Harga Bitcoin (BTC) kini diperdagangkan di kisaran US$77.500, naik 13,5% dalam 30 hari terakhir dan masih jauh di atas level terendah bulan Februari.
Sekilas, kondisi ini terlihat seperti pemulihan yang mulus. Tapi, jika melihat lebih dalam pada struktur rebound, terdapat gap cost-basis antara dua kelompok holder yang selalu terjadi sebelum fase bawah setiap siklus sejak 2015, serta lonjakan tajam pada pembelian di spot, semuanya mengisyaratkan cerita berbeda soal ke mana arah pergerakan selanjutnya.
Bitcoin sempat anjlok 38,21% antara 14 Januari hingga 6 Februari, turun dari US$97.950 ke US$60.529 hanya dalam waktu sekitar tiga minggu. Pada 6 Februari, muncul candle kapitulasi dengan batang volume hijau terbesar sepanjang grafik beberapa bulan terakhir, menandai puncak aksi jual panik.
Sejak titik terendah itu, harga bergerak naik dalam channel naik, yang secara teknikal terlihat bullish jika dilihat sendiri, namun pola ini sebenarnya berfungsi sebagai pola korektif ketika muncul setelah penurunan tajam. Biasanya, channel seperti ini berujung pada kelanjutan tren semula, yang kali ini adalah turun. Hanya jika harga menembus batas atas channel, maka pola tersebut bisa berubah.
Ingin insight token lain seperti ini? Daftar Newsletter Crypto Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.
Volume justru menunjukkan hal yang lebih mengkhawatirkan. Antara 6 Februari hingga 21 April, harga memang terus naik, namun volume candle hijau justru menyusut. Setiap level puncak harga baru di dalam channel, pembeliannya malah semakin berkurang jika dibandingkan jumlah dolar saat volume tertinggi. Pola ini menandakan keyakinan pembeli semakin pudar, bukan pembalikan tren yang solid.
Pelemahan volume malah memunculkan pertanyaan lebih besar, apakah reli ini benar-benar bagian dari siklus pemulihan sungguhan. Sebuah sinyal on-chain dengan rekam jejak selama 11 tahun memberikan jawaban langsung.
Dua metrik cost-basis on-chain menjelaskan mengapa bear market mungkin belum selesai, dan jarak di antara kedua metrik inilah yang jadi penanda penting.
Short-Term Holder (STH) Realized Price, yang melacak rata-rata cost basis wallet yang memegang Bitcoin kurang dari 155 hari, kini berada di US$81.019.
Long-Term Holder (LTH) Realized Price, yang melacak wallet yang memegang Bitcoin lebih dari 155 hari, berada di US$45.625. Beda antara kedua kelompok ini kini tercatat US$35.394, dengan harga STH 77% di atas LTH.
Gap ini sendiri bukan peringatan utamanya. Hal yang penting adalah setiap bear market Bitcoin sejak 2015 selalu berakhir hanya setelah gap ini tertutup, dengan STH Realized Price jatuh di bawah LTH Realized Price.
Ini terjadi pada awal 2015, lalu di akhir 2018, dan terakhir pertengahan 2022. Pada setiap kasus, titik perpotongan ini menandakan pasokan spekulatif jangka pendek benar-benar habis, dan holder jangka panjang mengambil alih pasar. Setelah itu, pembeli baru masuk di harga cost basis yang lebih tinggi, membuat harga STH kembali di atas LTH dan menandai dimulainya siklus baru.
Pada siklus kali ini, perpotongan tersebut belum terjadi. STH masih tetap 77% di atas LTH walau telah terjadi crash di bulan Februari.
Pembacaan dari sisi teknikal ini sebenarnya sederhana. Holder jangka pendek masih punya ruang cost basis untuk kapitulasi. Rata-rata pembeli terakhir kini justru dalam posisi rugi di US$81.019, sementara harga Bitcoin berada dekat US$77.500, namun sebagian besar belum melakukan aksi jual besar-besaran. Level terendah di Februari di US$60.529 memang cukup tajam, tetapi terjadi sangat singkat sehingga nampaknya belum cukup untuk mendorong cost basis kelompok STH turun di bawah LTH. Selama gap ini belum tertutup atau berbalik, pola siklus historis masih belum selesai.
Jika dikombinasikan dengan melemahnya volume, grafik dan data on-chain sama-sama mengisyaratkan arah serupa. Sekarang, kita perlu melihat apa yang sebenarnya dilakukan pelaku pasar spot sementara masalah struktural ini belum teratasi.
Exchange Net Position Change, metrik Glassnode yang melacak arus bersih harian Bitcoin masuk dan keluar dari wallet exchange, kini turun tajam ke wilayah negatif. Pada 12 April, posisi tercatat di -14.850 BTC, yang berarti ada arus keluar bersih. Hingga 21 April, angkanya turun makin dalam ke -70.988 BTC, yang menandakan percepatan arus penarikan spot hampir lima kali lipat.
Token yang keluar dari exchange biasanya menandakan akumulasi. Pembeli memindahkan koin ke cold storage karena mereka tidak berniat menjualnya dalam waktu dekat. Sinyal ini sendiri memberi indikasi bullish, sama seperti pola channel naik yang terlihat di permukaan.
Namun, jika dibandingkan dengan struktur channel dan selisih biaya holder, sinyal ini memberi kesan berbeda. Pembeli spot sedang mengakumulasi secara agresif, padahal struktur harga menunjukkan volume yang melemah dan sinyal siklus on-chain mengingatkan bahwa suplai jangka pendek belum habis. Jika batas atas channel tetap bertahan dan terjadi kapitulasi STH, para akumulator spot hari ini bisa saja berakhir memegang aset di harga lokal yang tinggi.
Data yang ada memang belum memastikan adanya perangkap, tapi semua bahan mulai terlihat jelas. Diperlukan pemicu harga yang tegas untuk menentukan apakah akumulasi ini memang terlalu dini atau justru keliru.
Ada dua level harga BTC yang menentukan hasil akhirnya.
Jika Bitcoin naik, harga harus bisa menutup harian di atas US$78.240, yaitu level swing-high terdekat, lalu diikuti US$79.240 pada batas atas channel. Level US$79.240 ini berada dekat retracement 50% dari penurunan Januari–Februari. Jika harga bisa menutup secara meyakinkan di atasnya, ini berarti setengah kerugian bear sudah pulih dan pembacaan channel korektif berubah menjadi reversal sungguhan. Hasil tersebut akan membuat hipotesis STH-LTH terpukul mundur, sekaligus menguatkan akumulasi spot yang terlihat sepanjang pekan ini.
Sebaliknya, jika gagal menembus US$79.240, peluang breakout tetap lemah. Batas bawah pertama berada di US$73.499 di dalam channel, lalu US$69.404 pada level Fibonacci 0,236. Jika harga turun di bawah US$69.404, akan terbuka jalan menuju US$63.938 di level 0,382 dan kembali menguji support terendah Februari di US$60.529. Jika masih terus turun, retracement 0,5 pada US$59.520 akan menjadi target selanjutnya.
Risiko dalam waktu dekat sekitar 5% menuju batas bawah pertama. Risiko struktural, jika crossover STH-LTH benar-benar terjadi, akan mendekati 22% turun ke wilayah bawah Februari.
Saat ini, US$79.240 menjadi pembatas antara reversal tren yang benar-benar terkonfirmasi dengan skenario di mana volume reli yang memudar, gap siklus yang belum terselesaikan, dan aksi beli spot yang agresif justru menjadi perangkap bagi pembeli yang telat masuk.

