Harga Monero turun sekitar 2% dalam 24 jam terakhir dan hampir 31% dalam sebulan terakhir. Sejak mencapai puncaknya di dekat US$799 pada pertengahan Januari, XMR sudah turun lebih dari 65%. Setelah harga jatuh ke US$276, terjadi rebound yang mendorong harga kembali ke area US$330. Sekilas, ini terlihat seperti stabilisasi setelah aksi jual besar-besaran.
Tetapi jika diamati lebih dalam, ternyata kisahnya berbeda.
Pada grafik harian, Monero sedang diperdagangkan di dalam struktur bear flag.
Bear flag terbentuk ketika harga jatuh tajam lalu bergerak sideways atau sedikit naik dalam rentang yang sempit. Pola ini biasanya menandakan jeda sebelum terjadi penurunan lagi, bukan perubahan tren. Dalam kasus XMR, penurunan harga dari US$799 ke US$276 membentuk tiang flag-nya. Konsolidasi harga XMR belakangan ini membentuk flag-nya.
Selama harga masih berada di dalam rentang ini, tren utama tetap bearish. Jika terjadi breakdown di bawah batas bawah, kemungkinan besar akan memicu penurunan besar berikutnya.
Indikator tren juga memperkuat pandangan ini.
Exponential moving average, atau EMA, adalah rata-rata harga yang memberikan bobot lebih besar pada data terbaru. Indikator ini membantu melihat apakah momentum menguat atau melemah. Jika EMA jangka pendek turun di bawah EMA jangka panjang, itu menandakan kekuatan tren yang menurun.
Saat ini, EMA 50 hari Monero bergerak ke arah EMA 100 hari. Di waktu yang sama, EMA 20 hari juga bergerak ke arah EMA 200 hari.
Ingin insight token seperti ini? Daftar Newsletter Crypto Harian Editor Harsh Notariya di sini.
Cross-over bearish yang sedang berkembang ini mengindikasikan bahwa momentum jangka pendek masih terus melemah dibanding tren utamanya. Jika kedua cross-over ini terjadi saat harga XMR sedang bergerak di dekat garis tren bawah flag, maka teori breakdown kemungkinan besar akan terkonfirmasi.
Data arus exchange memperlihatkan bagaimana perilaku investor selama konsolidasi ini.
Pada awal Februari, Monero sempat menunjukkan outflow yang kuat (tekanan beli). Selama pekan yang berakhir pada 2 Februari, arus keluar bersih mencapai sekitar US$7,1 juta. Ini mengisyaratkan beberapa pembeli mulai masuk setelah harga anjlok.
Namun, dukungan ini cepat menghilang.
Pada pekan yang berakhir 9 Februari, arus berubah jadi inflow bersih sekitar US$768.000. Lebih banyak XMR masuk kembali ke exchange daripada keluar. Pergeseran ini terjadi saat harga sempat menyentuh US$276 lalu naik lagi ke zona US$327.
Hal ini memperlihatkan cerita penting. Begitu harga rebound, aksi jual kemungkinan langsung berlanjut. Alih-alih menahan untuk pemulihan, banyak investor kemungkinan langsung memanfaatkan kenaikan harga itu untuk mengurangi eksposur. Jadi, posisi cut loss itu menggantikan akumulasi.
Saat arus keluar berubah menjadi arus masuk selama fase konsolidasi, biasanya ini sinyal distribusi. Pasokan kembali masuk ke pasar. Tanpa permintaan spot yang kuat, reli susah bertahan lama. Inilah juga alasan kenapa pemulihan yang terjadi akhir-akhir ini cenderung dangkal. Pembeli belum cukup kuat untuk menyerap pasokan yang kembali ke pasar.
Karena permintaan spot melemah, beban bergeser ke trader derivatif. Namun, data derivatif justru menunjukkan sikap semakin hati-hati.
Pasar derivatif memberikan wawasan tentang kepercayaan diri dan jumlah leverage trader. Open interest mengukur total nilai kontrak Futures aktif. Open interest yang naik menunjukkan trader sedang membangun posisi. Sebaliknya, open interest yang turun berarti trader menutup posisi dan mulai menjauh.
Pada pertengahan Januari, open interest Monero mencapai sekitar US$279 juta. Tapi hingga 10 Februari, nilainya turun ke sekitar US$110 juta. Ini artinya terjadi penurunan lebih dari 60%.
Penurunan sebesar ini menandakan leverage sedang keluar dari pasar. Trader cenderung mengurangi risiko dibanding bersiap-siap untuk reli besar.
Bersamaan dengan itu, funding rate tercatat masih positif walau tipis. Funding rate menunjukkan biaya yang harus dibayar trader untuk mempertahankan posisi Future. Kalau funding rate positif, trader posisi long lebih dominan. Sebaliknya, kalau negatif, trader posisi short yang mendominasi.
Funding XMR masih sedikit positif, artinya sebagian besar trader yang tersisa cenderung tetap bullish. Namun, tanpa open interest yang naik, kecenderungan ini kurang diyakini pasar.
Kombinasi ini lemah. Trader yang ikut makin sedikit, namun sentimen optimistis belum benar-benar pulih. Hal ini juga membatasi peluang terjadinya short squeeze. Sebuah short squeeze memerlukan posisi bearish yang besar. Tanpa tekanan tersebut, percepatan kenaikan harga sangat kecil kemungkinannya.
Dengan leverage yang terus menurun dan pembeli spot yang ragu-ragu, harga jadi kekurangan dorongan untuk pemulihan yang berkelanjutan.
Dengan sinyal teknikal, spot, dan derivatif yang sejalan, level penurunan kini jadi semakin penting.
Support utama pertama ada di kisaran US$314. Area ini sejalan dengan level terendah terakhir dan batas bawah bear flag. Jika harga turun tajam melewati area ini, kemungkinan besar akan mengonfirmasi penurunan lanjutan.
Jika US$314 jebol, potensi penurunan bisa cepat terjadi.
Zona permintaan utama berikutnya berada di sekitar US$150, menurut level utama Fibonacci retracement. Jika bergerak dari level sekarang ke sekitar US$150, penurunan ini bakal lebih dari 50%, sejalan dengan penurunan pertama sebelumnya.
Di bawah US$150, masih ada level lebih dalam seperti US$114 dan US$88. Namun US$150 jadi zona utama pertama di mana pembeli jangka panjang mungkin akan muncul kembali, karena makna psikologisnya yang kuat. Maka, level ini dijadikan acuan penurunan utama.
Untuk saat ini, Monero masih terjebak antara permintaan lemah dan tekanan jual yang terus-menerus. Bear flag menunjukkan konsolidasi, bukan pemulihan. Arus spot memperlihatkan aksi jual, bukan akumulasi. Open interest menandakan penurunan kepercayaan, bukan optimisme. Funding menunjukkan optimisme tanpa komitmen.
Untuk memperlemah dan membatalkan pola bearish, harga Monero harus menutup candle harian di atas US$350 dan US$532 secara berturut-turut.
