Cryptoharian – Ethereum (ETH) akhirnya mencapai salah satu tujuan utamanya, yakni transaksi menjadi jauh lebih murah. Namun di saat aktivitas jaringan dan penggunaan stablecoin melonjak, sejumlah peneliti memperingatkan bahwa biaya rendah juga membuat jenis serangan tertentu menjadi lebih mudah diskalakan, dan kerugiannya mulai terlihat.
Kepala riset Lis, Leon Waidmann menyoroti lonjakan aktivitas jaringan dalam unggahan di platform X pada Rabu (18/2/2026). Ia mencatat volume stablecoin mencapai US$ 7,5 triliun dalam satu kuartal, sementara biaya transaksi bertahan di bawah US$ 1.
Bagi Waidmann, kombinasi ‘penggunaan memecahkan rekor’ dan ‘biaya termurah’ sekaligus menciptakan anomali besar, fundamental jaringan menguat, namun harga asetnya belum mencerminkan hal itu secara sepadan.
Namun, perhatian pasar bergeser ketika riset terpisah menunjukkan sisi gelap dari biaya yang makin murah. Peneliti blockchain Andey Sergeenkov melaporkan lonjakan serangan address poisoning setelah upgrade Fusaka pada Desember lalu, yang disebut memangkas biaya gas hingga enam kali lipat.
Ketika biaya transaksi turun, spam menjadi murah, dan serangan yang bergantung pada volume transaksi masif menjadi lebih layak secara ekonomi.
Address poisoing bekerja dengan cara yang sederhana tetapi efektif, yakni penyerang mengirim transfer bernilai kecil (dust) dari alamat yang mirip dengan alamat kontak asli korban. Jika korban menyalin alamat yang salah dari riwayat transaksi, dana bisa terkirim ke penyerang.
Sergeenkov menggambarkannya sebagai pendekatan ‘lotre’, dengan cara kirim jutaan transaksi murah, berharap sebagian kecil korban melakukan kesalahan yang menghasilkan pembayaran besar.
Baca Juga: Darkfost: 83 Persen Altcoin di Binance Masuk Tren Bear Akibat Krisis Likuiditas
Menurut analisis Sergeenkov terhadap 101 token dalam periode 1 September 2025 hingga 13 Februari 2026, sebelum Fusaka para penyerang mengirim sekitar 30.000 transaksi dust per hari. Setelah upgrade, angka itu naik tajam menjadi sekitar 167.000 per hari, bahkan sempat mencapai puncak sekitar 510.000 transaksi dalam satu hari pada Januari.
Dampaknya tidak hanya terlihat pada statistik transaksi. Dalam kurun sedikit lebih dari dua bulan setelah Fusaka, Sergeenkov memperkirakan korban kehilangan lebih dari US$ 63 juta, sekitar 13 kali dibanding kerugian US$ 4,9 juta pada periode sebelumnya yang sebanding.
Ia menyoroti bahwa satu transaksi besar menyumbang porsi dominan dari kerugian itu, kasus pencurian US$ 50 juta USDT pada 19 Desember 2025. Namun bahkan jika kejadian terbesar itu dikeluarkan dari perhitungan, total kerugian pasca-Fusaka masih sekitar US$ 13,3 juta, atau 2,7 kali lebih tinggi dibanding sebelum upgrade.
Sergeenkov menegaskan bahwa menurunkan biaya transaksi bukanlah kesalahan, namun efek samping keamanan dari transaksi murah seharusnya diantisipasi lebih dulu. Dalam komentarnya, ia menyiratkan bahwa ketika Ethereum Foundation berbicara soal membangun keamanan untuk skala ‘triliunan dolar’, keselamatan pengguna seharusnya menjadi prioritas yang setara, bukan sekedar mengejar metrik pertumbuhan jaringan.


