Cryptoharian – Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan menilai pasar kripto sedang mengalami jurang besar antara persepsi dan realitas. Berdasarkan apa yang dia sampaikan baru-baru ini, banyak investor, bahkan termasuk pelaku kripto, salah menilai apa yang sebenarnya terjadi karena bias perilaku, terutama anchoring bias yakni kecenderungan terpaku pada informasi atau narasi awal dan sulit menyesuaikan pandangan ketika bukti baru muncul.
Hougan mengatakan bias ini membuat investor terus memakai ‘kacamata lama’ saat menilai kripto. Akibatnya, perubahan besar yang sedang terjadi terlihat seperti kebisingan biasa. Ia mengaitkan fenomena ini dengan pengalamannya sendiri saat pertama kali masuk kripto pada 2918, ketika persepsi umum sering menutupi sinyal struktural yang lebih penting.
“Wall Street sedang bergerak on-chain. Contohnya peluncuran “Project Crypto” oleh Paul Atkins, inisiatif yang disebut bertujuan memodernisasi regulasi sekuritas agar pasar AS dapat beroperasi di atas infrastruktur on-chain,” ungkap Hougan dalam memo terbarunya.
Dalam hal ini, ia mengutip pernyataan Larry Fink yang menilai industri keuangan memasuki fase awal tokenisasi aset dalam skala luas.
Hougan mengaitkan narasi itu dengan langkah-langkah institusi besar. Ia menyebutkan BlackRock yang memperluas pendekatan tokenisasi lewat produk Treasury tokenized BUIDL, serta langkah-langkah tokenisasi dari pemain manajemen aset lain.
Selain itu, dirinya juga menyoroti bagaimana bank-bank besar mulai serius membangun infrastruktur stablecoin, termasuk diskusi soal stablecoin bersama oleh sejumlah bank raksasa, dan inisiatif token deposit yang digulirkan oleh JPMorgan di jaringan Base.
“Bahkan, perusahaan sekuritas besar seperti Fidelity mulai merekrut posisi yang spesifik untuk kebutuhan DeFi,” kata Hougan.
Namun di titik inilah Hougan melihat masalah utama: banyak investor tradisional tidak benar-benar “mencatat” perubahan ini, sementara investor kripto sendiri cenderung lelah karena narasi institusi masuk sudah terlalu sering diulang.
Baca Juga: Solo Mining Kembali ‘Jackpot’, Peluangnya Disebut Setara 21 Tahun Menambang
Hougan menilai kelelahan itu membuat orang menganggap berita-berita tokenisasi sebagai promosi yang basi, padahal data menunjukkan aktivitas on-chain institusional sedang berkembang nyata.
“Pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah tokenisasi akan terjadi, melainkan ke mana nilai ekonominya mengalir,” paparnya.
Tokenisasi RWA, lanjutnya, telah tumbuh tajam dari 2020 hingga 2025, tetapi jalur monetisasinya masih terbuka. Nilai bisa mengalir ke berbagai tempat, yakni jaringan Layer-1 publik seperti Ethereum dan Solana, blockchain semi-private seperti Canton Network atau Tempo, token DeFi, perusahaan infrastruktur kripto, atau justru kembali ke incumbent besar seperti BlackRock dan JPMorgan yang memindahkan produk mereka ke rel baru tanpa harus ‘menyerahkan’ margin ke token publik.
“Peluang alpha terbesar muncul ketika konsensus narasi sudah basi, tetapi realitas sudah berubah, dan investor masih terjebak pada cerita lama,” tulis Hougan.
Ia menyimpulkan kondisi pasar kripto saat ini berada tepat di titik itu, banyak orang masih memperdebatkan pertanyaan lama, padahal perubahan struktural sedang berjalan.
Nada serupa juga datang dari Presto Research, yang memproyeksikan tokenisasi akan menjadi pendorong utama fase institusional kripto berikutnay. Dalam outlook 2026, Presto memperkirakan nilai gabungan RWA tokenized dan stablecoin dapat mendekati US$ 490 miliar pada akhir 2026, dengan pertumbuhan yang terutama didorong oleh permintaan terhadap US Treasury bills dan instrumen kredit yang ditokenisasi.

