Harga minyak turun ke level terendah dua bulan setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan damai untuk membuka kembali Selat Hormuz. Meski pasar merasa lega, para trader diam-diam mulai bersiap untuk potensi rebound.
Alasannya terletak pada syarat tersembunyi di dalam kesepakatan itu. Iran berencana memberlakukan biaya tol setelah masa bebas biaya selama 60 hari berakhir, dan biaya ini sepertinya sudah mulai diperhitungkan pasar untuk bulan-bulan mendatang.
Kesepakatan ini membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang mengangkut sekitar seperlima minyak global sebelum perang menutupnya. Sebelum konflik, kapal-kapal bisa lewat tanpa membayar apa pun.
Mau dapat insight seperti ini? Daftar Newsletter Harian Editor Harsh Notariya di sini.
Sekarang, Iran menyatakan akan mengenakan “biaya layanan” setelah masa 60 hari tanpa tol berakhir. Presiden Trump menyebut pembukaan kembali ini akan selalu bebas tol, sementara Wakil Presiden JD Vance dan pihak Iran mengatakan biaya akan berlaku setelah 60 hari.
Pasar menyambut gencatan senjata ini dengan lega. Harga minyak Brent turun sekitar 5% menjadi mendekati US$83, dan harga minyak WTI turun ke bawah US$80, keduanya mencapai level terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Penurunan itu mencerminkan pasokan jangka pendek yang lebih longgar. Namun, kurva futures menunjukkan cerita yang lebih hati-hati.
Selama perang berlangsung, kondisi backwardation di Brent jadi sangat ekstrem. Backwardation berarti kontrak bulan terdepan diperdagangkan lebih tinggi daripada kontrak bulan-bulan berikutnya, menandakan kelangkaan suplai jangka pendek.
Spread antara kontrak Brent pertama dan kedua sempat mencapai sekitar US$10,27 pada bulan April. Kini, spread turun menjadi sekitar US$0,67, sehingga pasar melihat kekurangan suplai langsung mulai reda. Tapi, spread tersebut tetap positif.
Brent masih menunjukkan sedikit backwardation dan belum beralih ke kondisi contango, yakni di mana harga bulan berikutnya lebih tinggi. Tekanan suplai jangka pendek mereda, tapi pasar belum memperkirakan over-suplai.
Data positioning justru sebaliknya. Berdasarkan laporan Commitments of Traders terbaru, yang merupakan data mingguan CFTC tentang pemilik kontrak futures, para spekulan memangkas short sekitar 9.300 kontrak per 9 Juni.
Opsi pun menunjukkan hal yang sama. Di United States Brent Oil Fund (BNO), rasio put-call ada di kisaran 0,08, artinya pembelian call jauh lebih banyak daripada put. Pembelian call semakin meningkat, dengan rasio turun ke 0,06 saat kabar tol muncul.
Jadi, kurva sudah memasukkan pembukaan kembali Selat Hormuz, sedangkan para trader mempertaruhkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Besarnya taruhan itu akan tergantung dari besaran tolnya.
BRN2 hanya sekitar sebulan lebih jauh dari kontrak terdepan, dan kontrak terdepan masih diperdagangkan lebih tinggi, jadi kurva kini lebih landai tanpa berubah jadi bearish. Hal ini memberi peluang bagi tol untuk mempersempit spread lagi, sesuai dengan posisi trader yang bullish.
Secara matematis, sebelum perang harga Brent mendekati US$70 tanpa biaya transit. Selat Hormuz mengalirkan sekitar 7,6 miliar barel minyak per tahun.
Biaya tol sebesar US$0,50, US$1, atau US$2 per barel bisa memberi Iran sekitar US$3,8 miliar, US$7,6 miliar, atau US$15,2 miliar per tahun. Angka US$1 ini bukan hanya perkiraan. Saat konflik, biaya informal US$1 per barel memang diberlakukan. Bahkan dilaporkan ada tol sampai US$2 juta per pelayaran.
Biaya langsungnya kecil dan di awal biasanya ditanggung produsen. Namun, dampak lebih besar ada pada risk premium, yaitu tambahan harga yang dibayar pasar akibat ketidakpastian suplai.
Premi itu sekarang terasa makin berat karena cadangannya makin tipis. Cadangan Minyak Strategis AS, yang merupakan stok cadangan darurat negara, baru saja mencapai level terendah dalam 43 tahun terakhir.
Dari harga pembukaan normal di sekitar US$80, analis memperkirakan biaya tol normal bisa menambah biaya sebesar US$2 sampai US$6, sedangkan jika prosesnya tidak lancar bisa menambah US$10 atau lebih. Ini artinya, harga Brent bisa naik ke kisaran atas US$80 sampai pertengahan US$90, bahkan bisa kembali di atas US$100 jika pembukaan berlangsung kacau.
Perlu diperjelas, biaya tol US$1 atau bahkan US$2 tidak akan langsung mendorong harga Brent ke US$100. Risiko lonjakan harga justru berasal dari gangguan, bukan dari biaya tol itu sendiri. Jika penerapan tolnya memicu rebutan hingga lalu lintas terganggu lagi, maka war-era risk premium akan muncul kembali. Ketakutan itulah, bukan biayanya, yang membuat Brent sempat melonjak di atas US$100 pada masa konflik.
Pendapat para ahli dan sinyal pasar juga menunjukkan risiko tersebut.
Pemimpin industri sudah memberikan peringatan tentang potensi kenaikan harga. Eksekutif dari Chevron dan ExxonMobil mengingatkan bahwa harga minyak Brent secara fisik bisa melonjak ke kisaran US$150 sampai US$160 jika stoknya terus menyusut.
US Energy Information Administration (EIA) memprediksi bahwa harga rata-rata Brent akan berada sekitar US$105 pada Juni dan Juli sebelum turun lagi. Goldman Sachs memangkas prediksinya setelah ada kesepakatan, namun tetap memperingatkan volatilitas baru jika Hormuz tidak dibuka dengan rapi.
Pasar prediksi juga sejalan dengan pandangan ini. Di Polymarket, para penjudi menilai peluang harga minyak mentah mencetak rekor sekitar 16% hingga 31 Desember, bahkan angka ini masih jadi yang tertinggi walau setelah kesepakatan peluangnya menurun.
Saat ini, harga minyak mentah berada di kisaran terendah dua bulan terakhir: Brent sekitar US$83 dan WTI di kisaran US$80. Laporan posisi CFTC berikutnya, yang pertama setelah muncul berita tol, akan mengungkap apakah kecenderungan bullish masih bertahan.
Pembukaan jalur tanpa tol secara mulus kemungkinan akan menggerakkan harga minyak turun mengikuti prediksi EIA ke kisaran atas US$70. Sebaliknya, jika kebijakan service-fee diperdebatkan setelah 60 hari, pasar bisa kembali mengetat dan harga minyak kembali naik ke atas US$80 dan seterusnya.


