Cryptoharian – Pasar kripto kembali diuji di saat investor global mencari tempat berlindung. Ketika emas melesat melewati US$ 5.600 per ons dan perak menembus US$ 121 pekan ini, Bitcoin justru tertekan tajam.
Kontras ini mempertegas satu realitas yang masih sulit diterima sebagian pelaku kripto, saat ketidakpastian makro memuncak, investor cenderung memilih safe haven tradisional terlebih dulu, dan kripto menjadi pilihan kedua, kalau pun dipilih.
Selama bertahun-tahun, emas, perak dan Bitcoin sama-sama dipromosikan sebagai penyimpanan nilai serta pelindung terhadap pelemahan mata uang dan ‘campur tangan’ pemerintah. Namun dalam episode risk-off terbaru, pasar memberi penilaian yang tegas.
Logam mulia mampu menambah ratusan miliar nilai pasar dalam hitungan hari, sementara Bitcoin melemah, dan altcoin lebih parah lagi dengan aset seperti Dogecoin dan XRP mencatat penurunan tajam.
Pemicu tekanan kali ini berlapis, yakni meningkatnya peluang shutdown pemerintah Amerika, ketidakpastian kebijakan The Fed, hingga ancaman intervensi yen Jepang yang membuat investor berebut aset dengan rekam jejak puluhan tahun menghadapi krisis.
Dalam lanskap seperti itu, usia Bitcoin yang baru sekitar 15 tahun dinilai belum cukup ‘teruji’ bagi banyak investor konservatif ketika rasa takut mengambil alih.
Death Cross Tambah Sinyal Bearish
Dari sisi teknikal, tekanan tidak hanya datang dari narasi makro. Bitcoin disebut baru-baru ini diperdagangkan di sekitar US$ 83.405, turun 6,46 persen atau sekitar US$ 5.763 dari hari sebelumnya. Harga juga telah menembus beberapa zona support sejak melemah dari puncak Januari di sekitar US$ 97.000, membuat sebagian analis menilai penurunan belum tentu selesai.
Salah satu sinyal yang paling disorot adalah death cross, ketika EMA 50 hari turun menembus EMA 200 hari, yang kerap dipandang sebagai peringatan tren bearish jangka panjang. Secara sederhana, rata-rata jangka pendek mencerminkan di mana pembeli baru masuk belakangan ini, sementara rata-rata jangka panjang menunjukkan area posisi investor dalam beberapa bulan.
Baca Juga: Rusia Peringatkan Dampak Crash Kripto Bisa Menular ke Pasar Lain
Ketika rata-rata jangka pendek jatuh di bawah rata-rata jangka panjang, hal tersebut mengindikasikan pembeli terbaru mulai terjebak dan struktur pasar cenderung memburuk. Pola serupa pernah muncul sebelum penurunan besar Bitcoin, termasuk fase bear market 2018 dan kejatuhan 2022.
Saat ini, EMA 50 hari disebut berada di sekitar US$ 88.000, menjadi resistensi terdekat yang belum berhasil direbut kembali oleh pembeli. Posisi harga yang berada di bawah kedua rata-rata ini menciptakan “atap” yang tebal, sehingga pemulihan berarti biasanya membutuhkan penembusan yang jelas dan bertahan di atas level tersebut.
Level Berikutnya
Jika support di US$ 80.600 gagal bertahan, perhatian pasar dapat bergeser ke area US$ 74.000, yang disebut sebagai zona terendah April 2025, wilayah yang sebelumnya menjadi titik pantul. Penembusan di bawahnya akan membuka ruang skenario lebih dalam, meski dinilai kecil kemungkinannya, menuju sekitar US$ 65.000.
Untuk saat ini, bias jangka pendek tetap condong ke bawah. Pembeli membutuhkan sinyal pembalikan yang lebih jelas, seperti penutupan harian kembali di atas US$ 88.000 disertai penguatan ADX, untuk menunjukkan bahwa arus mulai berubah.
Tanpa itu, pasar berpotensi tetap menghadapi pergerakan tersendat, volatilitas tinggi dan narasi berulang bahwa logam mulia kembali mengungguli kripto.

