KUALA LUMPUR, 15 Juni — Sekretaris pers Menteri Besar Negeri Sembilan didesak untuk meminta maaf secara terbuka setelah diduga mengejek lembaga Undang Yang Empat negeri tersebut dengan menyebut Sekretaris Jenderal DAP Anthony Loke sebagai "Undang kelima".
Anggota komite Umno Negeri Sembilan Datuk Saiful Yazan Sulaiman mengatakan bahwa mengubah gelar Undang menjadi bahan lelucon politik adalah hal yang tidak pantas, menurut laporan Sinar Harian.
Ia mengatakan bahwa ia menanggapi serius sebuah video viral di media sosial yang menampilkan seorang pejabat pemerintah yang diduga menyebut Loke sebagai "Undang kelima" saat peluncuran mesin pemilihan Pakatan Harapan Negeri Sembilan baru-baru ini.
"Saya ingin menegaskan bahwa gelar Undang bukanlah bahan untuk lelucon politik. Gelar ini memiliki kedudukan, sejarah, dan martabatnya sendiri dalam sistem Adat Perpatih dan negeri Negeri Sembilan," katanya dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.
Saiful mengatakan bahwa mengaitkan pemimpin politik mana pun dengan gelar Undang, meskipun hanya sebagai candaan atau sindiran, adalah tidak pantas dan menunjukkan kurangnya kepekaan serta pemahaman terhadap lembaga adat negeri tersebut.
Ia menambahkan bahwa hal ini semakin mengecewakan karena pernyataan tersebut berasal dari seseorang di dalam administrasi negeri, yang seharusnya menjunjung tinggi penghormatan terhadap adat dan lembaga setempat.
Ia juga mendesak menteri besar untuk menyatakan posisinya dalam masalah ini.
"Menteri besar tidak bisa berdiam diri atau menganggap ini sebagai hal sepele. Kegagalan untuk bertindak akan menciptakan kesan bahwa merendahkan lembaga adat diterima oleh pemerintah negeri," katanya.
Saiful menegaskan bahwa masyarakat Negeri Sembilan tidak akan membiarkan adat dan warisan negeri ini direndahkan demi kepentingan politik.
"Lembaga adat bukan milik partai politik mana pun. Ia adalah martabat Negeri Sembilan," katanya.
"Pejabat yang bersangkutan harus meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Negeri Sembilan dan lembaga Undang Yang Empat tanpa alasan atau penundaan."
Secara terpisah, Ketua Pemuda Umno Negeri Sembilan Mohamad Fadil Md Zin menyebut pernyataan tersebut sebagai kasar dan memalukan.
Ia mengatakan, sebagai warga negeri tersebut, individu itu seharusnya lebih peka, terutama karena ia memegang jabatan dalam pemerintahan.
"Pemuda Umno sangat mengecam penggunaan gelar 'Undang kelima' saat peluncuran mesin PH Negeri Sembilan.
"Lembaga adat bukan bahan lelucon dan harus dihormati oleh semua pihak. Seperti kata pepatah, 'lebih baik kehilangan anak daripada kehilangan adat'," katanya.


