Dalam waktu 48 jam, Uni Emirat Arab (UEA) diperkirakan akan keluar dari OPEC. Langkah ini mengakhiri disiplin kartel selama lebih dari setengah abad, sekaligus memicu pergeseran kekuasaan di pasar energi global dan aset kripto pada momen yang paling tidak menguntungkan.
Tokoh senior di Konsorsium BRICS+ mengonfirmasi keputusan tersebut secara eksklusif kepada BeInCrypto. Mereka menggambarkannya sebagai pertaruhan strategis sekaligus pernyataan kemerdekaan secara diam-diam.
Di Abu Dhabi, mereka mengambil keputusan secara rasional. UEA merasa mereka bisa memompa lebih banyak, menjual lebih banyak, dan tumbuh lebih cepat di luar kartel, dibandingkan jika tetap di dalamnya.
Itulah penjelasan Dr. Ebrahim D. Mello, Anggota Dewan Bisnis di Konsorsium BRICS+ (Iran-Rusia Business Hub), kepada BeInCrypto.
Jika jadwalnya sesuai, maka langkah ini mengakhiri 50 tahun kebijakan minyak Timur Tengah yang terkoordinasi dalam waktu lebih singkat daripada rata-rata kabinet menyusun siaran pers.
Pecahnya kartel ini bukan terjadi begitu saja. Selama beberapa bulan terakhir, dua produsen paling berpengaruh di OPEC diam-diam sudah menguji batas-batas kartel ini.
Dia menyoroti bahwa logika dasar berdirinya kartel ini, yaitu Amerika Serikat dan Arab Saudi bersama-sama mengarahkan kebijakan minyak Timur Tengah, sudah mulai rapuh selama bertahun-tahun.
Menurut Igbal Guliyev, Dekan Fakultas Ekonomi Keuangan MGIMO dan penulis kanal Telegram IG Energy, motivenya bersifat strategis, bukan simbolis.
UEA memang sedang melakukan ekspansi besar-besaran di industri minyak, gas, petrokimia, dan energi rendah karbon. Kuota justru menjadi penghambat. Dengan mundur, mereka jadi bisa bergerak lebih cepat.
Guliyev memperingatkan bahwa dampak langsungnya tidak akan berjalan mulus.
Risiko ini makin besar akibat meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz, di mana setiap gangguan pasokan langsung bisa menggerakkan harga global hanya dalam hitungan menit.
Bahkan, aksi terbaru Presiden Donald Trump yang tengah bersiap untuk memperluas blokade AS terhadap Iran di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak Brent menembus US$115, level yang terakhir terjadi pada 2022.
Sejarah pun kadang tidak mudah ditebak. Ketika Saddam Hussein menginvasi Kuwait, Mello mengingatkan, harga minyak “tidak naik satu dolar pun. Justru turun US$10.”
Dengan kata lain, geopolitik jarang memberi keuntungan pada perdagangan yang terlihat jelas, seperti halnya saat pasar kini harus menanggung kenaikan harga US$30 hanya dalam dua minggu.
Volatilitas minyak tidak hanya berdampak pada sektor minyak saja. Hal ini langsung memengaruhi ekspektasi inflasi, kebijakan bank sentral, dan minat risiko yang menjadi penggerak Bitcoin (BTC) serta pasar aset kripto secara umum.
Penurunan harga minyak yang terkontrol bisa mengurangi tekanan inflasi sehingga mendukung aset berisiko secara tidak langsung. Tapi, pergerakan liar justru akan menambah ketidakpastian di pasar yang masih mencermati sinyal dari The Fed.
Harga minyak yang rendah bisa mengurangi ketakutan stagflasi. Sebaliknya, volatilitas tinggi justru membangkitkan lagi ketakutan tersebut.
1 Mei, yaitu tanggal efektif yang dilaporkan untuk keluarnya UEA, tinggal kurang dari 48 jam lagi. Akan ada tiga pertanyaan penting yang akan menentukan dampaknya.
Era diplomasi minyak yang dapat diprediksi sudah berakhir. Penggantinya akan bergerak lebih cepat, kurang terkoordinasi, dan jauh lebih sulit untuk diprediksi harganya bagi siapa pun yang menanggung risiko.
Langganan channel YouTube kami untuk menyaksikan para pemimpin dan jurnalis memberikan wawasan ahli


