Perang AS-Iran kini telah berkembang lebih jauh dari sekadar krisis energi menjadi guncangan ekonomi multi-sektor, dengan setidaknya enam krisis yang terjadi bersamaan dan berpotensi mengancam stabilitas keuangan global.
Analis Crypto Rover memberikan peringatan atas berbagai ancaman yang saling berhubungan, dan menuturkan bahwa pasar “menuju ke arah krisis segalanya.”
Analis tersebut menyampaikan bahwa hedge fund kini untuk pertama kalinya sejak Juni 2022 menjadi net bullish terhadap gandum. Blokade Selat Hormuz telah mengganggu sekitar 30% perdagangan pupuk global yang dikirim lewat laut, sehingga harga urea naik sekitar 50% sejak perang dimulai.
Dengan musim tanam yang sedang berjalan, perusahaan analitik AI Helios memperingatkan bahwa harga pangan global bisa naik 12% sampai 18% pada akhir 2026.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi Jepang terus mencatat rekor tertinggi dalam beberapa dekade, dan menurut analis, pola ini secara historis kerap terjadi sebelum terjadinya crash pasar secara luas.
Tekanan juga semakin terasa pada sektor kredit swasta. BeInCrypto melaporkan bahwa banyak perusahaan, termasuk Blue Owl, BlackRock, dan Apollo membatasi penarikan dana di tengah meningkatnya permintaan pencairan.
CEO JPMorgan Jamie Dimon juga memperingatkan bahwa “kerugian pada semua pinjaman leverage pada umumnya akan lebih besar dari ekspektasi, dibandingkan dengan kondisi saat ini,” ujar Dimon.
Tingkat tunggakan pinjaman subprime kini naik ke 10% dari seluruh total utang yang beredar, dan ini adalah level tertinggi dalam 11 tahun terakhir, menurut laporan The Kobeissi Letter.
Angka ini sudah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak 2021 sehingga memunculkan perbandingan dengan Krisis Keuangan Global.
Kenaikan harga minyak yang tajam membuat kekhawatiran inflasi dan potensi resesi ikut membesar. Ekspektasi inflasi konsumen AS melonjak menjadi 6,2% pada bulan Maret. Angka ini adalah yang tertinggi sejak Agustus 2025.
Selain itu, Aramco milik Arab Saudi akan menaikkan harga minyak mentah Arab Light untuk penjualan di Asia pada Mei ke premium sebesar US$19,50 per barel di atas harga acuan pasar, mengutip Bloomberg.
Terakhir, krisis di sektor industri juga mulai terasa. Serangan Iran ke pabrik aluminium di Teluk menyebabkan harga alumunium semakin melonjak sejak konflik muncul.
Emirates Global Aluminum (EGA) memperingatkan bahwa pemulihan penuh di fasilitas Al Taweelah bisa memakan waktu hingga 12 bulan.
Apakah gencatan senjata akan terjadi dapat menjadi penentu apakah berbagai krisis ini tetap terpisah-pisah atau akan bergabung menjadi masalah yang jauh lebih besar.
Langganan channel YouTube kami untuk menonton pemimpin dan jurnalis saat berbagi insight ahli


