Revolut akan menutup layanan trading logam mulia di seluruh Uni Eropa pada 15 Juni 2026. Langkah ini mengakhiri eksposur nasabah ke emas, perak, platinum, dan paladium di hampir semua pasar EEA. Sementara itu, bisnis aset kripto mereka terus berkembang.
Perusahaan fintech ini mengacu pada Klausul 6.5 dalam Syarat Bisnis mereka dan memberikan pemberitahuan dua bulan kepada nasabah. Posisi yang masih tersisa setelah 15 Juni akan secara otomatis dilikuidasi dengan harga pasar.
Nasabah terdampak menerima notifikasi dalam aplikasi yang menjelaskan peninjauan produk terbaru.
Nasabah bisa menjual kepemilikan logam mulia mereka secara manual di aplikasi hingga tenggat waktu. Biaya komisi yang dikenakan saat penjualan atau likuidasi paksa akan dikembalikan sebagai pembayaran satu kali setelah 15 Juni.
Penutupan layanan ini berlaku di lebih dari 30 pasar Wilayah Ekonomi Eropa, termasuk Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Irlandia, dan Polandia.
Entitas Revolut di Inggris masih menawarkan trading logam mulia, sehingga terjadi perbedaan layanan antara nasabah Inggris dan Eropa.
Tidak ada pendaftaran baru yang diizinkan, dan pengguna lama tidak dapat menambah posisi terbuka. Layanan ini sudah hadir sejak beberapa tahun lalu. Perak ditambahkan ke penawaran EEA pada 2020, bersama emas, platinum, dan paladium menyusul setelahnya.
Penutupan layanan ini sangat berbeda dengan langkah Revolut di aset digital. Pada Oktober 2025, perusahaan ini meraih lisensi Markets in Crypto-Assets (MiCA) dari Cyprus Securities and Exchange Commission. Otorisasi tersebut memberikan akses lintas 30 pasar EEA.
Revolut X, exchange kripto canggih milik mereka, juga sudah diluncurkan ke pasar-pasar yang sama di awal tahun ini. Layanan ini menawarkan lebih dari 200 token dan lebih dari 400 pasangan trading.
Perusahaan juga meluncurkan konversi stablecoin ke dolar AS tanpa biaya di bawah lisensi barunya.
Revolut melaporkan pendapatan senilai US$6 miliar di 2025 dan laba sebelum pajak sebesar US$2,3 miliar. Aset kripto disebut sebagai pendorong utama pertumbuhan mereka.
Investor awal Revolut, Max Karpis, menganggap penutupan ini sebagai keputusan bisnis, bukan karena tekanan regulasi. Ia menyoroti volume transaksi yang rendah dan margin tipis sebagai pemicu utama.
Pandangan itu didukung dengan tidak adanya tindakan dari lembaga pengawas. Revolut menggunakan klausul pemutusan kontrak standar.
Beberapa pengguna setuju dengan anggapan tersebut, sedangkan yang lain berpendapat logam mulia masih layak masuk portofolio saat ini.
Karpis juga menyoroti exchange-traded fund sebagai pengganti alami atas eksposur logam mulia yang hilang.
Bagi nasabah terdampak, Bitcoin, ETF emas spot, dan broker khusus logam mulia dengan alokasi fisik tetap menjadi alternatif eksternal.
Kejadian ini menyoroti dilema yang sering terjadi di fintech. Eksposur berbasis aplikasi memang praktis, namun bisa saja layanan tersebut ditarik cepat jika secara bisnis tidak menguntungkan.


