Bitcoin (BTC) berhasil kembali ke kisaran sekitar US$67.000 setelah sempat turun ke US$60.000 pada bulan Juni, dan data on-chain menunjukkan pembeli nyata mulai masuk. Namun, kenaikan harga Bitcoin ini bergerak ke dalam struktur opsi yang cenderung meningkatkan volatilitas daripada menenangkannya.
Argumen bahwa harga sudah mencapai titik terendah muncul karena adanya permintaan yang kembali. Tapi, argumen skeptis muncul dari lokasi kemunculan permintaan tersebut. Saat ini, bukti lebih kuat mendukung argumen kedua.
Accumulation Trend Score mengukur ukuran wallet relatif yang menambah kepemilikannya. Jika mendekati 1, berarti sedang terjadi akumulasi secara luas. Jika mendekati 0, berarti sedang terjadi distribusi.
Saat harga jatuh ke zona US$60.000 di awal Juni, skor ini bergeser ke arah akumulasi di berbagai kelompok wallet. Harga yang turun justru bertemu dengan permintaan on-chain yang meningkat, bukan aksi panic selling terbaru.
Setelah itu, rebound-nya berlangsung cukup tajam. Bitcoin naik beberapa persen hanya dalam satu sesi dari level terendah, setelah sebelumnya turun sekitar 15% sepanjang bulan sebelumnya. Kecepatan inilah yang membuat rebound tersebut terlihat cukup meyakinkan dari luar.
Polanya sesuai dengan reaksi beli saat harga turun (buy-the-dip) yang klasik. Wallet besar dan kecil sama-sama membeli saat harga lebih rendah. Penurunan saldo Bitcoin di exchange secara bersamaan juga menunjukkan pembeli memindahkan koin ke penyimpanan, bukan bersiap untuk menjual.
Pertambahan permintaan memang penting untuk menciptakan titik terendah yang kuat. Tapi, faktor ini saja belum cukup. Skor ini juga pernah menunjukkan akumulasi beberapa kali selama penurunan sebelumnya.
Metode ini mengukur siapa saja yang membeli, bukan menilai apakah mereka membeli lebih awal. Distribusi juga mendominasi sepanjang kenaikan sampai ke level tertinggi di tahun 2025. Walau sudah ada aksi jual saat harga kuat, penurunan besar tetap tak terbendung.
Likuidasi paksa juga memperbesar pergerakan di awal Juni. Gelombang stop-out bisa membuat penurunan dan pantulan harga bergerak lebih ekstrem. Jadi, sebagian rebound kali ini hanya reaksi mekanis short covering, bukan karena keyakinan baru dari pembeli.
Panggilan titik terendah on-chain juga sering meleset di siklus ini, seperti yang ditunjukkan analisis signal-driven terbaru. Respon buy-the-dip bisa terus berlangsung berminggu-minggu walau harga tetap melorot perlahan. Permintaan saja jarang menandai titik balik yang pasti.
Gamma exposure menunjukkan bagaimana dealer opsi harus melakukan lindung nilai saat harga bergerak. Saat gamma positif, dealer membeli saat harga turun dan menjual saat harga naik, yang membantu menstabilkan volatilitas. Jika gamma negatif, mereka justru menjual saat harga turun dan membeli saat harga naik, sehingga pergerakan harga malah jadi makin tajam.
Pada heatmap Deribit, klaster padat di sekitar US$67.000 terbaca sebagai zona negatif. Dealer yang mengambil posisi di sana cenderung menjual saat harga turun dan memburu reli saat harga naik. Ini membuat pemulihan yang tenang menjadi kurang mungkin jika harga masih di area ini.
Zona gamma positif yang lebih tenang terletak lebih tinggi, sekitar US$80.000 hingga US$85.000. Artinya, Bitcoin saat ini malah sedang naik ke zona yang bisa membuat volatilitas di mana zona penenang sebenarnya masih jauh di atas harga terkini.
Klaster strike yang padat tetap bisa menahan harga dekat waktu expiry, sehingga sesekali bisa memperlambat pergerakan harga. Walau begitu, arah exposure-nya lebih cenderung ke pergerakan tajam, bukan pembentukan dasar harga yang bertahan lama.
Zona gamma positif di atas juga berfungsi sebagai penghambat reli. Dealer akan menjual saat harga kuat sehingga bisa membatasi kenaikan saat Bitcoin mendekati US$80.000. Jadi, area yang membawa stabilitas justru sekaligus menjadi resistance.
Ada tiga level penting di sini. Area US$60.000 (zona hijau) adalah level terendah terakhir dan jadi batas yang harus dijaga oleh akumulasi. Jika level ini hilang, cerita tentang permintaan dan dukungan harga jadi berubah total.
Klaster US$67.000 (zona merah bawah) menjadi area pivot volatilitas. Selama harga berputar di area ini, kemungkinan pergerakan dua arah yang tajam tetap lebih besar daripada kenaikan stabil.
Mencapai zona US$75.000 – US$80.000 (zona merah atas) akan menandai perubahan besar. Di sinilah gamma positif mulai memberi penyangga bagi pergerakan harga.
Jika harga berhasil kembali ke atas zona ini, argumen skeptis bisa melunak, dan hal ini selaras dengan skenario prediksi harga Bitcoin bulan Juni yang lebih konstruktif.
Permintaan memang nyata, tapi ini bukan sinyal hijau. Akumulasi on-chain memberi tahu para trader bahwa pembeli sudah masuk, bukan berarti harga terendah sudah tercapai.
Sampai Bitcoin kembali diperdagangkan di atas zona yang benar-benar menenangkan volatilitas, pendekatan yang lebih aman adalah menganggap reli ini masih rapuh. Pola saat ini memang bisa berlanjut naik, namun struktur opsi menunjukkan bahwa saat ini lebih baik bersikap sabar daripada terlalu yakin.
