Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, telah menghidupkan kembali perdebatan tentang Bitcoin setelah postingan terbaru di mana dia menyatakan bahwa cryptocurrency ini "berbasis energi" dan bahwa energi, tidak seperti mata uang tradisional, "tidak dapat dipalsukan". Komentar tersebut, yang dipublikasikan di X, dengan cepat menarik perhatian investor, analis, dan tokoh politik.
Pesan tersebut muncul saat pasar sudah bergerak: pada saat postingan, Bitcoin berfluktuasi sekitar $86.500, dengan sentimen yang cukup tidak stabil. Media kripto mencatat banyak reaksi dalam beberapa jam, baik dari trader maupun pengamat institusional. Beberapa mengartikan kata-kata Musk sebagai dukungan potensial terhadap narasi BTC sebagai alat perlindungan dari inflasi.
Pada intinya, Musk mengaitkan nilai Bitcoin dengan proses mining: untuk mencetak BTC baru dan melindungi jaringan, para penambang harus mengonsumsi energi nyata. Menurutnya, hubungan dengan sumber daya fisik ini membuat Bitcoin lebih sulit dimanipulasi dibandingkan dengan mata uang fiat, yang dapat diciptakan sesuai kebijakan bank sentral.
Dalam cuplikan wawancara dengan Nikhil Kamath, yang baru-baru ini disebarkan secara online, Musk menegaskan gagasan ini, menyajikan energi yang digunakan untuk mining bukan sebagai kekurangan, tetapi sebagai elemen yang menciptakan kelangkaan dan keandalan. Berbagai media khusus telah menganalisis konsep tersebut, membandingkannya dengan kritik Musk sebelumnya tentang dampak lingkungan dari mining.
Tanggapan tidak lama datang. Di satu sisi, pendukung Bitcoin menyambut komentar tersebut sebagai konfirmasi kekuatan BTC. Di sisi lain, beberapa regulator dan pengamat yang lebih berhati-hati mengajak untuk tidak membaca kata-kata Musk sebagai sinyal struktural.
Secara paralel, berita lain telah memperkaya diskusi: berbagai sumber melaporkan bahwa SpaceX telah memindahkan hampir 270 juta dolar dalam Bitcoin, operasi yang menurut beberapa trader berpotensi signifikan untuk dinamika pasar. Secara keseluruhan, postingan Musk tetap berisiko mempengaruhi sentimen investor, setidaknya dalam jangka pendek.
Inti dari penalaran ini sederhana: energi tidak dapat diciptakan dari ketiadaan, sementara mata uang tradisional dapat diterbitkan dalam jumlah yang lebih besar oleh negara. Gagasan ini bergema terutama di antara mereka yang khawatir bahwa peningkatan pengeluaran publik, ditambah dengan ekspansi AI dan teknologi energi intensif, dapat memberikan tekanan pada sistem moneter saat ini.
Namun para kritikus berpendapat bahwa energi yang digunakan untuk menambang Bitcoin dikonsumsi dan tidak berubah menjadi barang fisik seperti emas, yang mengakumulasi nilai. Harga BTC, menurut mereka, terus bergantung terutama pada permintaan, ekspektasi pasar, dan persepsi kegunaan, lebih dari sekadar biaya energi.
Komentar baru Musk mewakili perubahan nada dibandingkan dengan 2021, ketika Tesla menangguhkan pembayaran dalam Bitcoin justru karena dampak energi yang tinggi dari mining. Dalam tahun-tahun berikutnya, sektor ini telah berubah sebagian: beberapa operator telah meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan, sementara yang lain terus bergantung pada bahan bakar fosil.
Perdebatan saat ini menggabungkan faktor teknologi, ekonomi, dan geopolitik, dan tidak mungkin akan cepat berakhir. Tetapi intervensi Musk mengkonfirmasi satu hal: tema energi tetap menjadi salah satu pilar utama dalam diskusi global tentang Bitcoin — dan akan terus mempengaruhi baik narasi maupun pilihan investor.


