Cryptoharian – Seorang tentara Angkatan Darat Amerika Serikat didakwa menggunakan informasi rahasia pemerintah untuk meraih keuntungan besar lewat taruhan di platform prediction market Polymarket.
Menurut dakwaan yang dibuka oleh US Attorney’s Office for the Southern District of New York, prajurit bernama Gannon Ken Van Dyke dituduh memanfaatkan informasi operasi militer rahasia terkait Venezuela untuk memasang taruhan bernilai ratusan ribu dolar.
Jaksa menyebut Van Dyke terlibat dalam operasi militer bernama “Operation Absolute Resolve”, misi yang berkaitan dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Karena posisinya dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi tersebut, Van Dyke disebut memiliki akses ke informasi nonpublik yang sangat sensitif.
Meski telah menandatangani perjanjian kerahasiaan, ia diduga menggunakan informasi itu untuk keuntungan pribadi lewat kontrak taruhan di Polymarket.
Dalam dakwaan disebutkan bahwa antara akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, Van Dyke membuat akun Polymarket dan memasang sekitar 13 taruhan terkait Venezuela.
Semua posisinya berada di sisi “YES”, termasuk kontrak seperti:
Total taruhan yang dipasang mencapai sekitar US$ 33 ribu.
Baca Juga: Supply Ethereum Mulai Menipis, Harga ETH Terancam Melonjak
Tak lama kemudian, pasukan khusus AS berhasil menangkap Maduro dan istrinya di Caracas pada 3 Januari 2026, sebelum Presiden Donald Trump mengumumkan operasi tersebut secara publik.
Setelah hasil kontrak diputuskan Polymarket, Van Dyke diduga mengantongi keuntungan sekitar US$ 409 ribu atau lebih dari Rp6,6 miliar.
Pihak berwenang menyebut Van Dyke sempat mencoba menyembunyikan keterlibatannya ketika aktivitas trading mencurigakan mulai dibahas media dan komunitas online.
Ia diduga:
Kini ia menghadapi sejumlah dakwaan berat, termasuk fraud, pencurian informasi pemerintah nonpublik, hingga transaksi keuangan ilegal.
Direktur FBI Kash Patel mengatakan kasus ini menjadi pesan bahwa tidak ada pemegang akses rahasia yang kebal hukum.
Menurutnya, siapa pun yang mencoba memanfaatkan akses dan informasi negara demi keuntungan pribadi akan ditindak tegas.
Kasus Van Dyke menambah daftar kontroversi seputar prediction market seperti Polymarket dan Kalshi.
Sebelumnya, Kalshi juga menjatuhkan sanksi kepada sejumlah kandidat politik AS karena terbukti bertaruh pada hasil pemilu mereka sendiri.


