Cryptoharian – Bitcoin (BTC) kembali ke level psikologis US$ 70.000 setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan meredakan kekhawatiran pasar dan memicu kenaikan selera resiko. Pada saat penulisan, BTC diperdagangkan di sekitar US$ 69.725, naik 1,24 persen dari titik terendah 24 jam terakhir.
Pemulihan ini terjadi tak lama setelah rilis Consumer Price Index (CPI) Januari, yang tercatat naik 2,4 persen secara tahunan, sedikit di bawah proyeksi 2,5 persen dan disebut sebagai level terendah dalam lebih dari empat tahun.
Dari sisi bulanan, CPI naik 0,2 persen juga lebih rendah dari ekspektasi 0,3 persen. Sementara itu, core CPI naik 2,5 persen YoY, sesuai perkiraan dan menjadi yang terendah sejak 2021. Kombinasi angka tersebut memperkuat persepsi bahwa inflasi mulai kembali mendekati target 2 persen The Fed, dan itu membuka ruang spekulasi bahwa pelonggaran kebijakan bisa datang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Rspon pasar terlihat cepat di instrumen yang sensitif terhadap suku bunga. Di Kalshi, peluang pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada April naik menjadi 26 persen dari 19 persen pada awal pekan. Di Polymarket, probabilitasnya bergerak dari 13 persen menjadi 20 persen setelah CPI dirilis.
Secara umum, ekspektasi suku bunga lebih rendah cenderung menguntungkan aset beresiko karena imbal hasil instrumen ‘aman’ menjadi kurang menarik.
Meski Bitcoin kembali ke area US$ 70.000, indikator psikologi pasar belum ikut pulih, Crypto Fear and Greed Index masih bertahan di zona ‘extrem fear’ sejak awal bulan, level yang mengingatkan pada fase bear market 2022 dan periode runtuhnya FTX.
Di tengah kondisi itu, beberapa suara di pasar kembali mengangkat narasi fundamental dan struktur jangka panjang. Robert Kiyosaki menekankan kembali berargumen kelangkaan Bitcoin, suplai yang dibatasi 21 juta, sebagai fondasi bullish jangka panjang.
Baca Juga: Investor Wajib Hati-Hati Scam Kripto di Hari Valentine
Sementara itu, analis Manpreet Kailon menyoroti adanya garis tren jangka panjang yang ia sebut sebagai ‘final boss’ Bitcoin karena historisnya kerap membatasi puncak siklus sejak 2017. Ia juga mengingatkan 200-week simple moving average tetap menjadi area dukungan penting, yakni penutupan mingguan di bawah level itu bisa mengubah cara pasar membaca struktur besar Bitcoin.
Pada jangka pendek, fokus pasar mengarah ke apakah pemulihan ini akan berkembang menjadi breakout atau hanya sekadar pantulan sebelum koreksi lanjutan. Sejumlah pengamatan menyebut BTC sudah kembali menguji area tekanan setelah menembus US$ 69.000.
Jika Bitcoin mampu mempertahankan kembali zona US$ 70.000 – US$ 72.000, itu juga berarti harga kembali berada di atas rata-rata harga beli milik Strategy (MicroStrategy) yang dipimpin Michael Saylor, yang dilaporkan memegang lebih dari 713.502 BTC.
Kendati demikian, jika harga gagal menembus lebih tinggi, skenario pullback ke area US$ 64.000 – US$ 66.000 kembali masuk perhitungan, terutama bila reli kali ini kehabisan tenaga di dekat resisten. Di sisi lain, analis dengan nama Trader Tardigrade menilai struktur dua mingguan Bitcoin masih menunjukkan pola yang berulang, kombinasi ‘bear flag’ diikuti kurva pemulihan, yang pada siklus sebelumnya berujung kenaikan lebih jauh.
Dalam pembacaan tersebut, penembusan US$ 72.000 berpotensi membuka jalan menuju US$ 80.000, terutama jika pola yang ia sebut Adam and Eve benar-benar terkonfirmasi.


