KOTA BAGUIO — Menjelang siang hari Sabtu, Baguio sudah ramai dengan aktivitas. Gendang bergema di seluruh Kawasan Bisnis Pusat sementara para penari bergerak berdampingan di bawah jalan-jalan yang dipenuhi pohon pinus, dengan penonton bersandar di pagar dan memenuhi trotoar berlapis tiga.
Mereka berkumpul bukan hanya untuk menonton parade, tetapi untuk menyaksikan sebuah kisah yang terungkap dalam gerakan.
Pada pukul 10 pagi, Kantor Kepolisian Kota Baguio memperkirakan sekitar 40.300 penonton berbaris di sepanjang rute Grand Street Dance Parade dari South Drive melalui Session Road dan Harrison Road hingga Burnham Park. Jumlah pengunjung ini mencerminkan bagaimana Panagbenga, yang kini memasuki tahun ke-30, tetap sangat personal bagi kota yang menciptakannya.
Jauh sebelum kostum dan koreografi, Panagbenga dimulai sebagai pemulihan.
Ada Baguio sebelum Panagbenga, dikenang karena keteraturan, disiplin, dan ketenangan pegunungannya yang sejuk. Dikenal secara nasional sebagai Ibu Kota Musim Panas Filipina dan Hall of Famer dalam Program Bersih dan Hijau Nasional, kota ini berkembang pesat dengan kehidupan komunitasnya. Keluarga mendayung perahu di Burnham Park, parade warga berbaris di sepanjang Session Road, dan marching band sekolah menghidupkan perayaan publik.
Namun, di balik citra formal itu, hidup denyut nadi Cordillera yang lebih dalam. Tradisi Ibaloi dan Kankanaey dalam menenun, ritual, tari, musik, dan bercerita secara diam-diam membentuk fondasi budaya kota. Baguio tidak pernah sekadar tempat peristirahatan pegunungan; kota ini sudah menjadi komunitas yang berakar pada budaya hidup.
KENANGAN. Para penampil menggambarkan era gempa bumi 1990 selama presentasi Panagbenga Eras, menghormati ketangguhan Baguio di Parade Tari Jalanan Panagbenga ke-30. Foto oleh Mia Magdalena Fokno
Segalanya berubah pada 16 Juli 1990, ketika gempa bumi berkekuatan 7,7 melanda Luzon Utara, menjadikan Baguio sebagai salah satu kota yang paling parah terdampak.
Bangunan runtuh, jalan retak, dan landmark yang familiar menghilang dalam semalam, menjerumuskan kota ke dalam hari-hari yang ditandai debu, ketidakpastian, dan kesedihan.
Yang bertahan adalah rakyatnya. Tetangga menyelamatkan orang asing, komunitas berbagi makanan dan tempat tinggal, dan pembangunan kembali menjadi pekerjaan kolektif, lambat dan sulit, tetapi bersama-sama.
Lima tahun kemudian, ketangguhan menemukan ekspresi dalam sesuatu yang tak terduga: bunga.
Dipimpin oleh almarhum Atty. Damaso Bangaoet Jr. melalui Baguio Flower Festival Foundation Inc., kota ini meluncurkan festival yang bertujuan memulihkan harapan sekaligus menghidupkan kembali pariwisata dan mata pencaharian lokal. Festival itu disebut Panagbenga, sebuah kata Kankanaey yang berarti "musim mekar."
Apa yang dimulai sebagai penyembuhan segera berkembang menjadi identitas. Jalan-jalan yang pernah ditandai bencana kembali dipenuhi musik dan tarian, sementara kendaraan hias bunga menjadi simbol pembaruan. Setiap tahun, komunitas kembali bukan hanya untuk merayakan, tetapi untuk mengingat seberapa jauh mereka telah berkembang.
Grand Street Dance Parade tahun ini menempatkan sejarah tersebut di pusat melalui The Eras of Panagbenga, sebuah presentasi tematik yang menelusuri perjalanan Baguio dari kehidupan pra-gempa hingga pemulihan dan pengakuan global.
Para penampil dari University of Baguio, University of the Philippines Baguio, Saint Louis University, dan Program Khusus Seni Baguio City National High School mengubah rute parade menjadi garis waktu yang bergerak, memadukan tari, teater, dan musik untuk menceritakan kembali masa lalu kota.
Presentasi ini mencapai puncaknya dengan penunjukan Baguio pada tahun 2017 sebagai UNESCO Creative City of Crafts and Folk Art, pengakuan bahwa kreativitas yang dipupuk di dataran tinggi membawa makna jauh melampaui batasnya.
BUDAYA. Penduduk lokal dan turis berbaris di Session Road untuk menonton dan mendukung Grand Street Dance Parade Panagbenga di Kota Baguio. Foto oleh Mia Magdalena Fokno
Kontingen dari seluruh Luzon Utara menambahkan narasi mereka sendiri ke perayaan, mempersembahkan ritual panen dari Ifugao, tradisi pertanian dari Pangasinan dan Nueva Ecija, serta tarian adat dari komunitas Ilocos dan La Union.
Setiap penampilan menggema kehidupan sehari-hari — bertani, berkabung, bersyukur, bertahan hidup, dan persatuan — mengubah rute parade menjadi tempat bersama di mana budaya bertemu bukan hanya dalam kompetisi, tetapi juga dalam pengakuan.
Menteri Departemen Pekerjaan Umum dan Jalan Raya Vince Dizon, yang menghadiri Panagbenga untuk pertama kalinya sebagai tamu kehormatan, mengingatkan para pengunjung festival bahwa perayaan membawa tanggung jawab sipil.
"Habang tayo ay nagdiriwang at nagbubloom ang mga bulaklak dito sa Baguio City," katanya, "Huwag nating kakalimutan ang ating civic responsibility na bantayan ang ating gobyerno at ang paggastos ng pera ng bayan."
(Saat kita merayakan dan bunga-bunga mekar di sini di Kota Baguio, janganlah kita lupa tanggung jawab sipil kita untuk mengawasi pemerintah kita dan bagaimana dana publik dibelanjakan.)
Tiga puluh tahun setelah didirikan, Panagbenga telah tumbuh melampaui pariwisata atau tontonan. Festival ini telah menjadi kenangan yang terlihat. Keberanian bertahan yang ditampilkan di depan umum, tahun demi tahun.
Dari reruntuhan tahun 1990 hingga pengakuan internasional saat ini, Baguio berdiri sebagai bukti bahwa pemulihan dapat menjadi budaya, dan budaya dapat bertahan.
Satu kota. Satu semangat. Masih mekar untuk rakyatnya, untuk negara, dan untuk dunia. – Rappler.com


