Ranjau yang Iran sebarkan di Selat Hormuz kini justru menghalangi negara itu untuk memperluas akses ke jalur laut tersebut, karena Teheran tidak dapat melacak di mana semua ranjau itu berakhir, ujar pejabat AS.
Fakta ini terungkap ketika delegasi senior dari kedua negara akan bertemu di Islamabad untuk bernegosiasi dan menguji apakah gencatan senjata bisa bertahan.
Menurut The New York Times, Iran menggunakan perahu kecil untuk menebar ranjau di selat tersebut setelah AS dan Israel meluncurkan serangan mereka pada 28 Februari. Pejabat AS menuturkan, banyak ranjau yang kemungkinan diletakkan tanpa koordinat yang dicatat, atau dengan cara yang membuatnya terbawa arus.
Penyebaran ranjau yang sembarangan ini menciptakan masalah yang sebelumnya tidak Iran perkirakan. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan bahwa Teheran akan mengizinkan kapal melintas di jalur laut itu, namun “dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis.” Pejabat AS menerangkan bahwa frasa ini secara langsung mengacu pada ketidakmampuan Iran untuk menemukan atau membersihkan ranjau mereka sendiri.
Ikuti kami di X agar tidak ketinggalan berita terbaru
Sementara itu, hal ini secara langsung melemahkan sistem biaya yang telah Iran umumkan. Berdasarkan skema tersebut, tanker bermuatan harus mengirim detail kargo melalui email ke otoritas Iran dan kemudian membayar US$1 per barel minyak menggunakan Bitcoin dalam hitungan detik. Sistem ini bertujuan untuk menghindari sanksi.
Hormuz Letter menyoroti, dengan lalu lintas sebelum perang sekitar 20 juta barel per hari, skema biaya ini bisa menghasilkan sekitar US$7,3 miliar per tahun. Namun, karena ranjau yang belum terpetakan masih hanyut di sekitar selat, potensi pendapatan dari biaya tersebut saat ini sebatas teori.
Delegasi tinggi dari kedua negara telah tiba di Islamabad untuk memulai pembicaraan gencatan senjata. Wakil Presiden JD Vance memimpin tim AS bersama Steve Witkoff dan Jared Kushner. Sementara, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Araghchi memimpin delegasi Iran.
Presiden Trump telah menuntut “pembukaan selat yang sepenuhnya, segera, dan aman” sebagai syarat keberlangsungan gencatan senjata. Akan tetapi, kedua pihak sama-sama tidak memiliki kemampuan membersihkan ranjau.
Masalah ranjau ini semakin memperparah dampak ekonomi yang luas. BeInCrypto belum lama ini menyoroti bahwa penutupan Selat Hormuz juga mengganggu rantai pasokan pupuk dan aluminium global, sehingga dampak kerugian jauh melampaui harga minyak saja.
Apakah Islamabad bisa melahirkan kerangka kerja untuk pembersihan ranjau jangka panjang dan memastikan pembukaan jalur selat yang terverifikasi akan menentukan apakah gencatan senjata dapat bertahan hingga setelah kedaluwarsa pada 22 April.
Langganan kanal YouTube kami untuk menyaksikan wawasan dari para pemimpin dan jurnalis terkemuka

