Lawrence Jengar
30 Mei 2026 12:54
Nathan Fuller diduga menipu 150 investor dengan janji imbal hasil 100% melalui bot trading kripto bertenaga AI. SEC menuntut sanksi dan pemulihan dana.
Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) telah mendakwa Nathan Fuller, seorang warga Texas, karena mendalangi penipuan mata uang kripto senilai $12,3 juta. Fuller diduga memikat sekitar 150 investor dengan janji imbal hasil luar biasa melalui bot trading bertenaga AI palsu, menurut gugatan SEC yang diajukan pada 28 Mei 2026 di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan Texas.
Beroperasi melalui Privvy Investments, LLC, dan Gateway Digital Investments, Fuller mengklaim bot AI miliknya dapat menghasilkan keuntungan trading arbitrase frekuensi tinggi. Ia menjamin imbal hasil 40% hingga 50% dalam 30 hingga 45 hari, dengan beberapa investor dilaporkan dijanjikan keuntungan 100% hanya dalam 21 hari. Untuk memperkuat kredibilitasnya, Fuller secara keliru menyatakan bahwa investasi diasuransikan oleh Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) dan didukung oleh polis asuransi kewajiban. SEC menuduh bahwa tidak satu pun dari jaminan tersebut nyata.
Alih-alih menggunakan dana investor untuk trading, Fuller menggelapkan setidaknya $6,2 juta untuk pengeluaran pribadi dan menggunakan $5,5 juta untuk melakukan pembayaran ala Ponzi kepada investor sebelumnya. SEC juga menuduhnya menerbitkan laporan akun palsu dan memalsukan korespondensi dari entitas yang tidak ada untuk mempertahankan kebohongan tersebut.
Kripto, AI, dan Penipuan: Kekhawatiran yang Terus Berkembang
Kasus ini merupakan bagian dari tren yang lebih luas berupa penipuan yang mengeksploitasi hype seputar kecerdasan buatan dan mata uang kripto. Tahun lalu, SEC mendakwa beberapa individu dan entitas dalam skema penipuan senilai $14 juta yang serupa mengandalkan branding AI untuk menarik investor ritel. Para penipu semakin banyak menggunakan AI sebagai daya tarik pemasaran, menjanjikan keuntungan berbasis algoritma tanpa risiko yang sebenarnya tidak ada.
Tindakan Fuller juga menggarisbawahi potensi penipuan dari menggabungkan klaim AI dengan arbitrase kripto, sebuah konsep yang menarik bagi investor yang mencari imbal hasil tinggi di pasar yang bergejolak. Namun, skema-skema ini seringkali kurang transparan, sehingga korban memiliki sedikit jalan keluar setelah dana hilang.
SEC Menuntut Pertanggungjawaban
Dalam kasus ini, SEC mengejar injunksi permanen, pengembalian keuntungan haram, dan denda perdata terhadap Fuller. Tindakan penegakan hukum lembaga ini telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dengan 95 kasus terkait kripto yang dimulai sejak tahun fiskal 2022, menghasilkan $2,3 miliar dalam bentuk denda. Namun, para kritikus berpendapat bahwa banyak tindakan yang gagal memberikan manfaat nyata bagi investor yang dirugikan.
Masalah hukum Fuller melampaui gugatan SEC. Pada Agustus 2025, Pengadilan Kepailitan AS menolak pembebasan utangnya yang melebihi $12,5 juta yang terkait dengan aktivitas penipuan yang sama. Pengadilan menemukan bahwa Fuller telah menyembunyikan aset dan membuat pernyataan palsu selama proses kepailitan, yang semakin mempertegas keparahan pelanggarannya.
Implikasi yang Lebih Luas
Kasus ini menjadi pelajaran bagi investor yang menavigasi ruang kripto. Daya tarik imbal hasil tinggi yang dikombinasikan dengan teknologi mutakhir seperti AI seringkali dapat menutupi skema penipuan. Seiring meningkatnya pengawasan regulasi, calon investor harus tetap waspada, melakukan uji tuntas, dan memverifikasi klaim yang dibuat oleh platform investasi. Sementara itu, tindakan penegakan hukum SEC yang terus berlanjut menandakan sikap agresif terhadap pelaku jahat yang mengeksploitasi hype kripto dan AI.
Kasus Fuller kini akan berlanjut melalui sistem pengadilan, dengan implikasi tidak hanya bagi terdakwa tetapi juga bagi persimpangan yang lebih luas antara kripto, AI, dan pengawasan regulasi.
Sumber gambar: Shutterstock
Source: https://blockchain.news/news/sec-texas-man-12m-crypto-fraud-ai-bots








