Futures tembaga melonjak ke rekor tertinggi di US$6,69 per pon, naik 16,98% hanya di tahun 2026 saja, melampaui kenaikan futures emas yang sebesar 8,38% tahun ini.
Di balik pergerakan harga ini, terjadi kondisi pasokan global yang sangat ketat, karena produksi tambang masih terhambat oleh berbagai gangguan yang masih berlangsung.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara real-time
The Kobeissi Letter menyoroti bahwa logam dasar ini sudah naik lebih dari 40% dalam 12 bulan terakhir. Postingan itu menerangkan bahwa pasokan yang ketat, persediaan di Cina yang turun, serta meningkatnya permintaan data center menjadi pendorong kenaikan harga.
Tekanan permintaan juga semakin terasa. Data center, pabrik kendaraan listrik, jaringan listrik, dan infrastruktur artificial intelligence (AI) semuanya mengandalkan kabel tembaga.
Ekspor Cina pada April melonjak 14% secara tahunan, yang didorong oleh pengiriman produk clean-tech, menurut Kobeissi Letter. Komponen-komponen ini sangat membutuhkan tembaga, sehingga pasokan global makin terbatas.
Analis kini mengaitkan reli harga tembaga dengan potensi pergerakan tertunda di pasar altcoin. Ash Crypto menuturkan bahwa reli tembaga pada 2017 dan 2021 mendahului lonjakan altcoin sekitar enam bulan kemudian.
Sementara itu, analis kripto Michaël van de Poppe melihat adanya kemiripan antara rasio Tembaga/Emas dan grafik Ethereum/Bitcoin (ETH/BTC).
Van de Poppe menjelaskan bahwa breakout tembaga mencerminkan adanya perubahan siklus bisnis dan kembalinya selera risiko.
Dia memaparkan kondisi ini berpihak pada altcoin dan ia tidak memperkirakan akan terjadi koreksi besar dalam waktu dekat. Malah, ia mengaku sedang memposisikan diri untuk potensi kenaikan lebih lanjut di pasar altcoin selama 1 hingga 2 bulan ke depan.
Langganan channel YouTube kami untuk menyaksikan para pemimpin dan jurnalis memberikan wawasan mendalam

