Cryptoharian – Binance memang hanya menyumbang sekitar 42,8 persen dari total volume spot dalam sepekan terakhir. Namun, bursa ini disebut menyerap hampir 79,7 persen tekanan jual bersih (net selling pressure) dari lima bursa besar, berdasarkan data Tradingview.
Ketimpangan itu memunculkan pertanyaan yang lebih penting dari sekedar siapa yang paling ramai, apakah sebuah bursa harus menguasai mayoritas pasar untuk menentukan harga seluruh pasar?
Menurut rangkaian data yang dibahas, jawabannya tidak. Yang menentukan harga adalah tempat di mana pasar paling sering ‘mencetak harga’, yakni pusat price discovery.
Dalam periode 2-3 Februari, Binance juga mencatat arus masuk Bitcoin terbesar tahun ini. Kontributor CryptoQuant, Darkfost memperkirakan sekitar 56.000 hingga 59.000 BTC mengalir masuk saat Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$ 74.000. Secara nilai nominal, angkanya melampaui US$ 4,3 miliar.
Di permukaan, setoran besar ke bursa sering dibaca sebagai sinyal bearish karena koin yang tadinya ‘dingin’ menjadi cepat dijual. Namun, arus masuk bukanlah tiket jual otomatis. CryptoQuant sendiri menekankan bahwa inflow tinggi tidak berarti selalu dump langsung, bisa juga mencerminkan perpindahan kolateral, penyediaan likuiditas untuk derivatif, atau settlement internal.
Jadi tesis utamanya bukan bahwa Binance ‘menjatuhkan’ Bitcoin, melainkan bahwa Binance berpotensi menjadi marginal seller pada momen-momen krusial, cukup untuk menggeser harga, bahkan tanpa menguasai mayoritas volume global.
Konsep marginal seller ini kunci untuk memahami kenapa tekanan jual bisa terkonsentrasi. Traderview mengukur ‘net selling pressure’ sebagai net taker volume, yang pada praktiknya mirip dengan cara membaca cumulative volume delta (CVD), yakni selisih akumulatif antara pembelian agresif (taker buys) dan penjualan agresif (taker sells).
Ketika CVD negatif, artinya penjual yang menyebrangi spread lebih dominan, mereka lebih memikul bid, bukan sekedar menunggu limit order terserap. Dalam situasi seperti ini, bukan sekedar ‘berapa besar volume’, melainkan siapa yang memaksa transaksi terjadi.
Traderview menghitung bahwa Binance menjual sekitar 3,9 kali lebih banyak Bitcoin daripada gabungan venue besar lainnya pada periode yang diamati, meski total volume yang ditangani Binance tidak lebih besar daripada total volume venue lain jika digabung. Ini menjelaskan mengapa pasar bisa terasa ‘mengikuti’ Binance, yakni di titik tertentu, harga global sering bergerak mengikuti tempat yang menjadi rujukan price discovery, apalagi ketika kondisi pasar tegang.
Ada alasan struktural mengapa Binance bisa memainkan peran itu. Kajian akademik (working paper 2024) yang dikutip dalam narasi ini menyebut spot dan perpetual futures Binance sebagai sumber utama price discovery Bitcoin, didorong oleh biaya lebih rendah dan likuditas lebih dalam.
Riset Kaiko, yang juga kerap dikutip, menggambarkan Binance memiliki likuiditas yang ‘dalam dan tangguh’. Dalam praktiknya, price discovery memang tidak tersebar merata, ia cenderung terjadi di tempat yang likuiditasnya paling tebal, tempat resiko derivatif terurai paling cepat, dan tempat para arbitrase paling fokus mengawasi.
Baca Juga: Kekhawatiran Bubble Menguat, Tiga Ekonom Top Bilang Begini
Dominasi derivatif memperkuat efek itu. Perpetual futures disebut menyumbang sekitar 68 persen dari seluruh volume perdagangan Bitcoin pada 2025, sementara Binance, Bybit dan OKX secara kolektif memegang porsi besar dari open interest kontrak perpetual.
Saat resiko perp terurai, misalnya ketika posisi dipaksa ditutup atau margin mengetat, spot sering ‘kaki lindung nilai’ (hedge leg). Arus order inilah yang kemudian mencetak tape, dan venue lain menyesuaikan harga melalui aribitrase.
Keterhubungan antar-bursa pun bersifat mekanis. Ketika Bitcoin lebih murah di satu bursa, arbitrase akan membeli di sana dan menjual di tempat lain yang lebih mahal, sehingga harga kembali menempel. Salah satu indikator yang sering dipakai untuk membaca kesehatan konektivitas ini adalah Coinbase premium, selisih harga BTC/USD di Coinbase terhadap BTC/USDT di Binance.
Premium ini tidak murni soal sentimen karena dipengaruhi “plumbing” dolar vs USDT, biaya pendanaan, dan friksi transfer. Namun perilakunya memberi petunjuk, yakni ketika premium menyempit, arbitrase bekerja lancar; ketika melebar dan bertahan, artinya jalur konektivitas sedang tersumbat atau balance sheet arbitrase sedang terbatas.
Seberapa cepat pergerakan berbasis Binance menyebar ke venue lain pada akhirnya bergantung pada dua hal, yakni kedalaman likuiditas dan kecepatan modal arbitrase merespon. Saat order book menipis, ketidakseimbangan jual yang sama bisa memicu pergerakan harga yang jauh lebih besar.
Dalam kondisi sehat, dislokasi bisa pulih dalam hitungan menit. Sedangkan dalam kondisi stres, dislokasi bisa menetap lebih lama, yang mana itu membuat price discovery makin terkonsentrasi pada venue yang paling dominan.
Dari situ, skenario ke depan dibaca sebagai pertarungan antar arus, likuiditas dan konektivitas. Jika inflow besar tadi sebagian besar hanya kolateral atau positioning, tekanan jual bisa mereda dan premium lintas-bursa kembali menutup.
Jika arus keluar dari produk investasi kripto berlanjut dan likuiditas menipis, Binance bisa tetap menjadi penjual marjinal lebih lama, dan membuat pasar global terus mengikuti cetakan harga yang terjadi di sana.
Dalam skenario stres, ketika arbitrase tersendat dan premium melebar, pasar bisa terasa semakin tersegmentasi, bukan karena satu bursa ‘mengatur’, melainkan karena sistem konektivitas pasar sedang terganggu.


