Cryptoharian – Platform X kini tengah bersiap fitur yang memungkinkan pengguna membeli dan menjual saham serta aset kripto langsung dari feed, tanpa harus keluar ke aplikasi lain. Rencana itu diungkapkan Nikita Bier, pimpinan pengembangan produk X, pada 14 Februari 2026, melanjutkan demo fitur serupa yang sempat diperlihatkan perusahaan pada Januari.
Skemanya dibuat sesederhana mungkin, yakni pengguna cukup mengetuk kode ticker yang muncul di linimasa. Misalnya BTC untuk Bitcoin atau Tesla. Setelah diklik, ticker akan membuka halaman berisi grafik harga terkini, percakapan yang relevan, serta opsi untuk melakukan transaksi.
Targetnya jelas, banyak pengguna X selama ini memulai aktivitas pemantauan pasar di feed, lalu berpindah ke aplikasi trading untuk mengeksekusi keputusan. X ingin memotong jeda itu, agar jarak antara melihat informasi dan mengambil tindakan menjadi makin singkat.
Di sisi lain, Bier juga menyinggung masalah yang selama ini kerap dikeluhkan pengguna, yaitu spam kripto dan promosi agresif yang merusak pengalaman berinteraksi.
“Kami memang ingin kripto berkembang di X, tapi model aplikasi yang mendorong orang untuk spam, raid dan mengganggu pengguna lain justru merusak platform. Karena itu, kami berencana memperketat aturan pengembang untuk menekan pola-pola promosi seperti skema ‘claim your fees’,” ungkap Bier.
Rencana trading ini bukan langkah berdiri sendiri. X sedang membangun lini layanan finansial yang lebih besar. Perusahaan disebut telah mengantongi lisensi money transmitter di lebih dari 40 negara bagian AS, menggandeng Visa untuk pemrosesan pembayaran, dan menguji dompet digital X Money untuk karyawan internal.
Dalam presentasi terkait xAI, Elon Musk mengatakan uji coba X Money untuk kelompok kecil pengguna eksternal bisa dimulai dalam satu hingga dua bulan mendatang, sementara peluncuran penuh ditargetkan berlangsung di 2026.
Baca Juga: Mengapa Perusahaan Michael Saylor Bisa Terus Untung Tanpa Jual BTC?
Musk menggambarkan dompet itu sebagai ‘pusat semua transaksi uang’, sejalan dengan ambisinya menjadikan X sebagai everything app ala ‘WeChat’, dengan menggabungkan media sosial, pembayaran dan layanan lain dalam satu ekosistem.
Namun, memasukkan instrumen trading ke dalam media sosial juga membawa konsekuensi besar. X perlu berhadapan dengan aturan ketat perdagangan saham di Amerika, serta lanskap regulasi kripto lintas negara yang tidak seragam.
Di saat yang sama, platform tersebut juga harus menyiapkan pengawasan untuk mencegah misinformasi yang dapat memicu volatilitas harga, atau koordinasi massa yang mendorong pump pada aset tertentu.
Bier juga memberi sinyal adanya ketegangan lama dengan sebagian pengembang pihak ketiga. Sejumlah pihak pernah mengeluh akses API dan aturan platform berubah-ubah atau membatasi proyek kripto tertentu, sementara X mengembangkan fitur internal yang berpotensi bersaing.
“Posisi X adalah mendorong interaksi yang asli, dan kami akan menekan perilaku yang sekedar mengejar insentif,” ujarnya.
Jika nantinya platform trading ini benar-benar diluncurkan secara luas, X akan masuk ke arena yang sudah padat pemain, dari Coinbase di sisi kripto hingga Robinhood untuk investor ritel yang lebih kasual. Pada akhirnya, keberhasilan langkah ini akan sangat ditentukan oleh tiga hal, yakni pengalaman pengguna yang mulus, keamanan yang kuat, dan kepercayaan publik. Pasalnya, begitu uang banyak masuk ke dalam feed, kesalahan kecil bisa berubah menjadi krisis besar.

