Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa sekitar US$4 triliun untuk total nilai pasar pada Oktober, pasar aset kripto kini mengalami salah satu koreksi terkuat dalam beberapa tahun terakhir.
Bitcoin, yang sempat menembus hampir US$126.000 selama reli, sejak itu sudah terkoreksi ke kisaran rendah US$60.000. Miliaran dolar posisi leverage pun terlikuidasi, open interest turun tajam dari level tertingginya di akhir tahun, dan likuiditas di berbagai exchange juga menipis. Aliran dana ETF kini menjadi negatif, sehingga menegaskan fase pelepasan risiko institusi secara lebih luas.
Kecepatan koreksi ini pun memunculkan pertanyaan lama: ketika volatilitas melonjak dan likuiditas menyusut, bagaimana sebenarnya institusi merespons situasi seperti ini?
Bagi Sheldon Hunt, pullback kali ini memberikan cerita berbeda dari yang muncul di media. Sebagai founder sekaligus CEO Sundial, protokol layer-2 Bitcoin yang membidik partisipasi institusi, ia melihat institusi lebih memilih menyederhanakan eksposur mereka dibanding benar-benar keluar dari pasar.
Kembali ke dasar, terang Hunt, terbaik dipahami sebagai langkah mencari aset berkualitas.
Saat volatilitas melonjak, institusi cenderung mengurangi eksposurnya ke aplikasi yang kompleks atau berisiko tinggi. Bukannya mengejar strategi baru, mereka justru mempersempit fokus.
Selain perubahan alokasi, Hunt juga mengamati perilaku on-chain untuk mencari tanda-tanda stres sejak dini.
Di masa volatilitas tinggi, ia mengamati aset bergerak keluar dari exchange dan platform DeFi, lalu terkonsolidasi ke lebih sedikit wallet. Pergerakan itu, menurutnya, menunjukkan sikap kehati-hatian, bukan kapitulasi.
Hunt tidak melihat pergeseran saat ini hanya sebagai jeda singkat. Menurut analisisnya, pasar saat ini sedang mengalami tekanan likuiditas yang nyata.
Ia menunjukkan volatilitas di pasar yang lebih luas dan kondisi keuangan yang makin ketat sebagai faktor yang memperkuat kehati-hatian itu. Bagi modal institusi, situasi tersebut mengubah ritme dalam pengambilan keputusan.
Hunt meyakini para pengelola dana besar kemungkinan akan bertindak lebih hati-hati di bawah tekanan likuiditas seperti sekarang.
Jika tren penurunan berlangsung lama, waktu bukanlah hal terpenting, melainkan ketahanan. Para pengelola dana akan fokus menahan eksposur tanpa menambah faktor rentan baru. Ia menggambarkan fase saat ini sebagai “meminimalkan risiko dan siap bertahan dalam jangka panjang.”
Cara pandang ini juga mempengaruhi cara institusi menyikapi imbal hasil Bitcoin.
Hunt menuturkan salah satu anggapan yang paling keliru adalah mengira institusi selalu fokus mengejar untung sebesar-besarnya. Ia menegaskan, pada praktiknya, anggapan itu tidak sesuai dengan bagaimana pengelola profesional bertindak.
Menurut Hunt, para pengelola portofolio profesional kecil kemungkinan akan mengejar imbal hasil 20% atau 30% dari Bitcoin mereka jika hasil itu harus datang dari produk kompleks atau struktur mitra yang tak jelas.
Secara praktis, ini memengaruhi cara produk dievaluasi. Besaran imbal hasil saja bukan penentu utama. Skema kustodi, skenario penyelesaian (settlement), serta risiko penurunan nilai biasanya punya bobot lebih besar dalam proses peninjauan internal.
Meski pembicaraan soal keuangan berbasis Bitcoin makin ramai, Hunt menilai, realisasinya di tingkat institusi masih sangat terbatas.
Bagian besar BTC masih berada di kustodi jangka panjang. Bagi Hunt, ini menandakan bahwa lapisan infrastruktur masih dalam tahap pengembangan, bukan jenuh.
Lambatnya partisipasi institusi, menurut dia, lebih mencerminkan cara mereka menilai risiko. Sebelum modal masuk ke lingkungan yield terstruktur, pertanyaan soal kontrol kustodi, jaminan settlement, dan konsentrasi eksposur harus sudah terjawab dengan cara yang sesuai mandat eksisting.
Melihat ke siklus berikutnya, Hunt memprediksi arsitektur akan jauh lebih penting ketimbang fitur di permukaan.
Menurutnya, institusi ingin kejelasan siapa pengendali aset di setiap tahap proses. Artinya secara praktik, mereka ingin tetap punya kendali penuh atas settlement dan kustodi. Industri kripto memang sudah lama mengusung prinsip “jadilah bank untuk diri sendiri”. Untuk institusi, prinsip itu muncul bukan hanya sebagai ideologi tapi juga berbentuk arsitektur tata kelola. Fase adopsi berikutnya akan sangat tergantung apakah arsitektur tersebut bisa menjawab kerangka penilaian risiko tradisional.
Catatan Editor: BeInCrypto adalah mitra media resmi Liquidity Summit 2026, tempat percakapan ini berlangsung. Nantikan wawancara eksklusif lainnya bersama para pemimpin industri dari acara tersebut.

