Insight Tokocrypto Research Team. Bitcoin kembali mengalami penurunan harga yang signifikan, membuat banyak investor merasa was-was dan panik. Harga Bitcoin turun ke kisaran $88.000 hingga akhirnya tembus ke $74.500, dengan indikator Fear & Greed Index yang leluncur ke angka 17, menandakan suasana ketakutan di pasar.
Dalam artikel riset crypto dari tim Research Tokocrypto sebelumnya Riset Kripto 26-30 Jan 2026: Bitcoin Makin Turun! Saatnya Goodbye?!, dijelaskan bahwa ada dorongan faktor makroekonomi seperti data ekonomi AS terbaru yang mengurangi harapan pemangkasan suku bunga oleh The Fed, hingga aktivitas paus yang memindahkan aset ke bursa untuk dijual yang membuat investor tertekan.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mari kita bahas secara sederhana berdasarkan Insight Tokocrypto Research Team terbaru. Baca juga riset lainnya di riset kripto terbaru Tokocrypto.
Salah satu pemicu utama penurunan Bitcoin adalah aktivitas whale, yaitu investor besar yang memegang aset dalam jumlah masif. Data menunjukkan adanya arus masuk (inflow) signifikan sebesar 2.000 BTC ke bursa Binance.
Ini berarti whale sedang memindahkan aset mereka ke platform trading, kemungkinan besar untuk dijual atau didistribusikan, sebab jika para whale ini tidak berniat menjual bisanya mereka akan lebih memilih menyimpan Bitcoin mereka di cold wallet atau hot wallet.
Menurut analisis Tokocrypto Research Team, inflow ini menandakan distribusi aset oleh whale, yang memperburuk sentimen pasar secara keseluruhan. Pasar jadi rawan koreksi lebih lanjut, apalagi dikombinasikan dengan sinyal overheating di jaringan lain seperti Solana, di mana biaya transaksi harian mencapai $37,5 juta, mirip pola sebelum koreksi tajam di bulan Oktober yang secara historis menjadi sinyal puncak pasar dengan penurunan hingga 27%.
Hal ini banyak membuat para investor semakin was-was, karena jika whale terus menjual, harga bisa terus merosot.
Indeks ini mengukur seberapa rawan pasar terhadap volatilitas, dan kenaikannya menunjukkan bahwa risiko koreksi semakin tinggi. Sempat melonjak ke level 55.58, menunjukkan bahwa risiko koreksi semakin tinggi.
Sebelumnya, tim research Tokocrypto menyebutkan bahwa Bitcoin sedang dalam fase “lampu kuning” ketika berada di level harga $88.000 sementara arus uang global mulai beralih ke aset komoditas seperti emas. Analisis memproyeksikan jika level ini jebol, pasar berisiko mengalami koreksi tajam menuju $74.000 dan per 2 Februari 2026, Bitcoin telah menyentuh level yang sebelumnya di antisipasi.
Insight dari Tokocrypto Research Team menyoroti bahwa penurunan ini juga didorong oleh arus uang yang beralih ke aset aman seperti emas yang memperburuk situasi, karena investor mencari perlindungan dari gejolak kripto.
Menurut trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, jika dilihat berdasarkan data Bitcoin monthly return, kita bisa melihat bahwa bulan Januari secara historis memiliki karakter yang cukup unik dimana secara rata-rata, Januarimencatatkan kenaikan sekitar +2,81%, yang sekilas terlihat positif.
Namun, penting untuk digaris bawahi bahwa Januari juga termasuk bulan dengan volatilitas tinggi. Dalam banyak periode, pergerakan harga Bitcoin di awal tahun sering kali menunjukkan fluktuasi ekstrem, baik dalam bentuk reli kuat maupun koreksi tajam. Hal ini membuat Januari kerap berbeda dibanding bulan-bulan lain yang cenderung lebih stabil.
Pada Januari 2026 misalnya, Bitcoin justru menutup bulan dengan kinerja negatif di kisaran -10,17%, yang menunjukkan bahwa meskipun secara historis rata-rata Januari positif, outcome aktualnya sangat bergantung pada kondisi siklus dan sentimen pasar saat itu.
Dengan kata lain, Januari bukan bulan yang bisa disimpulkan secara sederhana sebagai bullish atau bearish. Justru, bulan ini sering menjadi fase penyesuaian awal tahun, di mana pasar melakukan rebalancing, profit taking, atau bahkan distribusi sebelum menentukan arah tren berikutnya.
Untuk memahami lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi di Januari 2026, serta apakah penurunan ini bersifat sementara atau bagian dari struktur tren yang lebih besar, kita akan lanjutkan pembahasannya di gambar selanjutnya.
Pasar kripto sedang mengalami gelombang volatilitas tinggi, dengan miliaran dolar dalam posisi Bitcoin dilikuidasi di awal Februari karena risk-off sentiment global. Investor banyak menjual aset berisiko termasuk kripto karena kekhawatiran pasar lebih luas.
Jika kita menambahkan faktor pertama, yaitu volatilitas pasar, risk-off sentiment, dan likuidasi besar, maka penurunan Bitcoin di Januari menjadi lebih kontekstual. Dalam waktu kurang dari satu minggu, Bitcoin turun lebih dari 16,7%, dan penurunan ini terjadi secara menyeluruh di pasar kripto. Total kapitalisasi pasar kripto terkoreksi sekitar USD 500 miliar, dari kisaran USD 3 triliun turun hingga mendekati USD 2,5 triliun. Dengan skala market cap sebesar ini, proses pemulihan tentu membutuhkan waktu dan aliran dana yang tidak kecil. Artinya, dampak dari likuidasi massal dan keluarnya likuiditas akibat risk-off sentiment berpotensi masih akan terasa dalam jangka pendek hingga menengah ke depan.
Penurunan harga Bitcoin banyak dihubungkan dengan spekulasi tentang penggantian Ketua The Fed, yang mempengaruhi persepsi pasar terhadap likuiditas dan suku bunga. Kevin Warsh menjadi ketua berikutnya dipandang sebagai kandidat yang lebih hawkish (mengurangi likuiditas/menaikkan suku bunga), yang cenderung menekan aset berisiko seperti kripto.
Ada laporan bahwa presiden Venezuela ditangkap oleh militer AS pada 3 Januari 2026, dan terjadi intervensi besar di negara tersebut. Ini adalah peristiwa nyata yang menambah ketidakpastian geopolitik global. Namun, dari sisi pasar kripto, reaksi terhadap konflik ini bersifat lebih ke sentimen jangka pendek dan tidak selalu konsisten secara langsung menekan harga secara terukur (misalnya Bitcoin sempat naik ketika berita muncul). Ada juga isu tentang kemungkinan AS menyita aset Bitcoin milik Venezuela, tetapi aturan atau keputusan resminya belum jelas dan belum terjadi secara nyata.
Ancaman government shutdown di Amerika Serikat cenderung memicu aksi jual jangka pendek pada aset berisiko, termasuk kripto, karena investor masuk ke mode risk-off. Dalam kondisi ketidakpastian kebijakan dan ekonomi seperti ini, arus modal global lebih memilih aset safe haven seperti emas, sementara kripto mengalami tekanan akibat berkurangnya partisipasi institusional. Meskipun shutdown tidak berdampak langsung pada fundamental Bitcoin atau aktivitas on-chain, sentimen negatif dan kehati-hatian investor seperti mengurangi leverage menyebabkan terjadinya capital outflow, yang tercermin dari penurunan total market cap kripto sekitar USD 500 miliar dalam sepekan terakhir.
Saat ini Crypto Fear and Greed Index berada di level 17, yang masuk kategori extreme fear, menandakan dominasi ketakutan di pasar kripto. Kondisi ini mencerminkan tekanan sentimen yang kuat, di mana investor cenderung defensif dan menghindari penambahan risiko. Beberapa analis bahkan memperkirakan potensi penurunan lanjutan Bitcoin ke area USD 72.000, yang merupakan all-time high siklus sebelumnya, hingga skenario ekstrem ke kisaran USD 50.000 jika sentimen negatif berlanjut. Dengan indikator sentimen berada di zona ekstrem, bias pasar saat ini masih cenderung negatif, terutama dalam jangka pendek, sembari menunggu kepastian makro dan stabilisasi emosi pasar.
Jika melihat data Bitcoin ETF, arus dana menunjukkan sinyal yang masih campuran. Dalam satu bulan terakhir, ETF Bitcoin masih mencatatkan inflow sekitar USD 471 juta, yang menandakan minat institusional belum sepenuhnya hilang meskipun pasar sedang tertekan. Namun, jika ditarik ke tiga bulan terakhir, arus dana justru masih net outflow sekitar USD 5,66 miliar, yang mencerminkan sikap hati-hati institusi dalam kondisi ketidakpastian makro. Tekanan terbesar terjadi pada November 2025, ketika terjadi outflow sekitar USD 3,5 miliar, menunjukkan fase distribusi dan pengurangan eksposur risiko. Artinya, meskipun inflow jangka pendek mulai muncul, secara struktural institusional masih cenderung defensif terhadap aset kripto.
Intinya menurut Fyqieh Fachrur, penurunan Bitcoin sekitar ±16% ini bukan disebabkan oleh satu faktor saja, tapi hasil dari kombinasi enam faktor besar yang saling berkaitan. Mulai dari geopolitik global, kebijakan moneter The Fed, kebijakan fiskal era Trump, hingga sikap investor institusi yang mulai outflow dari pasar kripto.
Kondisi ini tercermin jelas dari turunnya total market cap kripto dan meningkatnya sentimen risk-off. Di saat yang sama, arus dana justru mengalir ke aset safe haven seperti emas, yang bahkan sudah mencetak all-time high baru di kisaran USD 4.500. Jadi wajar kalau saat ini pasar cenderung defensif, dengan money flow lebih memilih aset aman di tengah geopolitik dan ketidakpastian ekonomi yang masih belum membaik.
Lebih lengkap mengenai insight terbaru dan alasan kenapa Bitcoin bisa turun ke level sekarang, bisa kamu baca di: Riset Kripto 26-30 Jan 2026: Bitcoin Makin Turun! Saatnya Goodbye?!
Mulai perjalanan kriptomu dengan pastikan membeli token kripto terdaftar di resmi di Indonesia melalui exchange lokal resmi yang mengikuti prosedur yang berlaku seperti Tokocrypto.
Dapatkan potongan 20% biaya trading selamanya dengan masukkan kode: TEMUTOKO saat melakukan pendaftaran Tokocrypto—download aplikasinya dan registrasi di sini!
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
The post Bitcoin Anjlok Lagi! Investor Panik, Apa yang Terjadi? appeared first on Tokocrypto News.

