Harga XRP hari ini diperdagangkan di kisaran US$1,38, memperlihatkan tanda-tanda awal stabilisasi setelah berminggu-minggu mengalami pelemahan. Pada grafik, terbentuk pola rebound yang sudah familiar, serupa dengan pola di masa lalu yang pernah menghasilkan reli kuat. Tapi, data on-chain dan derivatif belum mengonfirmasi optimisme ini.
Tekanan beli turun tajam, holder jangka panjang mulai menarik diri, dan risiko leverage masih tinggi. Kondisi ini memunculkan perbedaan antara apa yang ditunjukkan grafik dan perilaku investor sesungguhnya.
Sejak akhir Januari, XRP membentuk struktur yang sebelumnya sering mendahului pemulihan besar.
Antara 31 Januari hingga 11 Februari, harga membentuk lower low sementara Relative Strength Index, atau RSI, justru membentuk higher low. RSI ini mengukur kekuatan beli dan jual. Saat harga melemah, tapi RSI membaik, itu menandakan tekanan jual mulai mereda dan momentum bisa saja berubah arah.
Pola serupa, juga pada grafik 12 jam, pernah muncul pada akhir Desember 2025.
Pada saat itu, XRP memperlihatkan divergensi yang sama sebelum kembali menembus Exponential Moving Average (EMA) 20-periode pada 2 Januari. Setelah tembus, harga reli lebih dari 28%. Sekarang strukturnya terlihat mirip lagi. EMA adalah indikator tren yang memberi bobot lebih pada harga terkini untuk menunjukkan momentum jangka pendek.
Ingin mendapatkan insight token seperti ini? Daftar Newsletter Harian Kripto pilihan Editor Harsh Notariya di sini.
Divergensi saat ini menunjukkan bahwa momentum penurunan mulai melemah. Jika XRP berhasil merebut kembali zona US$1,50 yang posisinya berdekatan dengan 20 EMA dan area resistance sebelumnya, maka ini bisa memicu minat beli yang lebih kuat.
Namun, data on-chain belum mendukung teori rebound ini. Setidaknya, untuk saat ini.
Metri on-chain menjelaskan kenapa sinyal rebound ini masih kesulitan.
Salah satu indikator penting adalah Exchange Net Position Change. Ini mengukur bagaimana total jumlah XRP yang tersimpan di exchange berubah selama 30 hari terakhir. Secara sederhana, ini menunjukkan apakah saldo di exchange naik atau turun tiap bulannya. Bila angkanya negatif besar, berarti saldo exchange menyusut dan biasanya terjadi akumulasi atau outflow.
Pada 8 Februari, XRP mencatat arus keluar (outflow) sekitar 107 juta token. Lalu pada 11 Februari, outflow turun jadi sekitar 16 juta token.
Itu penurunan tekanan beli sebesar 85%. Artinya, investor tidak lagi mengurangi saldo di exchange secepat sebelumnya. Permintaan melemah tajam, padahal grafik memperlihatkan setup bullish.
Pola yang sama juga muncul di Hodler Net Position Change, yaitu indikator yang melacak wallet yang menyimpan XRP lebih dari 155 hari.
Pada 1 Februari, holder jangka panjang masih menambah sekitar 337 juta XRP. Namun pada 11 Februari, angka akumulasi ini turun menjadi sekitar 128 juta XRP.
Ini berarti terjadi penurunan lebih dari 60%.
Secara sederhana, saldo exchange mulai naik, jelas dipimpin oleh penurunan akumulasi jangka panjang. Investor yang biasanya jadi penopang rebound kuat justru memilih berhati-hati. Tapi kenapa?
Pada pasar perpetual Binance XRP/USDT, data likuidasi menengah menunjukkan posisi short mendominasi. Dalam 30 hari ke depan, eksposur likuidasi dari sisi short mendekati US$148 juta, sedangkan eksposur dari sisi long sebesar US$83 juta.
Ini menandakan trader cenderung defensif dan bersiap menghadapi risiko penurunan. Holder jangka panjang sepertinya juga ikut mayoritas di sini.
Posisi jangka pendek memperlihatkan cerita yang berbeda.
Pada timeframe satu hari, kali ini di Gate, likuidasi long mendekati US$63,9 juta, sedangkan short sekitar US$51 juta. Ini berarti ada 30% lebih banyak posisi yang saat ini terekspos di sisi long. Jika harga XRP turun sedikit saja, karena pasar yang lemah dan penuh ketakutan, posisi long bisa saja terpaksa keluar dengan cepat, sehingga menyebabkan crash yang lebih dalam.
Holder jangka panjang menyadari risiko ini, karena likuidasi long sebelumnya sudah pernah memengaruhi optimisme pasar. Jadi, daripada mengejar rebound yang lemah, mereka memilih menunggu konfirmasi dan cenderung ambil posisi jangka menengah, terutama short. Inilah sebabnya tekanan beli di pasar spot belum kembali walaupun ada bullish divergence.
Karena optimisme teknikal bertabrakan dengan keyakinan pasar yang lemah, level harga jadi faktor yang paling penting saat ini. Level support utama ada di sekitar US$1,34.
Zona ini sejajar dengan klaster likuidasi long terbesar. Jika XRP ditutup di bawah US$1,34, kondisi ini bisa memicu penjualan paksa dan menggagalkan struktur rebound. Jika itu terjadi, harga berpotensi turun menuju US$1,12. Untuk sisi atas, US$1,50 tetap menjadi batas penting.
Level ini sejalan dengan EMA 20 dan menjadi resistance psikologis. Jika pergerakan harga menembus US$1,50 secara berkelanjutan, kepercayaan pasar bisa pulih dan pembeli jangka panjang pun akan kembali. Tanpa breakout di atas level ini, setiap rebound kemungkinan besar masih belum stabil.
Saat ini, XRP berada di antara momentum yang membaik dan keyakinan pasar yang melemah. Dari chart, tekanannya mulai mereda.
Dari data on-chain, permintaan belum muncul. Dan data derivatif menunjukkan risikonya masih tinggi. Sampai XRP mampu bertahan di atas US$1,34 dan merebut kembali US$1,50, skenario rebound tetap lemah.

