Bank of America mengimbau investor untuk ambil untung. 7 dari 10 sinyal bear market mereka kini menyala. Angka ini sama dengan rata-rata sebelum setiap penurunan besar sejak 1990.
Nampaknya, satu indikator kripto sudah memberikan sinyal peringatan lebih awal.
Peringatan ini disampaikan lewat catatan tanggal 5 Juni dari Savita Subramanian, kepala strategi saham AS dari bank tersebut. Judul catatannya sangat lugas: “Terlalu Banyak Tanda Bahaya. Ambil Untung.”
BofA memantau sepuluh kondisi yang biasanya muncul sebelum pasar mencapai puncaknya. Ada empat yang sudah muncul di bulan Maret. Tujuh pada Mei. S&P 500 turun 2,6% hari Jumat itu, jadi hari terburuk sejak Oktober.
Faktor pemicunya antara lain pinjaman bank yang makin ketat, tingkat kepercayaan konsumen yang suram, ledakan aktivitas merger dan akuisisi, serta sebuah indeks yang menunjukkan harga mahal berdasarkan 17 dari 20 metrik.
Meski begitu, bank ini tidak menyarankan jual semua aset.
Sederhananya, saham-saham kini dihargai terlalu tinggi, segelintir raksasa yang menopang pasar, dan mendapatkan pinjaman pun makin sulit. Kombinasi ini sebelumnya juga pernah berakhir buruk.
BofA memang tidak memantau aset kripto. Namun, aset kripto sering kali mengalami penurunan dua hingga enam minggu sebelum puncak pasar saham. Indeks eksklusif Crypto Canary Composite mengukur tekanan ini.
Indikator ini menunjukkan angka 69,1, berada di area peringatan. Tekanan penurunan Bitcoin kini di puncaknya. Pasokan stablecoin pun menyusut, dan dana banyak keluar dari aset kripto. Sementara Bitcoin masih bergerak sejalan dengan saham, sehingga tekanan ini bisa merembet ke pasar saham.
Jika pola ini berlanjut, periode risiko bisa berlangsung hingga pertengahan Juli. Sinyal ini memberi peringatan, bukan prediksi pasti.
Saham mahal mengalahkan saham murah dengan selisih yang jarang terjadi. Kesenjangan antara aset bertumbuh dan bernilai mencapai z-score 2,89 di awal Juni. Angka di atas 2 itu langka. Kini sudah turun menjadi 1,12, yang bisa berarti sinyal kelegaan atau malah awal pembalikan besar.
Bahkan di sektor teknologi, kesenjangan antara saham terbaik dan terburuk meroket ke level terlebar sejak Februari 2000.
Kepemimpinan pasar juga sempit. S&P 500 reguler (SPY) dibanding versi equal-weight (RSP) memuncak mendekati 3,67 di pertengahan Mei. Sekarang berada di 3,52, sedikit di atas rata-rata 200 hariannya. Jika sampai turun di bawah batas ini, pasar berpotensi dikuasai saham-saham biasa—strategi yang lebih disukai Subramanian.
Selain itu, arus kas di teknologi juga jadi beban ketiga. Empat pembangun AI terbesar kini menghabiskan sekitar 71 sen dari setiap US$1 pendapatan untuk membangun data center. Amazon bahkan membelanjakan lebih banyak dari pendapatannya.
BofA memperkirakan kelompok tersebut mendekati 100% pada akhir tahun, saat pembelian kembali saham berhenti dan penjualan saham dimulai. Alphabet baru saja mengumpulkan lebih dari US$80 miliar.
S&P 500 sempat menyentuh level tertinggi di dekat 7.621 pada awal Juni dan sekarang diperdagangkan di sekitar 7.387. Indeks ini sudah kehilangan rata-rata 20 harinya di 7.442 — menjadi retakan pertama dalam tren tersebut.
Target 7.100 dari BofA adalah batas penting yang harus diperhatikan. Level ini berada di dekat rata-rata 100 hari di 7.082 dan juga support chart di 7.110. Di sinilah posisi pertahanan bull berada.
Tidak semua pihak sepakat. Michael Wilson dari Morgan Stanley menilai koreksi ini sehat di tengah skenario bull hingga akhir tahun. Ujian pertama atas peringatan pasar saham akan terjadi segera: laporan inflasi yang diperkirakan mendekati 4,2%.
Indeks ini berada di antara rekor 7.621 dan batas 7.100. Level mana pun yang ditembus lebih dulu akan menentukan arah selanjutnya.
