Perusahaan modal privat Blue Owl Capital, yang mengelola aset lebih dari US$307 miliar, telah secara permanen menghentikan penarikan dana investor pada dana utang privat yang berfokus pada ritel.
Keputusan penghentian ini pun memicu kekhawatiran di kalangan ekonom. Selain itu, muncul pertanyaan penting tentang apakah pasar kredit privat bisa berdampak pada pasar aset kripto yang lebih luas.
Menurut Bloomberg, perusahaan kredit privat ini mengalami peningkatan permintaan penarikan dana dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini sebagian dipicu oleh kekhawatiran investor terkait eksposur mereka pada perusahaan software di tengah lonjakan artificial intelligence.
FT mencatat bahwa Blue Owl Capital Corp II (OBDC II) sudah menutup penarikan dana sejak November. Sebelumnya, perusahaan sempat mengindikasikan akan membuka kembali penarikan di kuartal ini, tetapi kini telah membatalkan rencana tersebut.
Pada awal pekan ini, perusahaan mengumumkan bahwa penarikan dana secara kuartalan tidak lagi tersedia bagi investor OBDC II. Sebagai gantinya, perusahaan berencana membagikan uang tunai lewat pembayaran berkala yang terkait dengan penjualan aset.
Menurut Packer, pembayaran untuk para holder dana tersebut diperkirakan sekitar 30% dari nilai dana itu, naik dari batas sebelumnya yang hanya 5%.
Blue Owl juga telah menjual sekitar US$1,4 miliar dari aset di tiga dana kredit mereka. Bloomberg mengungkapkan bahwa perusahaan asuransi Kuvare yang berbasis di Chicago, California Public Employees’ Retirement System, Ontario Municipal Employees Retirement System, dan British Columbia Investment Management Corp. membeli utang tersebut, menurut sumber yang mengetahui transaksi ini. Blue Owl menambahkan bahwa pinjaman tersebut dijual pada 99,7% dari nilai nominalnya.
Analis pasar Crypto Rover menilai bahwa pembekuan penarikan oleh Blue Owl mencerminkan tekanan yang makin meningkat di sektor kredit privat senilai US$3 triliun. Ia pun menjabarkan beberapa tanda peringatan.
Pertama, sekitar 40% perusahaan pinjaman langsung kini melaporkan arus kas operasional bebas negatif. Tingkat gagal bayar di antara peminjam pasar menengah telah naik menjadi 4,55% dan terus meningkat.
Menariknya, 30% perusahaan dengan utang jatuh tempo sebelum 2027 menunjukkan EBITDA negatif, sehingga membuat proses refinancing makin sulit. Sementara itu, penurunan peringkat kredit melampaui kenaikan peringkat selama tujuh kuartal berturut-turut.
Ekonom Mohamed A. El-Erian mempertanyakan apakah kondisi seperti ini bisa menjadi sinyal peringatan awal, mirip dengan yang pernah terjadi pada 2007 sebelum krisis keuangan global 2008.
Tekanan di pasar kredit privat tidak serta merta menimbulkan efek langsung bagi aset kripto, namun keterkaitan tidak langsungnya patut diperhatikan. Analisis terbaru dari BeInCrypto menunjukkan bahwa Bitcoin sangat berkorelasi dengan saham software di AS.
Sebagian besar kredit privat dialirkan ke perusahaan software, sehingga pasar-pasar ini terhubung melalui pertumbuhan dan risiko yang serupa. Jika persyaratan pinjaman diperketat atau risiko refinancing meningkat, valuasi sektor software bisa tertekan.
Peningkatan gagal bayar, meluasnya selisih kredit, dan akses modal yang makin terbatas kemungkinan besar akan membebani saham-saham pertumbuhan. Mengingat korelasi Bitcoin dengan saham-saham berpertumbuhan tinggi di masa pengetatan kebijakan, lemahnya sektor software yang berkepanjangan dapat berdampak ke pasar aset kripto.
Meskipun demikian, ini hanyalah efek ekonomi makro tingkat kedua dan bukan eksposur struktural langsung. Variabel utamanya adalah respons keuangan secara luas. Jika tekanan ini menyebabkan kondisi keuangan makin ketat, Bitcoin berpeluang turun bersama saham teknologi.
Namun, bila tekanan ini justru memicu pelonggaran moneter atau dukungan likuiditas baru, aset kripto pada akhirnya bisa mendapat keuntungan. Saat ini, risikonya lebih bersifat siklus dan didorong oleh likuiditas, bukan risiko sistemik bagi aset digital itu sendiri.


