diri para artis, penurunan drastis penjualan tiket, serta kekacauan dalam penyusunan program. Klaim terbarunya bahawa penutupan tersebut diperlukan untuk revitalisasi secara langsung bertentangan dengan berbulan-bulan pujian publik yang menyatakan bahawa gedung tersebut sudah diperbaiki dan kini berkembang pesat, sehingga justifikasi yang diberikan menjadi sulit untuk dibuktikan. Menurut David A. Graham, insiden ini mencerminkan pola tata kelola yang lebih luas dari Trump: rasa percaya diri yang berlebihan, ketidakpedulian terhadap keahlian, serta kesalahan perhitungan berulang mengenai dukungan publik—semua itu membuat proyek-proyek bergengsi akhirnya runtuh karena beban sendiri.
Sila tonton video di bawah ini.
Pelayar anda tidak menyokong tag video. Penutupan Kennedy Center oleh Trump membongkar lagi satu taruhan buruk, demikian amaran The Atlantic Penutupan Kennedy Center oleh Trump membongkar lagi satu taruhan buruk, demikian amaran The Atlantic


