Pasar kripto kembali diguncang oleh insiden ekstrem setelah memecoin berbasis Solana, Fartcoin, mengalami penurunan harga hingga 50% hanya dalam satu jam. Kejatuhan ini dipicu oleh kegagalan posisi leverage besar senilai sekitar $145 juta yang berujung pada likuidasi masif.
Data on-chain menunjukkan bahwa dua wallet utama membangun posisi long besar hingga 145,24 juta token di platform Hyperliquid. Posisi ini sebelumnya turut mendorong kenaikan harga Fartcoin dari sekitar $0,16 ke $0,25 dalam beberapa hari.
Namun, karena likuiditas pasar yang tipis, tekanan jual kecil saja mampu memicu efek berantai. Saat harga mulai turun, posisi leverage tersebut langsung terkena likuidasi besar-besaran.
Akibatnya, harga Fartcoin jatuh drastis dari $0,2519 ke $0,1244 dalam satu candle, sementara pelaku di balik wallet tersebut mengalami kerugian sekitar $3 juta.
Menurut Tim Research Tokocrypto, kejadian ini menjadi contoh nyata risiko ekstrem dari trading berbasis leverage tinggi, terutama pada aset dengan likuiditas rendah. “Pergerakan harga pada memecoin sangat rentan dimanipulasi karena struktur market yang tipis. Ketika posisi besar masuk, harga bisa naik cepat, tetapi juga bisa runtuh lebih cepat saat likuidasi terjadi,” jelas tim tersebut
Mereka juga menyoroti bahwa strategi seperti ini sering menciptakan ilusi permintaan. “Kenaikan harga yang didorong oleh satu atau beberapa pemain besar bukanlah sinyal fundamental. Ketika posisi tersebut ditutup, pasar kehilangan ‘support buatan’ dan harga langsung terkoreksi tajam,” tambahnya.
Baca juga: Fartcoin Naik 100% Pertanda Altcoin Siap Rally Lagi?
Uniknya, dilaporkan Coindesk, dampak dari likuidasi ini tidak hanya dirasakan oleh pihak yang salah posisi. Karena ukuran likuidasi terlalu besar dibandingkan order book, sistem auto-deleveraging (ADL) di Hyperliquid ikut aktif.
Mekanisme ini secara otomatis menutup posisi trader lain yang berada di sisi berlawanan (short), meskipun mereka sedang dalam posisi profit. Dua akun short besar bahkan dipaksa ditutup dengan total keuntungan sekitar $849.000 tanpa biaya transaksi.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam kondisi ekstrem, sistem exchange dapat melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas dan mencegah kerugian sistemik.
Fartcoin sendiri merupakan memecoin yang tidak memiliki nilai fundamental kuat, namun berhasil menarik perhatian komunitas dan sempat masuk jajaran token dengan open interest derivatif besar.
Selain itu, token ini juga sebelumnya terdampak eksploitasi besar di platform lain, menambah tekanan terhadap kepercayaan pasar.
Kejadian ini kembali menegaskan bahwa aset dengan likuiditas rendah dan volatilitas tinggi memiliki risiko yang jauh lebih besar, terutama ketika diperdagangkan dengan leverage tinggi.
Baca juga: Berkenalan dengan 50 EMA, Indikator yang Jadi Pertanda Bull Market Bitcoin
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
The post Fartcoin Longsor 50%: Tragedi Rp2 Triliun di Pasar Meme appeared first on Tokocrypto News.


