Tekanan di pasar kredit Amerika Serikat semakin meningkat dengan Indeks Business Development Companies AS (MVBDC) jatuh ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Analis memperingatkan bahwa tekanan yang semakin besar di pasar kredit privat bisa memicu aksi jual yang lebih luas, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi aset berisiko seperti saham dan aset kripto. Meski begitu, seorang pakar mencoba membela konsep “kredit digital,” dengan menjadikan saham abadi STRC milik MicroStrategy sebagai contoh kasus.
Dalam unggahan terbaru di X (sebelumnya Twitter), The Kobeissi Letter menyampaikan bahwa indeks tersebut telah turun ke 424 poin. Ini adalah level terendah sejak masa terburuk bear market tahun 2022. Selama setahun terakhir, indeks ini sudah anjlok 150 poin, atau turun 25%.
The Kobeissi Letter juga menambahkan bahwa penurunan ini terjadi bersamaan dengan beberapa perkembangan besar di pasar kredit privat. Pekan lalu, Blue Owl Capital secara permanen menghentikan penebusan investor di dana kredit privat ritel mereka, Blue Owl Capital Corp II (OBDC II).
Pengumuman tersebut mengguncang pasar keuangan, menyebabkan saham Blue Owl anjlok 10% pada hari berikutnya dan memicu aksi jual yang lebih luas di saham-saham kredit privat.
Unggahan itu juga menyebut bahwa saham Blue Owl telah jatuh hampir 60% selama 13 bulan terakhir, meskipun pendapatan mereka bertumbuh. Sementara itu, perusahaan besar lain seperti Ares, Apollo, KKR, Blackstone, dan TPG juga anjlok 15% hingga 40% sejak awal tahun ini.
Hal ini terjadi saat kekhawatiran terkait kecerdasan buatan mulai merembet ke pasar kredit privat. Pada awal Februari, UBS Group AG memperingatkan bahwa tingkat gagal bayar di kredit privat bisa naik menjadi 13% jika terjadi skenario “disrupsi” akibat AI yang cukup agresif.
Para ahli strategi bank, termasuk Sachin Ganesh, menilai kelas aset ini sepertinya lebih rentan terhadap risiko terkait AI dibanding pinjaman leverage atau obligasi imbal hasil tinggi. UBS juga memperkirakan sekitar 35% dari pasar kredit privat senilai US$1,7 triliun berpotensi terdampak risiko disrupsi AI.
Walau begitu, perkembangan terakhir justru semakin memperburuk prospek ke depan. Minggu ini, para analis memperbarui skenario terburuk mereka, dengan menyebut bahwa gagal bayar kredit privat bisa mencapai 15%, naik 2 poin persentase dari perkiraan mereka di awal Februari.
Harga Bitcoin mengikuti pergerakan saham-saham perangkat lunak AS. Dinamika ini berarti tekanan di kredit privat, terutama yang terkait pinjaman untuk perusahaan perangkat lunak, bisa berdampak ke pasar aset digital.
Selain itu, para ahli juga memperkirakan tekanan di pasar kredit privat bisa memicu penurunan pasar yang jauh lebih besar.
Aset kripto, termasuk Bitcoin, biasanya berkinerja baik dalam kondisi likuiditas yang melimpah dan toleransi risiko investor yang kuat. Jika kondisi kredit memburuk, hal ini bisa terpengaruh. Ketika modal mulai bersifat defensif dan biaya dana naik, investor bisa saja melakukan pengurangan paparan pada aset berisiko tinggi, termasuk token digital.
Selain itu, tekanan di kredit privat juga bisa memperbesar volatilitas apabila sampai memicu forced deleveraging di kalangan investor institusi yang punya paparan lintas aset. Dalam situasi seperti ini, pasar aset digital memang tidak langsung terdampak gagal bayar kredit privat. Tapi, mereka tetap bisa merasakan efek sampingnya melalui likuiditas yang makin ketat, pasar saham yang melemah, dan menurunnya kepercayaan investor.
Meskipun begitu, beberapa analis tetap optimistis. Adam Livingston, edukator dan kreator konten Bitcoin, menilai bahwa Bitcoin dan kredit digital bisa “menghancurkan pasar kredit privat.”
Ia membandingkan FSK, salah satu BDC terbesar yang sering dijadikan acuan untuk kredit privat, dengan STRC, saham abadi preferen MicroStrategy yang dijuluki “Stretch.”
FSK turun sekitar 45% selama setahun terakhir dan diperdagangkan jauh di bawah nilai aset bersih (NAV) yang dilaporkan senilai US$21,99. Livingston menyebut ini terjadi akibat semakin banyak pinjaman macet, meningkatnya tekanan kredit, dan skeptisisme pasar terhadap valuasi yang dibuat oleh manajer perusahaan.
Sebaliknya, STRC diperdagangkan mendekati nilai pari US$100 dan menghasilkan total return belasan persen dalam periode yang sama, meskipun terjadi penurunan 50% harga Bitcoin. Menurut Livingston, perbedaannya terletak pada strukturnya.
Kredit privat mengandalkan penilaian yang jarang, likuiditas terbatas, dan kepercayaan investor. STRC, terang dia, menawarkan penemuan harga secara terus-menerus, keterbukaan melalui pengungkapan SEC, penyesuaian dividen bulanan yang dirancang supaya harga tetap mendekati nilai pari, serta neraca yang jelas didukung kas senilai US$2,25 miliar dan lebih dari 713.000 BTC.
Meski begitu, perlu dicatat bahwa meskipun argumennya menarik, kredit privat dan kredit digital berjalan dengan mesin risiko yang benar-benar berbeda: satu terikat pada arus kas peminjam dan siklus ekonomi, sementara yang lain bergantung pada volatilitas harga Bitcoin serta strategi treasury.
Bukannya menggantikan kredit privat, kredit digital mungkin malah menawarkan struktur alternatif yang menarik bagi investor yang mengutamakan likuiditas dan transparansi.

